Sintang (Antara Kalbar) - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sintang terus meningkat, dan tercatat sudah ada 66 kasus DBD, dengan sebanyak 60 kasus di antaranya berada di Kecamatan Sintang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Marcus Gatot Budi menyampaikan pasca penetapkan status kejadian luar biasa  (KLB) DBD di Kecamatan Sintang, pihaknya telah menyurati Camat Sintang agar pihak kecamatan menggerakan Kelurahan-Kelurahan untuk menggerakkan warganya memberantas sarang nyamuk.

Ia mengatakan pihaknya juga sudah memerintahkan Pukesmas di masing-masing Kelurahan di Kecamatan Sintang untuk menyampaikan data jumlah kasus DBD di kelurahan masing-masing.

 Marcus berencana akan melakukan abatesasi massa ke seluruh rumah di Kecamatan Sintang. “Kami akan abatesasi massal 'door to door' (dari rumah ke rumah) yang akan bekerja sama dengan Stikes dan Akper. Seluruh rumah akan diabatesasi,” katanya.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga akan menggelar rapat koordinasi dengan seluruh instansi terkait untuk membahas persoalan DBD di Kecamatan Sintang pada 13 Mei.

Marcus menjelaskan Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang hanya menetapkan status KLB DBD untuk Kecamatan Sintang karena kasus DBD di Kecamatan Sintang meningkat dibanding tahun lalu sementara di kecamatan lain belum mengalami peningkatan.

Dikatakannya dengan penetapan status KLB DBD ini, masyarakat diharapkan lebih waspada. Selama ini masyarakat masih menganggap DBD sebagai hal yang biasa. Anggapan ini salah karena DBD bisa menyebabkan kematian. “Saya imbau masyarakat harus mau mulai bergerak membersihkan lingkungannya,” imbaunya.

Marcus juga memerintahkan seluruh Pukesmas di Kecamatan Sintang mempunyai perhatian yang sama dengan Dinas Kesehatan untuk mengintensifkan penyuluhan dan pemantauan jentik nyamuk sekaligus menaburkan abate ke rumah-rumah penduduk. “Strategi ini dilakukan agar kasus DBD di Kecamatan Sintang dapat ditekan dan prediksi kami tentang siklus lima tahunan tidak terjadi,” katanya.

Ia mengatakan sebaran kasus DBD di Kecamatan Sintang  terjadi di Kelurahan Kapuas Kanan Hilir, Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, Baning, Kampung Ladang, BTN Cipta Mandiri dan Sungai Ana.

Ia mengaku khawatir DBD di tahun ini akan mengulang terjadinya siklus lima tahunan dimana tahun 2009 lalu kasus DBD di Kabupaten Sintang mencapai 500 an kasus dengan 8 orang meninggal dunia.

“Mudah-mudahan tahun ini tidak ada korban jiwa dalam kasus DBD,” harapnya.

Dia mengatakan pihaknya juga sudah bekerja sama dengan perguruan tinggi di bidang kesehatan untuk melakukan abatesasi permukiman warga. Namun sayang, sebagian masyarakat masih menganggap abatesasi bisa mengganggu kesehatan tubuh. “Dijamin, abatesasi itu tidak akan merusak kesehatan tubuh karena itu saya minta masyarakat proaktif,” pintanya.

Dia menjelaskan abatesasi ini cukup ampuh mencegah jentik nyamuk berkembangbiak di tempat-tempat penampungan air. “Paling tidak abatesasi bisa bertahan selama 3 bulan untuk mencegah jentik nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak,” jelasnya.

Pewarta: Faiz

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2014