Aljiers (Antara Kalbar/Xinhua-OANA) - Aljazair pada Ahad mengecam hasil survei yang dikeluarkan oleh organisasi non-pemerintah, Walk Free Foundation (WFF), yang menduga ada 70.000 budak di bagian utara negara Afrika Utara itu.

"Perkiraan dalam survei WFF terhadap Aljazair sama sekali tak masuk akal, menggelikan, dan tak patut dikomentari," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Aljazair Amar Belani sebagaimana dikutip kantor berita resmi negeri tersebut, APS.

WFF mengeluarkan survei global mengenai perbudakan pada Kamis lalu (17/10), dan menduga 29,8 juta orang hidup dalam "kondisi perbudakan" di 162 negara, termasuk tiga-perempat negara di seluruh Benua Asia.

Aljazair berada pada posisi ke-91 sementara Mauritani menempati posisi teratas di dalam daftar tersebut, kata WFF.

Mengenai hasil survei itu, Belani mengatakan, "Penyelidikan ini tidak dilandasi atas data yang dapat dipercaya dan tak terbantahkan, sebab indeks prevalen perbudakan modern adalah hasil dari penelitian hayalan yang dilandasi atas contoh acak, yang perwakilannya tak lebih dari keraguan."
   
Kriteria WFF untuk menetapkan perbudakan sangat berbeda dengan yang defisini klasik tentang perbudakan. Perbudakan modern, menurut WFF, meliputi kerja paksa, kawin paksa, penyelundupan manusia dan pelecehan seks.

(Chaidar) 

Pewarta:

Editor : Nurul Hayat


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2013