Jakarta (Antara Kalbar) - Produksi minyak sawit Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 31,5 juta ton atau mengalami kenaikan sekitar 1,5 juta ton dari tahun ini.

Analis dari Godrej Intenational Limited Dorab Mistry mengatakan, pada 2014 produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan tidak akan mengalami perubahan dibandingkan 2013 yakni sekitar 30 juta ton.

"Hal itu sebagai dampak musim kering yang berkepanjangan lebih dari 4 bulan, dan ini akan berpengaruh pada produksi 2015," katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Saat menjadi pembicara dalam 10th Indonesian Palm Oil Conference and 2015 Price Outlook  (IPOC) di Bandung, Jumat (28/11) mengatakan, selama periode November - Juni atau Juli 2015 merupakan siklus yang rendah pada produksi minyak sawit.

Sedangkan Juli 2015, tambahnya, siklus akan kembali meninggi dan memuncak pada 2016 sehingga produksi minyak sawit diperkirakan dapat meningkat 2,5 juta hingga 3 juta ton.  
 
Untuk itu, menurut Dorab, Indonesia harus mendorong konsumsi minyak sawit dalam negeri antara lain melalui penerapan biofuel guna mengantisipasi peningkatan produksi tersebut.

"Jangan baru mulai tahun 2015 (mendorong konsumsi sawit dalam negeri) tapi harus sekarang ini," katanya.

Dorab yang selalu menjadi pembicara dalam setiap kegiatan IPOC yang tahun ini memasuki tahun ke 10 tersebut mengatakan, India masih akan menjadi konsumen terbesar minyak sawit Indonesia.

Menurut dia, kebijakan pemerintah yang menghapuskan pajak ekspor minyak sawit menjadi salah satu faktor pendorong tingginya impor minyak sawit India dari Indonesia.  
   
Menyinggung harga minyak sawit dunia, Dorab memperkirakan pada tahun depan akan berkisar antara 2.300 dan 2.500 ringgit Malaysia per ton, hal itu tergantung pada sejumlah kondisi.

Kondisi-kondisi tersebut adalah menyangkut kondisi di Brazil dan Argentina, sebagai produsen minyak kedelai terbesar, permintaan minyak sawit di Tiongkok dan India, harga minyak mentah yang memiliki kedekatan dengan minyak sawit dan pelaksanaan biofuel di negara-negara pengekspor dan importir komoditas tersebut.

Pada kesempatan itu Dorab juga menyatakan pemerintah Indonesia diminta tegas dalam mengimplementasikan biofuel karena akan mempengaruhi harga minyak sawit.

Menurut dia, Indonesia saat ini kurang serius dalam melaksanakan kebijakan biofuel-nya.

"Pemerintah Indonesia sekarang ini hanya meminta kepada Pertamina untuk meningkatkan penggunaan biofuel tetapi saya kira pemerintah harus lebih keras dengan mengambil kebijakan yang lebih tegas guna mendorong pemakaian biofuel dalam negeri," katanya.

Ketegasan tersebut, katanya, menjadi salah satu faktor dalam penyerapan pasokan minyak kelapa sawit, apalagi pasar minyak sawit masih terkendali pada persyaratan yang berkenaan dengan keberlanjutan di negara Eropa dan Amerika.

Menurut dia kalau biofuel meningkat maka permintaan terhadap minyak sawit akan meningkat dan mendorong harga naik.

Pewarta: Subagyo

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2014