Washington (Antara Kalbar/AFP) - Amerika Serikat mengutuk para pelaku serangan-serangan mematikan di Irak Sabtu dengan menyebut mereka sebagai "musuh-musuh Islam" dalam satu pernyataan setelah aksi kekerasan terbaru di negara yang porakporanda akibat perang itu.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bom-bom mobil yang menghantam kafe-kafe dan pasar-pasar di Baghdad, serta ledakan-ledakan lain dan penembakan di tempat-tempat lain adalah serangan-serangan "pengecut" ditujukan pada keluarga yang sedang merayakan Idul Fitri untuk menandakan berakhirnya bulan suci Ramadan.

Aksi kekerasan itu menewaskan setidaknya 61 orang dan terjadi beberapa minggu setelah serangan-serangan yang berani terhadap penjara-penjara dekat Baghdad yang membebaskan ratusan anggota kelompok garis keras, dan pada saat jumlah korban tewas setiap hari di Irak meningkat.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS  Jen Psaaki mengulangi kembali AS menawarkan hadiah 10 juta dolar kepada siapapun yang dapat memberikan informasi sampai tertangkap pemimpin Al Qaida di Irak Abu Bakr al-Baghdadi, yang diduga berlindung di Suriah.

"Ia terlibat dalam serangkaian serangan  di Irak sejak tahun 2011, dan  mengaku bertanggung jawab atas operasi=operasi terhadap penjara Abu Ghraib dekat Baghdad, serangan bom bunuh diri terhadap  Kementerian Kehakiman, dan serangan-serangan-lain terhadap pasukan Irak dan warga Irak," kata Psaki.

"AS menawarkan hadiah 10 juta dolar bagi informasi yang membantu pihak berwenang membunuh atau menangkap Abu Bakr al-Baghdadi. Hadiah in adalah  kedua bagi informasi tentang Ayman al-Zawahiri, ketua jaringan Al Qaida," tambahnya.

Tanggapan Departemen Luar Negeri datang setelah sepekan di mana AS menutup kedutaan-kedutaan besar dan missi mereka di dunia Arab setelah laporan-laporan intelijen tentang kemungkinan serangan Al Qaida.

Zawahiri adalah adalah ancaman utama, kata laporan-laporan media yang mengatakan ia memerintahkan serangan bernilai tinggi terhadap kepentingan-kepentingan Amerika.

Departemen Luar Negeri juga menyatakan aksi kekerasan Sabtu di Irak terjadi beberapa bulan aksi kekerasan berdarah  di negara itu. Juli merupakan jumlah korban tewas terbanyak dalam lebih dari lima tahun.

"Para teroris yang melakukan tindakan-tindakan ini adalah musuh-musuh Islam dan musuh bersama Amerika Serikat, Irak dan masyarakat internasional," kata Psaki.

(R. Nurdin)


Editor : Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2026