"Kuota BBM solar pada 2019 untuk Kalbar sebenarnya turun sebesar enam persen dibanding 2018. Tetapi tetap kami lakukan penambahan meskipun kuotanya turun," kata Benny Hutagaol di Pontianak, Senin.
Ia menjelaskan, penambahan tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan konsumen. "Sehingga kalau dikalkulasikan ada penambahan malah sekitar delapan persen dari kuota yang ada. Untuk Kalbar sendiri kebutuhan solar sekitar 1.000 kiloliter/hari," katanya.
Benny menyatakan, kalau mau aman pihaknya cukup menyalurkan sesuai kebutuhan, tetapi disalurkan melebihi kuota dengan maksud memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam kesempatan itu, dia juga membantah mewajibkan masyarakat membeli dexlite sebagai pengganti solar. "Pembelian dexlite oleh konsumen memang semata-mata kebutuhan akan BBM yang berkualitas demi menjaga keawetan mesin kendaraan, bahkan pihak ekpedisi, Damri dan anggota ALFI juga sudah banyak yang menggunakan dexlite," ungkapnya.
Selain itu, guna memantau penyaluran solar, salah satunya pihaknya (Pertamina-red) sudah bekerjasama dengan ALFI Kalbar, dan bukan berarti mereka diistimewakan, karena penyaluran BBM subsidi memang harus sesuai peruntukannya.
Dalam kesempatan itu, Benny juga membantah kalau anggota ALFI diberikan keleluasaan untuk membeli solar di SPBU, hal itu tidak benar. "Disparitas atau perbedaan BBM jenis solar (subsidi) dengan yang nonsubsidi seperti dexlite yang membuat masyarakat rela antri untuk membeli BBM subsidi tersebut," katanya.
Sementara itu, Ketua ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia) Kalbar, Retno Pramudya mengatakan, pihaknya hari ini melakukan silaturahim kepada pihak Pertamina Wilayah Kalbar, guna mempertanyakan terkait ada keluhan dari anggotanya dalam mendapatkan BBM jenis solar di SPBU-SPBU dalam beberapa minggu terakhir.
Menurut dia, kedatangan mereka guna mengetahui permasalahan-permasalahan yang sebenarnya. "Dari pertemuan tersebut kami dapatkan informasi bahwa, pemakaian BBM solar di Kalbar sudah melebihi kapasitas sekitar 14 persen dari kuota yang ada, sehingga akan kami sampaikan kondisi tersebut kepada anggota dan masyarakat lainnya," katanya.
Ia berharap kepada anggota ALFI dan teman lainnya agar ikut mengawasi agar tidak sampai terjadi penyimpangan khususnya BBM jenis solar ini. "Selain itu, menggunakan solar dengan efektif, sehingga tidak terjadi pemborosan," katanya.
Retno menyatakan, dampak dari harus antri dalam mendapatkan solar tersebut, maka jalur distribusi barang menjadi mengalami keterlambatan. "Yang biasanya dalam sehari bisa mengangkut barang dua hingga tiga kali, dampak dari harus antri BBM maka menjadi berkurang satu kali," katanya.
Pewarta: AndilalaEditor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026