Arizona, pada Selasa memberikan tes antibodi virus corona untuk 250.000 petugas layanan kesehatan dan responden pertama.

Tes tersebut menjadi yang terbesar di Amerika Serikat hingga saat ini.

Tes darah menunjukkan siapa yang telah terpapar virus corona dan berhasil membangun kekebalan, menurut Universitas Arizona, yang akan memproduksi dan melaksanakan tes tersebut, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Para ahli mengatakan bahwa hingga 50 persen orang yang terpapar COVID-19 mengalami sedikit gejala hingga tanpa gejala.

Dengan demikian, siapapun yang telah mengembangkan antibodi pencegah virus sangat penting untuk memulai kembali interaksi sosial, kata Dr. Michael Dake, wakil presiden senior untuk Ilmu Kesehatan di Universitas Arizona.

"Kami akan menjadi yang terbesar dan tentu saja yang pertama melakukan tes di seluruh negara bagian untuk semua petugas kesehatan dan responden pertama," ujar Dake, yang mengawasi tes itu.

Pemerintah negara bagian Arizona menyediakan dana 3,5 juta dolar kepada universitas untuk menghasilkan tes dan memberikan hasil setelah klinik dan rumah sakit mengirim sampel darah para pekerja.

Dake berharap universitas dapat memproses 5.000 tes per hari ketika beberapa model menunjukkan wabah Arizona memuncak.

Responden pertama dan petugas layanan kesehatan menjadi gelombang pertama untuk pengujian, kata Dake.

Universitas Arizona telah berjanji untuk memberikan tes antibodi kepada semua 45.000 mahasiswanya.

Tes antibodi, menggunakan teknologi ELISA yang sudah berusia puluhan tahun, tidak selalu mengambil infeksi pada tahap awal tetapi menunjukkan apakah seseorang memiliki virus di masa lalu, bahkan jika orang itu tidak menunjukkan gejala.

Sebagai perbandingan, tes usap dengan teknologi RT-PCR yang digunakan di pos layanan tanpa turun (Drive-through) dan klinik di seluruh negeri menentukan apakah seseorang memiliki virus pada saat itu dengan mencarinya di sekresi hidung atau tenggorokan.

Kedua tes sangat penting dalam memerangi virus corona, tetapi tes antibodi dipandang sebagai cara yang relatif murah dan cepat untuk menyortir populasi ke dalam kelompok risiko dan mengukur penyebaran virus.

Namun masih ada pertanyaan dari beberapa ahli penyakit menular mengenai berapa lama tingkat kekebalan virus corona bertahan dan apakah orang yang memiliki antibodi masih bisa menular

"Pengujian antibodi bukanlah obat," kata Gubernur Arizona Doug Ducey dalam sebuah pernyataan. "Mempelajari lebih lanjut tentang COVID-19 adalah langkah penting untuk mengidentifikasi paparan masyarakat, membantu kami membuat keputusan tentang bagaimana kami melindungi warga negara kami, dan melihat sisi lain dari pandemi COVID-19,"

Sumber : Reuters

 

Pewarta: Azis Kurmala

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2020