Pontianak (Antaranews Kalbar) - Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie beserta jajarannya menyambangi keluarga salah satu korban pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh pada 29 Oktober 2018 kemarin.

Salah satu warga Singkawang, atas nama Martono (36) merupakan warga kelahiran Singkawang yang beralamat di Jalan Pasar Turi, Kecamatan Singkawang Barat.

 Jenazah korban tiba di Singkawang pada hari Rabu (7/11) siang dan saat ini sudah disemayamkan di rumah duka Yayasan Tanjung Bhakti Suci (Sakok), Jalan Padang Pasir, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan.

"Saya atas nama Pemerintah Kota Singkawang turut prihatin dan berduka cita kepada keluarga Martono yang menjadi korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018 kemarin," kata Tjhai Chui Mie di Singkawang, Sabtu.

Dia pun mengakui, jika kabar duka itu baru didapatkannya Kamis (8/11) kemarin, dimana ada warga Singkawang yang tinggal di Jl Pasar Turi turut menjadi korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610.

 "Ternyata jenazahnya sudah tiba di Singkawang pada Rabu (7/11) kemarin. Jujur saja, bahwa ini merupakan sebuah berita yang mengagetkan kita semua, tapi bagaimanapun sudah terjadi," ujarnya.

Maka dari itu, Tjhai Chui Mie mengajak semua warga Singkawang untuk memberikan doa agar jenazahnya bisa diterima di sisi Tuhan YME, sedangkan keluarga yang ditinggal selalu diberi ketabahan dan keikhlasan.

Dan kepada pihak Lion Air, ia berharapkan bisa lebih baik lagi sehingga tidak ada lagi korban-korban seperti ini. "Berkaca dari banyaknya musibah yang terjadi di tahun ini, seperti kebakaran, gempa, dan lain-lainnya yang ada di Indonesia maka yang harus kita lakukan sebagai rakyat Indonesia adalah memperbanyak doa supaya tidak ada lagi musibah-musibah yang terjadi di Indonesia khususnya di Kota Singkawang," ujar dia

Menetap di Jakarta
Di tempat yang sama, Tjhin Tji Fan alias Afan yang merupakan ayah kandung dari Martono menjelaskan, korban sudah lama menetap di Jakarta selama kurang lebih 5 tahun. "Martono sudah 5 tahun yang lalu pindah ke Jakarta. Di sana ada buka usaha bengkel," ujarnya.

Korban, katanya, merupakan anak pertama dari delapan bersaudara. Dia juga sudah mempunyai istri dan dikarunai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.

Diceritakan Afan, musibah yang dialami Martono terjadi saat sedang mengantar mertuanya ke Bangka Belitung dengan menggunakan pesawat Lion JT-610. Namun, keberangkatan Martono juga tidak diketahui olehnya.

"Saya tidak ada diberitahu kalau Martono pergi mengantarkan mertuanya saat itu," ceritanya.

Afan mangatakan, mengetahui Martono pergi bersama mertua dari keluarga di Jakarta. "Saya dihubungi sepupu saya kalau anak saya pergi dengan mertuanya dan pesawat yang jatuh itu (Lion Aor JT-610) salah satu penumpangnya anak saya," ungkapnya.

Mendapat kabar tersebut, pada Senin (29/10) Afan berangkat Ke Jakarta untuk memastikan kabar tersebut. Di Jakarta, dia langsung ke Posko pencarian korban untuk mengetahui kondisi anak pertamanya.

"Selama 8 hari saya berada di Jakarta untuk memastikan kalau korban itu anak saya. Disana juga saya melakukan tes darah dan DNA untuk dicocokkan. Hasilnya baru diketahui hari Selasa (6/11). Dan benar itu anak saya," ungkapnya.

Setelah mengetahui korban tersebut adalah anaknya, pada Rabu (7/11) dia membawa jenazah anaknya untuk selanjutnya dimakamkan di Singkawang.

"Jenazah korban sudah tidak utuh lagi, yang diketemukan dan dibawa ini hanya kaki dan tangan saja. Karena adik-adiknya juga sudah tiba di Singkawang. Cuma istri dan anak-anaknya saja yang tidak bisa datang, karena takut dan trauma untuk naik pesawat," katanya.
 

Pewarta: Rendra Oxtora

Editor : Teguh Imam Wibowo


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2018