Jakarta (ANTARA) - Akademisi dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Ahmad Athoillah mengatakan revitalisasi cagar budaya seperti keraton harus memberikan timbal balik yang bermanfaat bagi kualitas hidup masyarakat tidak hanya ekonomi namun juga dalam mempertahankan ciri budaya lokal.

“Bahwa memang revitalisasi itu harus ada aspek yang disebut economic revitalisation tapi juga ada konsep environmental objective. Jadi memang harus ada lingkungan dan perekonomian,” kata Ahmad dalam diskusi tentang revitalisasi keraton Nusantara di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan ada unsur revitalisasi cagar budaya seperti keraton yang penting dilakukan yakni konservasi nilai tradisi dan nilai sosial, dan nilai ekonomi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas setelah tindakan revitalisasi dilakukan dan menyertakan kehidupan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Ia menyebut kebijakan revitalisasi cagar budaya harus berorientasi pada pengelolaan kawasan, partisipasi masyarakat, desentralisasi kewenangan, perkembangan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.

“Bagaimana revitalisasi itu biar bisa menarik peran masyarakat ya memang harus ada aspek ekonomi, kedua aspek sosial bagaimana semangat gotong royong bangkit, dan juga aspek budaya,” katanya.

Ahmad mengatakan model revitalisasi juga tidak hanya terpaku pada bangunan saja namun juga berbasis restorasi historis, eco cultural tourism, berbasis kawasan dan lanskap budaya untuk mengembalikan identitas sesuai sejarahnya.

Menurutnya revitalisasi harus melibatkan masyarakat yang tidak hanya bermanfaat bagi ekonomi masyarakatnya namun juga mengajak untuk berpartisipasi melestarikan budaya agar kesadaran akan menjaga warisan budaya meningkat.



Pewarta: Fitra Ashari
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026