Petani hanya menggarap sesuai petujuk SOP (standard operating procedure) pendampingnya, sedangkan sarana produksi seperti benih dan pupuk disediakan.
Jakarta (ANTARA Kalbar) - Program produksi padi dengan jaminan penuh segera diujicobakan di lahan seluas 1.000 hektare milik Pemprov Aceh dengan para petani penggarap tanpa modal apapun, baik benih, pupuk hingga pestisida.

"Jadi, petani hanya menggarap sesuai petujuk SOP (standard operating procedure) pendampingnya, sedangkan sarana produksi seperti benih dan pupuk disediakan," kata Ketua Batan Golden Age Club (BGA-C), Noor Agus Salim, kepada wartawan di Jakarta, Rabu.

Menurut ketua klub para pensiunan peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) itu, program ini dimaksudkan mendorong terciptanya swasembada pangan nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Benih yang digunakan di Aceh adalah Mira 1, benih unggul hasil iradiasi Batan yang potensi produksinya mencapai 9,2 ton per hektare gabah kering giling, dan akan mulai ditanam pada musim tanam Oktober 2012 selama 120 hari di tujuh kabupaten di Aceh, antara lain Aceh Besar, Pidie, dan Bireuen.

"Petani mendapat jaminan ketersediaan benih yang berkualitas, pupuk organik yang juga hasil riset Batan, bahkan mitra Batan PT MB Plus Agro juga akan menjamin pemasaran hasil panennya dan membelinya dengan harga pasar," kata Noor.

Sementara itu, Direktur Pemasaran PT MB Plus Agro, Oki Kresnadi mengatakan, hasil panen tersebut akan dibagi 70 persen untuk petani, 30 persen untuk PT MB Plus, yang artinya jika petani menggarap 1 ha lahan, maka ia akan berhak mendapat 5-6 ton padi hasil panen tanpa keluar modal.

"Ini berarti sekitar Rp24 juta diberikan secara bersih kepada petani, namun sewa lahan atau kepemilikan lahan tetap merupakan urusan petani," katanya.

Program ini bersifat terbuka dengan syarat petaninya harus tergabung dalam suatu kelompok tani, memiliki lahan minimal 10 ha dalam satu area, ada irigasi teknis sepanjang tahun untuk sawahnya, kesepakatan petani menjalani SOP serta adanya kontrak kerja sama.

"Pemprov Aceh optimistis dengan program ini dalam rangka menjadikan Aceh sebagai lumbung pangan nasional dan berencana menyiapkan lahan tambahan sampai 5.000 ha, belum lagi para petani di Jawa juga sangat berminat ingin ikut," katanya.

Untuk putaran pertama, pihaknya membatasi sampai 10.000 ha disesuaikan dengan kemampuan, kemudian pada putaran kedua bisa diperluas menjadi 50.000 ha.

Oki mengatakan, untuk memulai program di lahan seluas 1.000 ha ini pihaknya menyediakan modal Rp6 miliar untuk membiayai penangkaran benih, pembuatan pupuk, insektisida, pendampingan hingga asuransi.

Asuransi akan menjamin hasil panen sebesar 8 ton padi basah per ha, dan bila hasil panen kurang dari 8 ton, maka pihak asuransi akan mengganti kekurangannya dalam bentuk uang.

"Jika terjadi bencana di luar kehendak manusia, maka petani memang tak mendapat hasilnya, alias sama-sama rugi, namun mereka tetap akan memperoleh benih untuk melanjutkan usahanya menggarap lahan pertaniannya," ujarnya.
 (D009)


Editor : Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2026