Bandung (ANTARA Kalbar) - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Bidang Komisi Fatwa Salim Umar menegaskan perdagangan dalam penukaran rupiah receh yang marak menjelang hari raya Lebaran termasuk kegiatan jual-beli uang yang diharamkan oleh Islam.
Di Kantor MUI Jawa Barat, Bandung, Senin, Salim mengatakan transaksi perdagangan dengan penukaran uang receh yang dikurangi tergolong riba yang secara tegas diharamkan oleh hukum Islam.
"Itu termasuk riba yang mengambil keuntungan dari perdagangan yang tidak sah," ujarnya.
Uang menurut ajaran Islam, kata Salim, adalah alat tukar dan bukan komoditas yang boleh diperdagangkan.
Transaksi penukaran uang receh dalam sesama mata uang rupiah, kemudian salah satu pihak memberi dengan nilai rupiah dibawahnya, lanjut dia, tidak bisa dipersamakan dengan transaksi penukaran uang ke dalam mata uang negara lain.
"Jelas transaksi penukaran uang receh termasuk riba karena misalnya satu lembar pecahan sepuluh ribu ditukar hanya dengan sembilan lembar pecahan seribu," katanya.
Meski demikian, Salim mengatakan, MUI sampai saat ini belum mengeluarkan fatwa yang menegaskan bahwa transaksi penukaran uang receh adalah haram.
"Kami tidak mengeluarkan fatwa karena beranggapan masyarakat sudah tahu bahwa transaksi tersebut termasuk riba yang diharamkan," demikian Salim.
(D013)
