New York (Antara Kalbar/Xinhua) - Harga minyak terus menurun pada Kamis (Jumat pagi WIB), karena data pekerjaan AS yang optimis memicu kekhawatiran bahwa The Fed dapat mempercepat langkah-langkahnya dalam mengurangi stimulus (tapering). 

Minyak mentah light sweet untuk pengiriman Februari turun 67 sen menjadi ditutup pada 91,66 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. 

Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Februari juga turun sebesar 76 sen bertahan di posisi 106,39 dolar AS per barel di perdagangan London. 

Serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis baru-baru ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed dapat mempercepat keluar dari program pembelian obligasi besar-besarannya. 

Selain itu, risalah pertemuan kebijakan terbaru The Fed pada Desember menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed mendukung pengurangan program pembelian obligasi. 

Apa yang disebut "tapering" (pengurangan stimulus) bank sentral AS kemungkinan akan meningkatkan nilai dolar AS. Minyak yang dihargakan dalam dolar, bakal lebih mahal bagi negara-negara yang menggunakan mata uang lain. Kondisi itu diperkirakan meredam permintaan terhadap minyak.
        
Menurut laporan dari Badan Informasi Energi AS (EIA), unit statistik Departemen Energi AS (DoE), persediaan bensin AS meningkat lebih dari yang diperkirakan dalam pekan yang berakhir 3 Januari, atau mencapai tingkat tertinggi sejak Maret tahun lalu. Permintaan yang lemah untuk bahan bakar menempatkan banyak tekanan pada pasar minyak. 

Selain itu, harga minyak menghadapi tekanan lebih lanjut karena Libya meningkatkan produksi minyak dalam beberapa hari terakhir. 

(T.A026/B/A. Suhendar/A. Suhendar) 



Editor : Teguh Imam Wibowo

COPYRIGHT © ANTARA 2026