"Pelemahan rupiah memang lebih dalam ketimbang mata uang regional lainnya karena nilai tukar rupiah sedang dalam transisi menuju keseimbangan barunya sesuai dengan kondisi fundamental yaitu defisit transaksi berjalan yang memburuk," kata Hartadi di Jakarta, Senin.
Menurutnya, pelemahan rupiah ini sejalan dengan "regional currency" lainnya, yang disebabkan karena belum selesainya masalah Eropa juga terdapat negatif sentimen perkembangan situasi di China yang tidak sesuai harapan pasar.
"Namun saya perkirakan penyesuaian nilai tukar ini berlangsung secara normal atau 'orderly adjustment' dan temporer karena akan segera kembali membaik sejalan dengan prediksi defisit transaksi berjalan yang kembali menurun ke tingkat yang manageable," katanya.
Menurutnya, dengan pelemahan ini, nilai tukar rupiah sedang dalam transisi ke keseimbangan barunya yang tentunya dapat mendorong ekspor dan mencegah impor yang terlalu besar.
Pengamat ekonomi A Tony Prasetyantono mengatakan, rupiah memang sebaiknya melemah hingga akhir tahun ini mengingat kondisi defisit transaksi berjalan yang sudah mengkhawatirkan.
"Rupiah lebih baik melemah daripada menguat, posisinya bagus jika dijaga di Rp9.600 - Rp9.700 per dolar AS. Ini akan baik menjaga daya saing ekspor," katanya.
(D012)
Editor : Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.