Baghdad, 6/7 (Antara/AFP) - Para pelaku teror yang menyerbu Mosul bulan lalu telah menghancurkan masjid kuno dan masjid di dalam dan sekitar kota utara Irak bersejarah itu, kata  warga dan pos  media sosial, Sabtu.

Setidaknya empat masjid Arab Sunni atau tokoh-tokoh Sufi telah dihancurkan, sementara ada enam masjid Syiah, atau Husein, juga telah hancur, di bagian yang dikuasai gerilyawan di Provinsi Nineveh utara, yang Mosul adalah ibu kotanya.

Gambar yang diposting di Internet oleh kelompok teroris Negara Islam (IS) menunjukkan, masjid-masjid Sunni dan Sufi dihancurkan oleh buldoser, sedangkan Masjid Syiah dan lainnya semua dihancurkan dengan  bahan peledak.

Foto-foto itu merupakan bagian dari satu pernyataan online berjudul "Menghancurkan kuil dan berhala di negara bagian Niniwe. "
   
Penduduk setempat menegaskan bahwa bangunan itu telah dihancurkan dan bahwa para gerilyawan  telah menduduki dua katedral juga.

"Kami merasa sangat sedih untuk pembongkaran masjid ini, yang kita warisi dari ayah dan kakek kami," kata Ahmed, seorang warga 51 tahun dari Mosul.

Sementara itu seorang karyawan di Katedral Kasdim Mosul mengatakan, gerilyawan telah menduduki Katedral Ortodoks Suriah di kota itu setelah menemukan mereka kosong.

Mereka menghapus salib di depan bangunan dan menggantinya dengan bendera hitam Negara Islam, kata karyawan.

Gerilyawan  yang dipimpin IS menyerbu Mosul bulan lalu dan dengan cepat menguasai banyak daerah sisa Niniwe, serta bagian dari empat provinsi lainnya di utara dan barat Baghdad, dalam serangan yang telah membuat ratusan ribu serta  masyarakat internasional khawatir.

Kota, rumah bagi dua juta penduduk sebelum serangan, adalah satu pusat perdagangan Timur Tengah selama berabad-abad, namanya diterjemahkan secara longgar sebagai "persimpangan."
   
Meskipun baru-baru ini dihuni sebagian besar oleh Sunni Arab, Mosul dan Nineveh juga rumah bagi banyak Syiah Arab serta etnis minoritas dan agama seperti Kurdi, Turkmen, Yazidi dan sekte-sekte lainnya.

Pewarta:

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2014