Sampit (ANTARA) - Tokoh agama Khonghucu di Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyebut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang dinaungi Shio Kuda Api merupakan momentum krusial bagi masyarakat untuk melakukan adaptasi cepat dan akselerasi di segala lini.
“Shio kuda identik dengan kecepatan, semangat, dan kekuatan. Unsur api melambangkan perubahan dan transformasi. Tahun 2577 Kongzili ini adalah momen bagi mereka yang mampu beradaptasi dengan cepat,” kata tokoh agama Khonghucu Wenshi Suhardi di Sampit, Senin.
Ia menjelaskan, shio kuda identik dengan kecepatan, semangat dan kekuatan, sementara unsur api melambangkan transformasi. Kombinasi energi ini menuntut perubahan pola pikir yang sigap agar setiap individu mampu melaju pesat di tengah dinamika zaman yang serba cepat.
Kuda Api bukan sekadar simbol pergantian kalender, melainkan gambaran dunia yang terus berakselerasi. Mereka yang siap bertransformasi akan bergerak maju secara progresif, sementara mereka yang ragu-ragu dalam berinovasi dipastikan akan tertinggal oleh kemajuan zaman.
“Seperti kuda yang terus bergerak aktif, kita juga harus sigap. Api itu simbol pembaruan. Kalau tidak mau berubah, kita akan tertinggal oleh zaman,” tuturnya.
Menurut dia, tantangan kehidupan modern tidak bisa lagi disikapi dengan cara lama yang statis. Perkembangan teknologi dan perubahan sosial menuntut masyarakat untuk lebih responsif serta terbuka terhadap pembaruan guna menjaga relevansi di tengah arus informasi yang masif.
Di samping menekankan aspek akselerasi, Wenshi yang juga aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kotim menyoroti pentingnya menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman.
Baginya, kemajuan materiil tidak akan kokoh tanpa adanya fondasi toleransi dan keharmonisan antarumat beragama yang terjaga dengan baik.
Ia mensyukuri iklim kerukunan di Sampit yang sangat kondusif, di mana enam agama diakui dan diberikan ruang yang setara. Hal ini menjadi modal sosial yang kuat bagi daerah untuk menghadapi tantangan Tahun Kuda Api secara bersama-sama dalam semangat persatuan.
“Di Kotim ada enam agama dan semuanya mendapat ruang yang sama. Kami merasa dihargai dan disetarakan. Tingkat toleransi di Sampit sangat baik,” ungkapnya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat, khususnya umat Khonghucu menjadikan Tahun Kuda Api sebagai titik balik untuk berani keluar dari zona nyaman.
