Dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak generasi dari milenial yang terkena penyakit hipertensi sebagai akibat gaya hidup yang tidak sehat. Padahal mereka masih dalam usia produktif sehingga sangat disayangkan apabila terkena penyakit itu dan biaya pengobatannya tidak murah.

Menurut Presiden Perhimpunan Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH, hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekuatan aliran darah yang berasal dari jantung sehingga mendorong dinding pembuluh darah atau arteri.

Hipertensi sendiri masih menjadi salah satu penyebab kematian nomor satu di dunia dikarenakan dampak komplikasi yang akan menjadi akar dari penyakit-penyakit lainnya, seperti stroke, gagal ginjal, gagal hati, serangan jantung, hingga hilangnya penglihatan.

InasSH menyatakan bahwa hipertensi merupakan sentral masalah dari timbulnya penyakit-penyakit organ lainnya. Tidak hanya kepada organ tertentu, seperti ginjal, hati dan jantung, tetapi juga ke seluruh organ di tubuh yang terpengaruh melalui pembuluh darah.

Selanjutnya dr. Tunggul menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat termasuk petugas kesehatan, pemerintah, bahkan awak media untuk mendukung adanya Gerakan Peduli Hipertensi dikarenakan masyarakat belum terlalu paham bahwa hipertensi sangat berbahaya dan harus dicegah.

Menurut sebuah postulat lama bernama Rule of Halves menyatakan bahwa separuh dari orang yang menderita hipertensi bahkan tidak menyadarinya. Lalu, separuh yang mengetahui menderita hipertensi tidak berobat dengan seharusnya, dan separuh diantaranya berobat tidak terkontrol dengan baik. Oleh karena itu InaSH mengharapkan supaya masyarakat dapat lebih mewaspadai dan mempunyai informasi seputar penyakit hipertensi.


Penyebab kematian dini

Menurut penelitian Asia BP@Home Study 2017, hipertensi menyebabkan kematian dini sekitar 1,4 miliar orang di dunia yang mayoritasnya adalah penduduk di negara berkembang.

Disamping itu, angka kematian pasien akibat penyakit kardiovaskular (CVD) atau penyakit yang berkaitan dengan pembuluh darah dan jantung di Asia sangatlah tinggi yang disebabkan oleh tingkat kesadaran hipertensi yang masih rendah dan banyak dokter yang belum menyadari bahwa variabilitas tekanan darah mempengaruhi peningkatan risiko kardiovaskular.

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang membebani masyarakat. Menurut pakar hipertensi di Indonesia Prof. Dr. dr. Suhardjono, SpPD, K-GH, K-Ger, diperkirakan pada tahun 2025 hipertensi akan diderita oleh 1,56 milyar penduduk dunia dan akan terus bertambah jika tidak ditanggulangi dengan baik.

Hipertensi dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada generasi milenial, atau mereka yang berusia 18 hingga 39 tahun keatas pada tahun ini. Generasi milenial menempati 68,7 persen dari populasi (SUPAS 2015) dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia, diharapkan dapat melakukan deteksi dini terhadap penyakit hipertensi.

Menurut data Riskesdas 2018, sebanyak 34,1 persen masyarakat Indonesia dewasa umur 18 tahun ke atas terkena hipertensi. Angka ini mengalami peningkatkan sebesar 7,6 persen dibanding dengan hasil Riskesdas 2013 yaitu 26,5 persen.

Selain itu, prevalensi hipertensi naik dari 25,8 persen pada tahun 2013 menjadi 34,1 persen pada tahun 2018 lalu. Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 18-39 tahun telah mencapai angka 7,3 persen dan prevalensi pre-hipertensi pada kelompok usia tersebut mencapai angka yang cukup tinggi, yaitu 23,4 persen.

Maka dari itu, Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH) menghimbau generasi milenial untuk mewaspadai adanya penyakit hipertensi dengan melakukan pencegahan dan pengontrolan terhadap hipertensi. Mereka juga dianjurkan melakukan modifikasi salah satu faktor penyebab hipertensi, yaitu melakukan pola hidup sehat sehingga mengurangi risiko terkena hipertensi.

Menurut dr. Paskariatne Probo Dewi Yamin, SpJP, seorang pakar hipertensi, salah satu faktor risiko hipertensi adalah gaya hidup yang tidak tepat yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum milenial.

Gaya hidup yang dimaksud tersebut adalah gaya hidup instan yang mengakibatkan kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh kaum milenial, selain itu juga kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji dan mengandung vetsin (monosodiun glutamat/ MSG).

Merokok juga menjadi salah satu penyebab hipertensi. Faktor psikososial seperti stres akibat pekerjaan, sikap tidak sabar, dan konflik dengan orang lain juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi.

Selain faktor-faktor tersebut, obat-obatan juga dapat menimbulkan peningkatan tekanan darah, yaitu seperti obat penghilang rasa nyeri, seperti ibuprofen, obat hormon, seperti pil kontrasepsi, obat penurun berat badan yang biasa dikonsumsi oleh kaum milenial, hingga agen stimulan seperti nikotin.

Selain itu, usia juga menjadi faktor lain penyebab hipertensi, bahkan etnis Amerika keturunan Afrika menempati risiko tertinggi terkena hipertensi. Keturunan juga merupakan faktor penyebab hipertensi. Beberapa peneliti meyakini bahwa 30-60 persen kasus hipertensi adalah diturunkan secara genetis.


Pencegahan

Pencegahan adalah suatu tidakan wajib untuk mencegah penyakit hipertensi daripada harus mengobati. Menurut InaSH, tindakan pencegahan primer adalah tindakan untuk mencegah terjadinya penyakit hipertensi tersebut.

Tindakan pencegahan tersebut adalah seperti melakukan lebih banyak aktivitas fisik, serta menjaga pola makan yang teratur dan sehat dengan mengurangi takaran garam dan MSG yang ada di makanan, juga berhenti merokok atau mengkonsumi minuman beralkohol dan yang terakhir adalah rutin memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter.

Tindakan selanjutnya adalah tindakan pencegahan sekunder, yaitu mencegah komplikasi pada penderita hipertensi dengan cara pengobatan rutin. Memeriksakan tekanan darah dengan rutin, minum obat-obatan secara teratur dan rutin memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui ada atau tidaknya komplikasi yang disebabkan oleh hipertensi.

InaSH menghimbau kepada kaum milenial untuk rutin memeriksakan tekanan darah ke dokter dikarenakan hipertensi dianggap sebagai silent killer karena tidak menunjukkan suatu tanda-tanda khusus yang menandakan bahwa seseorang terkena hipertensi.

Paskariatne menyatakan bahwa keyakinan yang dimiliki masyarakat tentang sakit kepala merupakan gejala hipertensi adalah tidak benar, karena kembali lagi kepada pernyataan bahwa hipertensi dianggap sebagai Silent Killer yang tidak mempunyai gejala khusus yang menandakan bahwa pasien tersebut terkena hipertensi. dr. Paskariatne selanjutnya menambahkan bahwa jika ada pasien yang mengeluhkan sakit kepala saat hipertensi itu semata-mata hanya sakit kepala yang tidak ada hubungannya dengan hipertensi yang dimiliki oleh pasien.

Oleh karena itu, masyarakat di seluruh dunia khususnya kaum milenial harus sadar bahwa hipertensi tidak boleh disepelekan, namun justru butuh perhatian khusus.*

Pewarta: Citra Maharani Herman/Ganet Dirgantara

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2019