"Selain memberikan dukungan dan pendampingan kepada masyarakat, proyek yang akan berlangsung selama delapan bulan ke depan juga sebagai upaya edukasi masyarakat," kata Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Dr Ir Gusti Hardiansyah, MSc. QAM, di Pontianak, Sabtu.
Untan akan memberikan pendampingan dalam mengolah air gambut menjadi air yang layak dipakai terutama untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti mencuci dan mandi.
Selain itu, masyarakat di 11 desa di tiga kabupaten yaitu Kubu Raya, Mempawah dan Landak juga akan mendapatkan alih teknologi pemadaman kebakaran lahan gambut.
Teknologi yang telah dipatenkan tersebut merupakan hasil karya mahasiswa Untan yang dinilai efektif untuk membantu masyarakat dalam mengolah air gambut dan juga memadamkan api di lahan gambut.
Selain itu, Untan juga akan mendampingi masyarakat di 11 desa tersebut untuk meneliti potensi desa masing-masing dan mengembangkannya sehingga akan memberikan dampak perbaikan ekonomi kepada masyarakat tanpa membakar lahan gambut.
Program perlindungan dan pengelolaan gambut berbasis masyarakat tersebut dilaksanakan Untan bekerja sama dengan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)/Bappenas.
Manajer komunikasi ICCTF Angga Ariestya mengatakan, kerja sama dengan Untan tersebut menargetkan capaian antara lain 10 sumur bor, enam alat pemadam kebakaran lahan yang dinamakan Nyapar, satu unit instalasi air gambut siap minum.
Selain itu juga target yang ingin dicapai adalah mendampingi masyarakat dalam budidaya madu Kelulut, serta peningkatan kapasitas bagi 50 orang Masyarakat Peduli Api (MPA).
(D016/R. Chaidir)
Pewarta: Desi Purnamawati Editor : Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.