Perjalanan Korea Selatan dari perang melawan kemiskinan ekonomi ke empat terbesar telah melakukan banyak hal untuk mematahkan cengkeraman laki-laki pada politik dan kekuatan komersial melalui berbagai cara namun tetap menjadi bangsa yang konservatif.
Perempuan menempati hanya 15 persen dari seluruh kursi parlemen, di sektor swasta hanya 12 persen dari posisi manajerial pada 1500 perusahaan besar. Mereka juga memperoleh gaji hampir 40 persen lebih sedikit daripada laki-laki, yang merupakan kesenjangan gaji terbesar untuk Organisasi Kerja sama dan Pembangunan Ekonomi kelompok bangsa-bangsa.
Melawan latar belakang yang suram tersebut, Park dan pendukungnya mengklaim bahwa perjalanan menuju Wisma Biru Presiden akan membuka jalan bagi hak-hak perempuan secara umum.
"Setiap orang terus membicarakan perubahan dan reformasi, tapi pemilihan presiden pertama negara itu akan menjadi perubahan terbesar dan reformasi politik yang pernah dicapai," kata Park kepada sekelompok pemimpin perempuan.
"Anda tidak dapat mencapai revolusi bagi perempuan kecuali anda menangkap peluang ini. Mari kita buat hal ini terjadi," kata perempuan berusia 60 tahun ini.
Keputusan baru New Frontir Party (NFP) telah menyebut-nyebut bahwa Park adalah Presiden Perempuan yang dipersiapkan, sebuah slogan yang ada di hampir seluruh poster kampanye dan pidato.
"Tidak akan ada kemajuan yang lebih signifikan dalam sejarah konstitusional dan demokrasi kita daripada memiliki presiden perempuan pertama," kata juru bicara Partai NFP.
Tapi tidak semua yakin dengan citra Park sebagai model dari 24 juta perempuan bangsa, dengan kritikan yang menyebutkan popularitas Park sebagian besar berasal dari ayahnya, seorang militer tangguh Park Chung-Hee.
Park tidak pernah menikah dan telah lama menjadi objek simpati dari pemilih konservatif tua yang memandang dirinya sebagai seorang putri nahas yang kehilangan kedua orang tuanya karena tragedi pembunuhan dan menjadi populer kareta peristiwa tersebut.
Direktur Eksekutif Pusat Perempuan Korea dan politikus Kim Eun-Ju percaya bahwa Park adalah seorang pemimpin politik perempuan hanya dalam istilah biologis.
"Selama 15 tahun terakhir, Park telah menunjukkan usaha yang terlihat untuk sedikit membantu perempuan dalam politik atau di manapun sebagai pembuat kebijakan," kata Kim.
Partai Park sendiri memiliki catatan buruk terutama pada isu-isu perempuan dan lebih dikenal sebagai gaffes paling seksi dari anggota laki-laki tersebut.
Lee Jae-Oh, sebuah partai kelas berat yang menantang Park untuk nominasi presiden, pernah menyebut perempuan tidak layak memerintah karena mereka meminta izin mangkir dari wajib militer selama dua tahun bagi semua laki-laki Korea Selatan.
Anggota parlemen NFP lain dipecat dari partai pada 2010 karena menyarankan penyiar televisi perempuan untuk menawarkan seks untuk memajukan karir mereka.
Dalam kampanyenya, Park telah berjanji untuk meningkatkan bantuan keuangan untuk pengasuhan anak, menawarkan insentif bagi perusahaan untuk mempekerjakan perempuan dan memerlukan partai politik untuk cadangan 40 persen dari nominasi calon pemilu bagi perempuan.
Tetapi beberapa perempuan Korea Selatan terkemuka seperti Kang Kum-Sil, menteri perempuan pertama sejak 2003-2004, tiba-tiba mempertanyakan Park dalam keikutsertaannya menjadi pemilih perempuan setelah satu desawarsa dan sebagian besar diam tentang penyebabnya.
"Betapa tidak tahu malunya Park, menjadi seorang perempuan bukanlah alat yang dapat digunakan dalam upaya bergegas untuk memenangkan suara lebih banyak," kata Kang.
Awal tahun ini, peringkat Forum Ekonomi Dunia Korea Selatan menjadi 108 dari 135 negara yang disurvei dalam hal kesetaraan gender, satu tingkat di bawah Uni Emirat Aran dan di atas Kuwait.
Korea Selatan memiliki peringkat yang terbilang sangat rendah dalam hal akses perempuan terhadap partisipasi ekonomi yaitu 116.
Kim Eun-Ju kurang yakin bahwa perubahan di tingkat atas akan secara tertarik diikuti dalam pemilihan presiden perempuan.
"Mungkin dengan adanya perempuan yang menduduki kursi tertinggi pemerintah dapat mengubah sikap pegawai negeri senior yang sebagian besar laki-laki dan konservatif," kata Kim.
"Tapi pertama-tama yang harus kita lihat adalah apakah dia benar-benar bisa terpilih menjadi presiden negara ini," kata dia.
(S038)
Editor : Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026