Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Barat yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kalbar, Ria Norsan mengatakan salah satu penyebab terjadinya gagal tumbuh (stunting) pada anak yaitu karena asupan gizi yang kurang.

"Terjadinya kasus stunting itu memang banyak penyebab dan antara satu daerah dengan daerah lain, penyebab stunting juga berbeda-beda. Ya salah satunya yaitu karena asupan gizi yang kurang pada anak, terutama pada masa berkembang anak  ," ujar Ria Norsan di Ketapang, Sabtu.

“Untuk dapat memenuhi gizi ini kami mengimbau agar anak-anak kita ini sejak dalam kandungan asupan gizi buat calon bayi harus di perhatikan dengan baik,” ujarnya.

Menurut dia, selain asupan gizi yang kurang, stunting bisa muncul karena berbagai penyebab. Seperti kasus stunting di Sintang, Kapuas Hulu dan Melawi. Setelah dilakukan penelitian, ternyata penyebabnya dikarenakan sanitasi yang buruk. 

Wagub menyatakan di Kabupaten Ketapang, jika dibanding dengan Kabupaten Kota di Kalbar, angkanya tidak begitu besar. Berada di urutan ke tiga terkecil temuan kasus stunting. Yaitu di angka 23,6 persen.

“Saya berharap, di 2024 mendatang angka stunting di Ketapang bisa turun di angka 13 persen,” ungkap Norsan.

Sementara itu, Wakil Bupati Ketapang Farhan mengatakan dari data SSGI 2021angka stunting di Ketapang 23,06 persen. Kemudian menurut capaian prevalensi ePPGBM di Ketapang berada di 19,2 persen. Artinya capaian ini melebihi target capaian 2022 di 20,10 persen.

Pemerintah pusat memiliki target di 2024 mendatang angka stunting bisa turun di 14 persen. Sebagai upaya penurunan stunting di Ketapang kata dia sudah dilakukan. Diantaranya dengan penguatan kelembagaan melalui pembentukan TPPS.

"Di tingkat kecamatan sudah terbentuk 20 TPPS. Ini sudah seratus persen. Untuk tingkat desa dan kelurahan TPPS sudah terbentuk sebanyak 227," tutup Farhan.

Pewarta: Slamet Ardiansyah

Editor : Andilala


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2022