Pontianak (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyatakan, dukungan terhadap rencana investasi hilirisasi kelapa skala besar melalui pembangunan pabrik pengolahan cocopeat dan produk turunan kelapa lainnya guna meningkatkan nilai tambah komoditas lokal serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
"Kami menyambut baik rencana investasi ini karena sejalan dengan program hilirisasi komoditas unggulan Kalimantan Barat, khususnya kelapa," kata Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar Harisson di Pontianak, Rabu.
Dukungan tersebut disampaikan dalam audiensi antara Pemprov Kalbar dan PT Indo Agritech Solutions (LYD Bali Group) yang menjajaki pembangunan industri pengolahan kelapa terintegrasi di Kalbar, dipimpin langsung Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar Harisson di Kantor Gubernur Kalbar.
Ia menegaskan, investasi yang masuk ke daerah harus memberikan dampak nyata, seperti penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta menciptakan nilai tambah dari komoditas yang selama ini dijual dalam bentuk bahan mentah.
Menurut dia, potensi kelapa di Kalbar sangat besar, terutama di wilayah pesisir seperti Mempawah, Sambas, Bengkayang, dan sekitarnya. Namun, pemanfaatan masih terbatas sehingga banyak bagian kelapa, seperti serabut dan kulit, belum diolah secara optimal.
"Selama ini limbah kelapa belum dimanfaatkan maksimal. Dengan adanya industri pengolahan, justru limbah itu bisa menjadi sumber ekonomi baru," katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Owner PT Indo Agritech Solutions Yvann Assiego, didampingi General Manager Christian, memaparkan rencana pembangunan pabrik dengan kapasitas produksi awal sekitar 240.000 kilogram cocopeat per bulan, yang menyasar pasar ekspor.
Ia menjelaskan, cocopeat merupakan produk olahan sabut kelapa yang banyak digunakan sebagai media tanam ramah lingkungan di pasar global. Kalbar dipilih karena ketersediaan bahan baku melimpah dan dekat dengan sentra perkebunan kelapa.
"Kami ingin membangun pabrik di dekat kawasan perkebunan agar rantai pasok lebih efisien. Banyak bagian kelapa yang selama ini belum dimaksimalkan, padahal memiliki nilai ekonomi tinggi," katanya.
Menurut Yvann, proyek tersebut merupakan investasi jangka panjang yang tidak hanya berorientasi keuntungan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
"Indonesia salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Melalui investasi ini, kami ingin meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa Indonesia di pasar global sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat lokal," tuturnya.
Perusahaan juga berkomitmen menjalin kemitraan dengan petani dan pelaku usaha kelapa setempat untuk memperkuat rantai nilai produksi.
Menanggapi hal itu, Harisson meminta agar perusahaan melibatkan masyarakat dan pelaku usaha lokal dalam setiap tahapan produksi sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga.
"Kami berharap kemitraan dengan petani dan pelaku usaha lokal benar-benar dibangun, sehingga investasi ini tumbuh bersama masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan terus melakukan koordinasi dan pendampingan agar rencana pembangunan pabrik pengolahan kelapa tersebut dapat segera direalisasikan.
"Melalui hilirisasi komoditas kelapa, Pemprov Kalbar optimistis sektor perkebunan rakyat dapat berkembang lebih produktif sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan," katanya.
