Pontianak (ANTARA) - Proses yang hampir ritualistik setiap harinya dimulai Asyifa Saputra dengan perlahan menuang biji kopi yang sudah dipanggang ke dalam penggiling. Suara mesin yang bergetar dalam waktu yang tidak lama kemudian menghasilkan bubuk kopi dengan ukuran yang konsisten, persis seperti yang ia targetkan.

Dengan cekatan, bubuk kopi tersebut dimasukkan ke dalam mesin espresso. Saatnya kemahiran yang telah didapat dan resep yang dipelajari bermain. Manual brew dan kopi susu kekinian, hasil racikan pun tersaji dan siap diantarkan kepada pelanggan yang telah menunggu. Tangan menjulur mengarah ke gelas sajian kopi yang dibarengi senyum tipis, menandakan ia mempersilakan pelanggan untuk menikmati. 

Itulah aktivitas setiap harinya yang dilakukan Putra, sapaan akrabnya, sebagai barista di 101 Coffee House yang berada di Jalan Ujung Pandang, Kota Pontianak. 

Pemuda kelahiran Pontianak, 4 Juli 2003 tersebut merupakan penyandang disabilitas Tuna Rungu Wicara. Sebelumnya, anggapan sebelah mata terhadap dirinya dengan keterbatasan yang ada tidak jarang ia dapatkan, bahkan dari orang terdekat baik saudara maupun temannya. Namun, anggapan tersebut perlahan sirna seiring dengan kemampuan dan kemandirian yang dibuktikan Putra sebagai barista.

Pada 2023 lalu menjadi awal bagi Putra sebagai penyandang disabilitas bisa setara sebagaimana orang lainnya. Putra menjadi bagian dari 10 peserta yang mengikuti program Entrepreneur (Enter) Barista yang dihadirkan PT Pegadaian yang melibatkan Pinterpro, Komunitas Liberika Borneo (Kolibro) dan 101 Coffee House.

Bagi Putra, kehadiran program Enter Barista yang diikutinya selama satu bulan pembekalan berupa teori dan praktik secara intensif dengan mentor atau pelatih profesional, serta kemudian selama lima bulan magang di 101 Coffee House membuat ia semakin percaya diri. Kegigihan dalam belajar dan mengikuti program praktik magang, membuat Putra setelah mengikuti program Enter Barista dari PT Pegadaian langsung diterima pasar sebagai barista di 101 Coffee House hingga kini.

Keterbatasan berkomunikasi secara lisan dengan pemilik coffee shop, rekan kerja, serta pelanggan di awal memang menjadi kendala. Namun hal itu bisa dilewatinya karena mau belajar dan dibimbing untuk terus membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi dan berbuat sebagaimana orang normal.

Ruang bagi penyandang disabilitas yang seluas-luasnya untuk berkembang dan maju seperti yang dirasakan Putra tentunya menjadi harapan dan tugas bersama. Hal itu agar hadir "putra-putra" lainnya yang mandiri, mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji di atas Upah Minimum Kota (UMK), dan mendapat tempat terhormat.

"Saya bangga dan orang tua saya juga demikian dengan saya saat ini sebagai barista. Terima kasih untuk program Enter Barista," kata Putra dengan bahasa isyarat yang lugas dan singkat.

Warga saat berkunjung ke Kantor Pegadaian Area Kalbar (ANTARA/Dedi)


Berdampak dan Berkelanjutan

Deputy Bisnis PT Pegadaian Kantor Area Pontianak, Abdul Lafaz Isnainy menjelaskan bahwa Enter Barista yang dihadirkan Pegadaian Kantor Pusat merupakan bagian dari program Environmental, Social, and Governance (ESG) terutama dalam aspek sosial, yakni ikut mewujudkan kesejahteraan, kesetaraan, dan inklusi.

Program Enter Barista hadir sebagai upaya mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) industri kopi di Kalbar yang berkompeten dan mencetak pengusaha muda.

Apalagi saat ini industri kopi di Kalbar dan Indonesia kian menjanjikan. Hal itu memberikan peluang besar. Untuk itu SDM harus dibekali kompetensi. Untuk itulah pelatihan tersebut strategis. Peserta diberikan pembekalan berupa pelatihan, sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), magang dan pendampingan hingga menjadi barista handal dan ke depan bahkan menjadi pengusaha.

"Menariknya, kegiatan tersebut merangkul kalangan difabel atau memiliki kebutuhan khusus dan pemuda dari kalangan ekonomi kurang mampu. Jadi kegiatan ini memang selain meningkatkan SDM juga memberikan peluang yang besar bagi mereka menjadi barista juga pelaku usaha di industri kopi," kata dia.

Menurutnya, peserta tidak dipungut biaya bahkan diberikan uang saku tiap bulannya selama program pembekalan dan magang. Selain itu juga mendapatkan jaminan BPJS Ketenagakerjaan dan sertifikasi profesi.

Meski program telah usai sejak dua tahun lalu, namun dampaknya terus hadir hingga kini. Para penyandang disabilitas bisa mandiri dan setara untuk berkarya. Artinya program yang dihadirkan selain berdampak nyata juga berkelanjutan. Apalagi lulusan Enter Barista kini semua terserap pasar dan harapan program terwujud sebagai jembatan bagi difabel untuk setara meraih asa jadi nyata.

"Tentu program ini bagian dari memajukan Kalbar melalui SDM yang unggul. Generasi emas, Pegadaian mengEmaskan Indonesia untuk generasi yang produktif dan mandiri serta mampu bersaing. #MengeMASkanIndonesia," kata dia.

Aktivitas pelatihan barista yang digelar Pegadaian yang bekerja sama dengan beberapa pihak. (ANTARA/Dedi)


Kopi dan Pemberdayaan

Kota Pontianak selain dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa juga ada yang mengatakan sebagai kota "1001 Warung Kopi (Warkop)". Julukan ini lahir dari budaya nongkrong menikmati pahit dan manisnya kopi.

Kemudian minum kopi atau ngopi menjadi salah satu budaya yang tumbuh di Kota Pontianak, tidak hanya dinikmati dari kalangan orang tua saja, tetapi bagi semua kalangan. Tren inilah yang membuat industri warkop banyak ditekuni di Pontianak, sehingga warkop dan tempat minum kopi modern atau dikenal coffee shop kini kian menjamur di sana-sini sehingga menjadi peluang usaha di Pontianak.

101 Coffee House, menjadi salah satu di antara ratusan tempat ngopi modern di Kota Pontianak. Pasangan suami istri, yaitu Restu Dharmawan dan Siti Mashita sebagai pemilik dan juga praktisi di bidang kopi di balik coffee shop tersebut. Hadirnya mereka bukan hanya sekadar menjual kopi bubuk, jasa roasting, atau kopi siap seduh, namun jauh dari itu yakni pemberdayaan, baik dari sisi pekerja maupun petani.

Pemberdayaan tersebut seperti merangkul dan memberikan ruang kaum penyandang disabilitas seperti Putra. Restu menyebutkan meski dia harus mau tidak mau belajar bahasa isyarat dengan praktisi dan aplikasi, itu bukan menjadi persoalan agar pemberdayaan dan ruang bagi disabilitas hadir di coffee shopnya.

Program Enter Barista dan komitmennya memberdayakan serta memberikan ruang bagi disabilitas, menjadi aksi kolaborasi nyata bukan hanya jargon semata. Program yang biasa hanya sebatas menyerap anggaran dan hasilnya tidak jelas, dengan program Enter Barista terwujud. Program berlanjut dan kini memberikan dampak luas dan berkelanjutan. Usahanya berjalan, ruang pekerjaan terbuka dan petani ikut berdaya karena ikut mendampingi petani dan menerima hasil produksi.

"Memang kolaborasi menjadi kunci dalam hal apa pun. Kaum yang termarjinalkan harus diprioritaskan, keterbatasan bukan alasan ketika ada ruang. Enter Barista bukti nyata, bahwa bersama kita bisa," kata Restu.

Kisah Putra, program Enter Barista dari Pegadaian, dan pelaku usaha 101 Coffee House yang memberi ruang bagi semua bisa menjadi contoh dan inspirasi, bahwa kolaborasi bisa menjadi kunci untuk berkontribusi membangun negeri. Hal itu semua juga membuktikan bahwa program yang nyata dan berkelanjutan bisa menjadi solusi agar rakyat sejahtera.
 



Editor : Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2026