New York (Antara Kalbar) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa Panel Tingkat Tinggi PBB untuk Agenda Pembangunan Pasca 2015 telah merumuskan 12 tujuan kemitraan global yang dicantumkan dalam laporan bertajuk "Kemitraan Baru Global: Memberantas Kemiskinan dan Transformasi Ekonomi Melalui Pembangunan Berkelanjutan".

Hal itu disampaikan Presiden Yudhoyono saat menjelaskan laporan akhir Panel itu di hadapan Sidang Majelis Umum PBB, di Markas PBB, New York, Amerika Serikat, Kamis siang waktu setempat, New York 11 jam lebih lambat dari Jakarta.

"Jika kita ingin memotong lingkaran setan kemiskinan, kita perlu untuk mengatasi kemiskinan dalam segala bentuknya," kata Presiden merujuk 12 tujuan pembangunan yang berfungsi untuk mengentaskan kemiskinan ekstrim melalui pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Ia kemudian menyebutkan 12 tujuan pembangunan itu, yaitu pertama, mengakhiri kemiskinan. Kedua, pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender. Ketiga, pendidikan yang berkualitas dan pembelajaran seumur hidup. Keempat, memastikan kehidupan yang sehat. Kelima, menjamin ketahanan pangan dan gizi yang baik. Keenam, akses universal terhadap air dan sanitasi.

Tujuan ketujuh adalah perlunya ketahanan energi secara berkelanjutan. Kedelapan, menciptakan lapangan kerja, penghidupan yang berkelanjutan, dan pertumbuhan yang adil. Kesembilan, mengelola aset sumber daya alam secara berkelanjutan. Kesepuluh, memastikan tata kelola pemerintahan dan institusi yang efektif.

Kesebelas, memastikan masyarakat yang stabil dan damai, dan keduabelas adalah menciptakan lingkungan hidup dan katalisator pembiayaan jangka panjang secara global.

"Saya harus menekankan di sini bahwa tujuan-tujuan ilustratif itu tidak dimaksudkan untuk mendikte apa yang akan menjadi tujuan pembangunan definitif. Jelas bahwa tujuan pembangunan definitif berada di tangan negara-negara anggota melalui proses antar pemerintah," katanya.

Masukan-masukan itu, kata Presiden, terutama tentang hal-hal yang akan dicapai pada 2030 dan bagaimana cara mencapainya.

Pada kesempatan itu ia mengatakan bahwa masyarakat internasional telah melakukan berbagai upaya untuk mengentaskan banyak orang dari kemiskinan, namun faktanya satu miliar orang masih hidup dengan penghasilan 1,25 dolar per hari atau kurang.

Ia mengatakan bahwa banyak penduduk dunia masih kekurangan gizi, kesehatan dan pendidikan yang berkualitas, serta infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi.

Situasi itu, tambah Presiden, lebih buruk bagi perempuan dan banyak negara yang dilanda konflik, guncangan ekonomi, dan bencana alam.

"Dalam dasawarsa terakhir, kita menyaksikan bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya yang disebabkan oleh perubahan iklim, yang menyebabkan kemunduran capaian MDGs," katanya.

Oleh karena itu, menurut Presiden, hal utama  dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan adalah perlunya sebuah kemitraan baru global.

"Sebuah kemitraan global yang sesungguhnya menghendaki semua pemangku kepentingan, baik itu pemerintah, sektor swasta, masyarakat madani, akademisi, dan organisasi internasional, untuk memiliki rasa kesamaan tujuan dan bertindak untuk kepentingan bersama," ujarnya.

Laporan akhir panel itu akan menggantikan Tujuan Pembangunan Milenium atau MDGs yang berisikan delapan tujuan.    
    
Sebagaimana diketahui Presiden Yudhoyono bersama dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf telah diminta oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki moon untuk memimpin panel tingkat tinggi PBB yang membahas agenda pembangunan pasca 2015.

Penyampaian laporan tersebut kepada Sekretaris Jenderal PBB menandai berakhirnya tugas dan mandat Panel Tingkat Tinggi tersebut yang telah melakukan empat pertemuan sebelum pertemuan New York kali ini, masing-masing di New York, Amerika Serikat (September 2012), London, Inggris (November 2012), Monrovia, Liberia (Februari 2013), dan Bali, Indonesia (Maret 2013).

     
(E. Sujatmiko)

Pewarta: GNC Aryani

Editor : Nurul Hayat


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2013