Singkawang (ANTARA) - Suara mesin tua memecah suasana pagi di sebuah rumah produksi sederhana di Kelurahan Naram, Kecamatan Singkawang Utara, Kota Singkawang, Kalimantan Barat. 

Di tengah debu sabut kelapa yang beterbangan, Rusnayadi (54) tampak beberapa kali menghentikan pekerjaannya untuk memperbaiki bagian mesin pengurai serat yang kembali macet.

Mesin itu sudah berulang kali rusak karena usia pakai yang tak lagi muda. Namun bagi Rusnayadi dan anggota Kelompok Tani (Poktan) Nyiur Hijau, alat sederhana tersebut menjadi penopang harapan agar usaha pengolahan limbah sabut kelapa tetap bertahan.

“Kalau rusak kami perbaiki lagi. Karena alat ini yang membantu usaha kami tetap hidup,” kata Rusnayadi kepada ANTARA, Sabtu. 

Di tangan kelompok usaha kecil itu, limbah sabut kelapa yang dulu hanya menumpuk di kebun warga kini berubah menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Rusnayadi menuturkan usaha pengolahan sabut kelapa tersebut mulai dirintis sejak 2013. Saat itu, ia melihat banyak limbah sabut kelapa di wilayah Naram hanya dibuang atau dibakar karena dianggap tidak memiliki nilai jual.

Berangkat dari kondisi tersebut, ia bersama sejumlah warga membentuk Poktan Nyiur Hijau untuk mengolah limbah kelapa menjadi produk yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

“Awalnya kami prihatin melihat banyak sabut kelapa terbuang begitu saja. Akhirnya kami mencoba mengolahnya supaya bisa bermanfaat untuk warga,” ujarnya.

Pada tahun yang sama, kelompok tersebut mendapat bantuan gudang dan mesin pengurai sabut dari Dinas Pertanian setempat. Mesin itulah yang hingga kini masih digunakan untuk menjalankan produksi sehari-hari meski kondisinya mulai menua dan kerap mengalami kerusakan.

Rusnayadi mengaku hingga kini ia masih mempertahankan mesin tersebut dengan melakukan perbaikan secara mandiri agar usaha tetap berjalan.

“Mesinnya sudah sangat memprihatinkan, tapi tetap kami rawat sampai sekarang karena itu yang masih kami gunakan untuk produksi,” katanya.

Berawal dari usaha rumahan dengan peralatan seadanya, Poktan Nyiur Hijau kini mampu menghasilkan berbagai produk turunan sabut kelapa seperti cocofiber, cocopeat, cocobristle, hingga cocochips yang dimanfaatkan untuk media tanam dan kebutuhan industri.

Dalam proses produksi, sekitar 70 persen hasil olahan berupa cocofiber atau serat sabut kelapa, sedangkan 30 persen lainnya berupa cocopeat yang banyak digunakan sebagai media tanam.

Meski demikian, produk yang paling banyak dipasarkan saat ini justru cocopeat karena permintaan pasar dinilai lebih stabil. Kelompok usaha tersebut menjual produk olahan dengan harga bervariasi mulai Rp10 ribu hingga Rp50 ribu tergantung jenis dan bentuk produk.

Untuk cocopeat blok, harga jual mencapai sekitar Rp17 ribu per kilogram, sedangkan cocofiber dijual sekitar Rp2 ribu per kilogram.

Dalam sebulan, Poktan Nyiur Hijau mampu mengolah sekitar 800 kilogram sabut kelapa dengan hasil produksi berkisar 500 kilogram produk olahan. Kapasitas itu dinilai masih jauh dari kebutuhan pasar karena sebagian besar proses produksi masih mengandalkan mesin lama dengan kemampuan terbatas.

“Produksi kami memang belum bisa besar karena kondisi mesin juga tidak memungkinkan untuk kapasitas tinggi,” ujar Rusnayadi.

Permintaan pasar terhadap produk olahan sabut kelapa itu terus meningkat. Bahkan pada 2026, kelompok tersebut mulai rutin melayani pengiriman ke Malaysia meski kapasitas produksi masih terbatas dan sebagian proses kerja dilakukan secara manual.

 

Cocofiber yang siap dikirim ke Malaysia (ANTARA/Ho- Dokumen Poktan Nyiur Hijau)

 

Melalui perantara, pengiriman ke Malaysia saat ini dilakukan sekitar 50 kilogram per minggu. Menurut Rusnayadi, permintaan dari negeri jiran sebenarnya cukup besar, terutama untuk produk cocofiber.

Ia mengaku pernah mendapat permintaan pengiriman hingga 20 sampai 30 ton per bulan dari Malaysia. Namun kapasitas produksi Poktan Nyiur Hijau belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

“Mereka datang langsung ke tempat kami, tapi kami belum bisa memenuhi permintaan sebanyak itu karena keterbatasan alat dan kapasitas produksi,” katanya.

Saat ini, sebagian besar cocofiber yang dihasilkan masih dimanfaatkan untuk kebutuhan kerajinan dan produksi lokal karena kelompok usaha tersebut belum memiliki mesin pendukung yang memadai untuk meningkatkan skala produksi dan pengiriman.

Menurut Rusnayadi, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah tambahan peralatan produksi seperti mesin cocopeat dan mesin pres agar usaha mereka bisa berkembang lebih besar.

Selain dukungan dari Dinas Pertanian, kelompok usaha tersebut juga mendapat pembinaan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) berupa fasilitasi pameran produk hingga ke luar provinsi serta bantuan rumah produksi.

“Dari Disperindagkop kami sering dibina dan dibantu ikut pameran produk. Itu membantu kami memperkenalkan hasil olahan sabut kelapa ke lebih banyak pasar,” ujarnya.

Perkembangan usaha mulai terasa lebih baik setelah kelompoknya memperoleh akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sekitar satu tahun terakhir. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku, memperbaiki kemasan produk, hingga menunjang kebutuhan produksi.

Menurut Rusnayadi, dukungan modal usaha membuat kelompoknya lebih siap memenuhi permintaan pelanggan tanpa terkendala keterbatasan modal seperti sebelumnya. Selain itu, bunga KUR dinilai cukup ringan bagi pelaku usaha kecil.

“Kalau dulu ada pesanan besar kami sering kewalahan karena stok dan modal terbatas. Sekarang pesanan bisa lebih cepat kami siapkan,” ujarnya.

Usaha pengolahan sabut kelapa itu juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Warga yang sebelumnya hanya membuang limbah sabut kini memperoleh tambahan penghasilan dari mengumpulkan bahan baku maupun membantu proses produksi.

Perjalanan Poktan Nyiur Hijau sendiri tidak selalu berjalan mulus. Di tengah keterbatasan alat produksi, minimnya modal, hingga mesin tua yang kerap rusak, kelompok usaha tersebut sempat beberapa kali berada di titik hampir menyerah. Namun perlahan, mereka memilih tetap bertahan dan terus berkarya dari limbah yang dulu dipandang sebelah mata.

Dari usaha kecil yang dibangun dengan penuh jatuh bangun, Poktan Nyiur Hijau kini mampu melibatkan 10 warga dalam kegiatan usaha dan mempekerjakan empat pekerja tetap untuk membantu proses produksi sehari-hari.

Bagi sebagian warga, keberadaan usaha itu bukan sekadar membuka lapangan pekerjaan, tetapi juga menghadirkan harapan baru untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Dulu kami mulai dari nol, serba terbatas dan sering jatuh bangun. Tapi kami percaya kalau terus dijalani pasti ada hasilnya. Sekarang kami bersyukur usaha ini bisa membantu ekonomi warga juga,” kata Rusnayadi.

Dia juga mengatakan, dengan omzet usaha yang masih berada di bawah Rp10 juta per bulan, Poktan Nyiur Hijau terus berupaya mengembangkan usaha berbasis limbah ramah lingkungan tersebut agar mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

 

Produk milik Poktan Nyiur Hijau Singkawang saat dijual ke masyarakat. (ANTARA/Ho- Dokumen Poktan Nyiur Hijau)

 

Salah seorang pekerja Sodiqin (30), mengaku bersyukur karena usaha pengolahan sabut kelapa tersebut memberi peluang kerja bagi masyarakat sekitar sekaligus meningkatkan pemanfaatan limbah kelapa yang sebelumnya kurang bernilai.

“Terima kasih kepada Poktan Nyiur Hijau yang telah mengolah sabut kelapa menjadi media tanam dan kerajinan sehingga bisa membuka peluang kerja untuk masyarakat sekitar,” ujarnya.

Menurut dia, keberadaan usaha tersebut membantu warga memperoleh tambahan penghasilan sekaligus mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi produktif di lingkungan sekitar.

Selain menciptakan lapangan kerja, pengolahan sabut kelapa juga memberi manfaat lingkungan karena limbah kelapa dapat diolah menjadi produk bernilai jual dan memiliki daya saing.

Melihat potensi usaha berbasis limbah tersebut, dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dinilai perlu terus diperkuat agar mampu berkembang dan bersaing.

Anggota DPRD Singkawang, Elzi Syaiyid, mendorong pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) untuk mengoptimalkan pembinaan, pengawasan, serta penguatan program pemberdayaan bagi pelaku UMKM.

Menurut Elzi, sektor UMKM memiliki peran strategis sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat karena mampu menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian daerah hingga tingkat bawah.

“UMKM merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat, sehingga perlu dukungan serius dari pemerintah daerah baik dari sisi pembinaan, pengawasan maupun penguatan program pemberdayaan,” kata Elzi.

Ia menilai kemudahan akses permodalan saat ini menjadi peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang, terutama dengan hadirnya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari sektor perbankan yang dinilai semakin berpihak kepada pelaku UMKM.

Menurut dia, program KUR tanpa agunan di bawah Rp100 juta dapat membantu pelaku usaha kecil di daerah memperkuat kapasitas usaha mereka.

“Sekarang untuk perihal permodalan melalui perbankan sudah ada program KUR di bawah Rp100 juta tanpa agunan. Itu sangat membantu pelaku UMKM di daerah,” ujarnya.

Elzi mengatakan DPRD memiliki fungsi pengawasan agar implementasi program tersebut benar-benar tepat sasaran dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pelaku usaha.

“Tentunya ini untuk kemajuan UMKM lokal guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat kita,” katanya.

Ia berharap dukungan pembiayaan yang dibarengi pembinaan usaha, pendampingan pemasaran, hingga penguatan kapasitas produksi dapat membuat UMKM lokal lebih berkembang dan mampu bersaing, termasuk pelaku usaha pengolahan limbah ramah lingkungan di Kota Singkawang.

Di tengah suara mesin tua yang terus dipaksa bekerja, Poktan Nyiur Hijau perlahan membuktikan bahwa limbah yang dulu dibuang kini mampu menghidupi banyak keluarga dan membuka harapan baru bagi ekonomi warga di pinggiran Kota Singkawang.

 

 

 



Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026