Sejak mulai pada awal 2011, hingga saat ini kelompok tersebut telah menanam kurang lebih 45 ribuan bibit mangrove di sepanjang Pantai Setapuk.
Syafrudin, salah satu anggota kelompok mengatakan bahwa dirinya bersama yang lain tidak henti-hentinya mengampanyekan penyelamatan lingkungan khususnya di kawasan pesisir. Menurutnya, Singkawang Utara saat ini kawasan yang rawan abrasi.
"Makanya, kami terus sosialisasi mengajak masyarakat agar peduli dengan lingkungan di pesisir," imbuhnya.
Sudah ada warga di dua tempat yakni Sungai Rasau dan Semelagi, lanjut Syafrudin, yang mau diajak kerja sama menanam mangrove.
"Cara tanam kami berdasarkan dengan melihat tumbuhnya mangrove secara alami yakni buah jatuh dan tertancap ke tanah. Kemudian, kami menanam dengan cara menancapkan sepertiga bagian buah mangrove ke dalam tanah, dan ternyata berhasil. Selanjutnya, banyak yang tertarik belajar," ujar Syafrudin.
Jika melihat pada tahun 80-an, dulunya pesisir Setapuk dipenuhi dengan pepohonan. Berbeda jauh kondisi pesisir sebelum ditanami mangrove.
Ketua Kelompok Jumadi, bercerita pada tahun 80-an ketika masih duduk di bangku sekolah, seringkali dia melihat aktifitas warga memasak gula nira kelapa dengan menggunakan bahan bakar kayu yang ditebang di sekitar hutan, dan mengakibatkan rusaknya lingkungan sekitar pantai.
"Warga masak gula, tapi kayunya hasil menebang pohon di situ juga," kenang Jumadi, Sabtu (3/1). (Media Center Singkawang/Mrchezar).
Pewarta: Media Center SingkawangEditor : Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.