Singkawang (ANTARA) - Pemerintah Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menyusun rencana induk tata ruang dan rencana pengembangan pusat kota baru untuk mewujudkan pembangunan yang terarah, berkelanjutan dan mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat di masa mendatang.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie bersama Wakil Wali Kota Muhammadin memimpin rapat kerja membahas masalah itu di Ruang Rapat Wali Kota Singkawang, Selasa.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan rencana induk tata ruang menjadi acuan utama dalam pengendalian pemanfaatan ruang, perizinan pembangunan, serta pengembangan infrastruktur prioritas agar tetap selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
"Masterplan ini akan menjadi acuan utama dalam pengendalian pemanfaatan ruang, perizinan pembangunan, serta pengembangan infrastruktur prioritas agar tidak tumpang tindih dan tetap selaras dengan RTRW," katanya.
Dalam rapat tersebut, tim arsitek memaparkan sejumlah skenario pengembangan wilayah yang mengedepankan konsep kota kompak (compact city), hijau dan berbasis transit. Kajian awal juga mencakup analisis daya dukung lingkungan serta proyeksi pertumbuhan penduduk dalam 20 tahun mendatang.
Salah satu fokus pembahasan adalah pengembangan pusat kota baru yang dirancang menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi, pusat pelayanan publik, dan pusat aktivitas masyarakat yang modern serta terintegrasi.
Menurut Tjhai Chui Mie, pembangunan pusat kota baru harus dirancang secara matang dengan memperhatikan aspek tata ruang, konektivitas antarwilayah, ketersediaan infrastruktur, ruang terbuka hijau, serta potensi pengembangan ekonomi daerah.
"Saya meminta agar desain pusat kota baru mengusung konsep smart city dan kota inklusif. Ruang terbuka hijau minimal 30 persen, sistem drainase berwawasan lingkungan, jalur pedestrian, dan akses ramah disabilitas menjadi syarat wajib dalam perencanaan," ujarnya.
Ia menjelaskan kawasan tersebut dirancang untuk mengurangi beban kawasan inti kota yang mulai padat. Kawasan itu nantinya akan dilengkapi pusat pemerintahan baru, kawasan niaga, hunian terjangkau, ruang publik, serta simpul transportasi yang terkoneksi dengan wilayah penyangga.
Keberadaan pusat kota baru diharapkan dapat mendukung pemerataan pembangunan sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Kota Singkawang melalui peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Selain membahas rencana induk tata ruang, rapat tersebut juga membahas pradesain pembangunan Bundaran Tirta Cakra Mahkota yang direncanakan menjadi salah satu ikon baru Kota Singkawang.
Bundaran tersebut tidak hanya berfungsi sebagai simpul lalu lintas, tetapi juga dirancang sebagai landmark kota yang merepresentasikan identitas dan kebanggaan masyarakat Singkawang.
Pradesain yang dipaparkan tim arsitek mengangkat filosofi lokal dengan ornamen yang mencerminkan harmoni tiga etnis besar di Kota Singkawang. Bundaran akan dilengkapi air mancur, taman tematik, dan pencahayaan artistik yang menyala pada malam hari.
Tjhai Chui Mie meminta agar detail desain Bundaran Tirta Cakra Mahkota terus disempurnakan dengan melibatkan tokoh budaya dan komunitas kreatif.
"Targetnya, ikon baru ini dapat menjadi destinasi wisata kota sekaligus titik orientasi utama Singkawang," katanya.
Ia juga meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) segera merampungkan kajian teknis dan menyiapkan tahapan sosialisasi kepada masyarakat.
"Pemerintah Kota Singkawang berkomitmen pembangunan dilakukan secara bertahap, terukur, dan tetap mengutamakan keberlanjutan lingkungan," katanya.
Pewarta: NarwatiUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026