Bupati Sambas, Satono terbang ke Jakarta untuk menjadi pemateri dalam kegiatan Latihan Kepemimpinan (Leadership Training) Da’i oleh Pengurus Pusat (PP) Pemuda Dewan Dakwah Indonesia (DDI) sekaligus reuni alumni STID Mohammad Natsir angkatan 1999, Rabu (8/9/2021).

Dalam kesempatan itu, Bupati Satono mengatakan menjadi seorang pendakwah harus bisa beradaptasi dengan perubahan trend di lapangan, pendakwah juga harus punya strategi dan program kerja yang akan dilakukan. Karena saat ini tantangan yang harus dihadapi dalam berdakwah semakin besar dan semakin kompleks.

Baca juga: Ikuti lomba takbir, dakwah dan tahfiz Quran Muhammadiyah Kalbar

“Berdakwah itu harus punya strategi dan program, tidak sekedar menyampaikan syiar Islam saja namun pendakwah harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Apalagi sekarang dunia dakwah berdekatan dengan politik dan sebagainnya. Artinya tantangan semakin bersar dan kompleks,” katanya.

Sebagai alumni STID Mohammad Natsir satu-satunya yang menjadi Bupati, Satono pernah mendapat pesanan dari Ketua STID yakni Pak Syuhada, bahwa menjadi seorang pemimpin harus bekerja ikhlas dan cerdas. Pemimpin juga harus memiliki leadership management yang kuat sebagai modal utama.

“Pendakwah itu mengajak orang untuk berubah menjadi lebih baik. Mengacu pada syiar keislaman, dan setiap ayat Allah SWT yang disampaikan harus dilakukan dengan ikhlas. Selain itu pendakwah juga harus cerdas, karena akan berhadapan dengan beragam karakter sosial masyarakat,” katanya.

Seorang pendakwah kata Satono, harus bisa berperan aktif dalam pembangunan daerah dengan cara membangun sinergitas dengan semua pihak termasuk pemerintah. Jangan sampai pendakwah malah mengajak masyarakat menetang aturan-aturan yang dibuat oleh Aulia (pemimpin).

Baca juga: Dakwah dan pendidikan Islam harus beradaptasi dengan teknologi

“Seperti saat ini misalnya, kita sedang dilanda pandemi Covid-19, sebagai pendakwah harus bisa mengambil peran membantu pemerintah dalam penaganannya. Misal, pendakwah bisa mengajak masyarakat agar mau di vaksin,” katanya.

Pendakwah harus punya tujuan menjadikan dirinya pemimpin di tengah masyarakat. Seorang pemimpin kata Satono, bukan mengumbar janji melainkan menawarkan program.

Satono memberi contoh, sebagai Bupati, dia sudah memenuhi beberapa program yang ditawarkan ke masyarakat saat kampanye. Diantara yang sudah dia lakukan adalah meluncurkan program sehat Satono-Rofi (Prosesar). Sehingga masyarakat bisa berobat gratis di kelas tiga.

“Beberapa yang sudah saya penuhi seperti Prosesar, menambah kuota pupuk bagi petani dan lain sebagainya. Jika pendakwah sudah jadi pemimpin itu tidak sekedar dakwah saja, tapi ekonomi masyarakat juga harus dipikirkan,”

Terakhir, Satono mengatakan pendakwah juga bisa berperan aktif sebagai pendidik. Di Sambas, dia telah mendirikan Rumah Da'i sebagai wadah mencetak para pendakwah sejak dini.

Baca juga: Ustadz dan kiai di Tanjungpinang dakwah lewat medsos, akibat COVID-19
Baca juga: Delapan WN India dipersilakan melanjutkan dakwah
Baca juga: Dewan Dakwah Pontianak galang dana untuk peduli Palestina

Pewarta: Dedi

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2021