Kapal wisata "bandong" perlahan membawa wisatawan menuju hamparan Danau Sentarum. Rasa penasaran tentang keindahan alam di Jantung Borneo tersebut terjawab sudah setelah kami para jurnalis di Kalbar menempuh perjalanan darat sekitar 17 jam dari Kota Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalbar.

Hamparan danau memesona di kelilingi perbukitan dan pergunungan tampak di depan mata. Beberapa pulau kecil terserak dinaungi awan berarak seolah mendekap kuat.

Para jurnalis yang menjadi peserta Capacity Building Forum Komunikasi Bank Indonesia (BI) Kalbar yang mengeksplorasi pesona Danau Sentarum tersebut, seperti tak mau berhenti untuk mengambil gambar, merekam video dan swafoto. Meski sebagian sudah pernah menikmati pesona Danau Sentarum, tapi mereka tetap tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Danau Sentarum yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu telah ditetapkan menjadi taman nasional sejak 1999. Berdasarkan Permen LHK Nomor:P.7/Menlhk/Setjen/OTL.0 /1/2016, maka pengelolaan Taman Nasional Betung Kerihun digabung dengan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS).

Luas TNDS mencapai 127,4 ribu hektare dari luas wilayah Kabupaten Kapuas Hulu 29.842 kilometer persegi. TNDS tersebut terbagi beberapa zona yakni zona inti 5.131,43 hektare, rimba 6.781,28 hektare, pemanfaatan bidang wisata 1,309,59 hektare, rehabilitasi 1.976,82 hektare, tradisional 111.298,82 hektare dan khusus 895,46 hektare.

Untuk interaksi masyarakat dengan kawasan terdiri dalam kawasan yang tersebar di Kecamatan Selimbau, Suhaid, Batang Lupar dan Badau atau meliputi 10 desa terdiri 2.292 kepala keluarga (KK) dan 7.751 penduduk.  Kemudian, untuk di sebagian dalam kawasan di empat desa terdiri 1.573 KK dan dengan jumlah 5.326 penduduk. Sedangkan di luar kawasan hanya di Kecamatan Jongkong di dua desa terdiri 464 KK dan 1.481 penduduk.

Danau Sentarum bagi pecinta wisata minat khusus, peneliti dan penggiat wisata dan bahkan wisatawan mancanegara sudah tidak asing lagi. Satwa dan tumbuhan endemik, hasil hutan dan budaya di TNDS menjadi daya tarik tersendiri untuk datang melihat langsung sekaligus bercengkerama dengan ekowisata yang disajikan.

Menyadari pesatnya kemajuan teknologi informasi yang berbasis digital dan kaitan dengan ekowisata, Balai Besar Taman Nasional Betung Karihun dan Danau Sentarum menghadirkan aplikasi boking online wisata berbasis website. Hal itu untuk memudahkan wisatawan untuk berkunjung dan menikmati keindahan ekowisata di taman nasional tersebut. Bahkan, dari aplikasi setiap kegiatan dan waktu pelaksanaan serta informasi menariknya disajikan.
 
Seorang warga Majang memperlihatkan madu asli daerah tersebut yang sudah dikemas. Pulau Majang menjadi sentra madu di Danau Sentarum. (ANTARA/Dedi)


Berdaya dan Lestari

Secara histori, masyarakat lebih dulu bermukim di TNDS, baru ada penetapan sebagai kawasan taman nasional. Semangat untuk pelestarian dengan ditetapkannya sebagai taman nasional tentu tidak bisa dibenturkan dengan keberlanjutan penghuninya di kawasan tersebut untuk memanfaatkan kekayaan alam yang ada. Hal itu lah melatarbelakangi dan sekaligus mendorong pengelola TNDS untuk berpikir keras agar dua kepentingan tersebut sejalan.

Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Lanjak Balai Besar Tana Bentarum, Gunawan Budi Hartono, mengatakan dalam beberapa tahun belakangan pihaknya menerapkan konsep masyarakat diutamakan baru pelestarian. Masyarakat diutamakan dalam kerangka untuk berdaya, karena dengan berdaya otomatis bisa menjadi bagian atau pejuang pelestarian. Beberapa pendekatan dilakukan oleh pihak TNDS melalui sejumlah program dan aksi sederhana. Al hasil, kini mulai perlahan membuahkan hasil.

Dalam TNDS terdapat delapan ekosistem flora dengan jumlah 675 flora dan 154 spesies anggrek. Untuk fauna atau satwa terdapat mamalia 147 jenis, 310 jenis burung, 266 ikan dan 31 jenis herpetofauna. TNDS identik dengan arwana super red, anggrek, bekantan, burung enggang dan termasuk langur borneo. Untuk produksi madu hutan mencapai 15-30 ton per-tahun, dengan nilai mencapai Rp1,5 – 4,5 miliar per tahun dan nilai ekonomi ikan yang ditangkap oleh masyarakat mencapai Rp15,5 miliar per tahun.

Dalam pengawasan TNDS, pihak pengelola saat patroli sebelumnya menggunakan seragam sebagai polisi hutan. Hal itu membuat kesan dan citra masyarakat menjadi obyek yang selalu diawasi. Hal itu diubah. Petugas saat patroli menggunakan tidak menggunakan pakaian seragam. Petugas juga dituntut bergaul dan membaur di tengah masyarakat.

"Terbukti kiat tersebut manjur dan pesan program pelestarian mulai dilirik masyarakat dan bahkan bagian untuk bersama mengawasi agar ekosistem tersebut terjaga," ujar Gunawan.

Sebagai daerah endemik ikan arwana jenis super red, maka agar satwa kebanggaan Kalbar  tersebut tetap lestari, masyarakat dilibatkan untuk menjaga kawasan khusus yang ditetapkan untuk dikembangbiakkan ikan hias tersebut. Sebanyak 274 ikan arwana super red dilepas dan anakannya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pendapatan. Namun dengan catatan indukan terus dilestarikan dan 10 persen dari anakan kembali di lepas di kawasan danau yang telah ditetapkan untuk budi daya. Saat ini jumlah ikan arwana super red yang sudah digulirkan ke kelompok lainnya sebanyak 100 ekor.

Selanjutnya, agar ada nilai tambah dari kekayaan alam sebagai sentra ikan air tawar dari Danau Sentarum beserta madu hutan di Kalbar, dilakukan pendampingan mulai produksi hingga pemasaran kepada masyarakat di Kawasan TNDS. Untuk hasil produksi pengolahan mulai dari keripik ikan, kerupuk basah, bakso ikan, ikan asin kemasan hingga lainnya kini terus berjalan. Madu juga mulai dikemas dengan baik dan merek tersendiri. Saat ini daerah yang menjadi sentra pendampingan yakni di Pulau Majang, Danau Sentarum yang berbasis gender atau dikelola ibu - ibu rumah tangga di daerah setempat.

Pengelola Program Forest Investment Program 1 Kalbar, Siti Rofiah yang mendampingi masyarakat Majang mengatakan bahwa program pengolahan menjadi wadah peningkatan pendapatan masyarakat. Menurutnya dengan program tersebut diversifikasi produk dan pasar bisa dimaksimalkan sehingga berkorelasi ke pendapatan masyarakat.

"Sebelumnya masyarakat hanya menjual ikan segar dan ikan asin. Hal itu dari sisi pendapatan jauh lebih rendah setelah diolah menjadi produk turunan dari ikan seperti bakso, sosis dan lainnya. Saat ini ada 26 warga yang terlibat dan produk sudah mulai diterima mini market dan pemesanan secara langsung, pendapatan meningkat," kata dia.
 
Kepala BI Kalbar, Agus Chusaini berfoto bersama sejumlah jurnalis di puncak Bukit Tekanang. (ANTARA/HO)


Promosi Wisata

TNDS memiliki sejumlah ekowisata menarik, termasuk wisata atraksi dan budaya. Untuk ekowisata yang patut dikunjungi selain hamparan Danau Sentarum itu di antaranya Wisata Pulau Sepandan dengan fasilitas resort dan panorama Danau Sentarum yang menarik. Pengunjung bisa mandi di danau, dan ketika sore hari bisa menikmati matahari terbenam. Bahkan, di waktu tertentu bisa mengintip burung enggang memakan buah kayu ara yang berada di pinggir danau ketika pagi hari.

Potensi wisata lainnya, Wisata Bukit Tekenang, pengunjung bisa melihat landskap Danau Sentarum di puncak bukitnya. Obyek wisata favorit Bukit Tekenang sebagaimana namanya memberikan kesan karena dapat melihat sebagian besar kawasan TNDS dari ketinggian 350 meter di atas permukaan laut. Di bawah bukit tersedia fasilitas resort sehingga bisa menginap dan menikmati kawasan tersebut lebih lama.

Sementara itu,   Wisata Bukit Vega  menawarkan pemandangan alam dan kekayaan anggrek serta budi daya arwana, Wisata Bukit Semujan yang juga bisa melihat hamparan Danau Sentarum dan Wisata Rumah Betang Meliau yang menawarkan fasilitas menginap dan kegiatan memancing.

Untuk wisata atraksi, yakni Wisata Susur Danau Dengan Kapal Bandong dan Festival Danau Sentarum yang telah menjadi agenda tahunan dan menjadi 100 Top Wonderful Event Nasional atau Kharisma Event Nusantara.

Dengan segala daya tarik yang ada, Kantor Perwakilan BI Kalbar ikut mempromosikan keberadaan destinasi wisata unggulan Kalbar tersebut . BI memafilitasi sejumlah jurnalis dari berbagai media untuk menggali lebih dalam secara langsung TNDS dan menulisnya untuk diberitakan secara masif.

Kepala Perwakilan BI Kalbar, Agus Chusaini mengatakan promosi wisata perlu dijalankan dan butuh peran semua pihak termasuk dari dukungan media massa dengan mamanfaatkan berbagai platfrom digital agar pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di Kalbar dapat dimaksimalkan.

"Kegiatan Capacity Building Forum Komunikasi BI, 13 - 17 Desember 2022 ke TNDS ini sebagai dukungan kami kepada pemerintah provinsi yang terus kampanye Wisata ke Kalbar Jak. Destinasi di TNDS sangat menarik dan potensial tinggal dikemas dan dipromosikan dengan maksimal. Dalam kesempatan itu saya bisa melihat secara langsung kegiatan panen madu dan prosesnya. Hal itu bisa menjadi destinasi menarik untuk dijadikan paket wisata. Kalau selama ini orang hanya melihat di Youtube bagaimana bisa melihat langsung dan terlibat panen madu," kata dia.

BI Kalbar terus berkomitmen dalam memajukan ekonomi daerah termasuk di sektor pariwisata dan UMKM. Koordinasi dengan pemerintah provinsi dan daerah untuk menggerakkan sektor yang memberi dampak luas terhadap pendapatan dan ekonomi daerah terus dijalin agar kolaborasi bisa terwujud. Sejauh ini melalui program sosial BI, sudah banyak destinasi atau penggiat wisata dan UMKM tersentuh dan didampingi di Kalbar.


Konten, Konteks dan Kreatif

Media massa saat ini tengah terpapar begitu banyak konten yang bertebaran di media sosial hingga sulit membedakan antara suara (voice), dengan bising (noise). Redaktur Pelaksana Koran Sindo, Hatim Varabi mengatakan agar konten dapat menonjol di tengah kebisingan, media perlu memahami strategi agar konten tersebut mencuri perhatian pembaca termasuk di sektor pariwisata. Tiga kunci utama yang diperlukan saat untuk itu yakni konten, konteks dan kreatif.

Konten bermakna narasi yang mampu memancing kesadaran, pemikiran serta pertimbangan audiens. Untuk itu mengedepankan aspek logika, emosional atau kombinasi dari keduanya. Sementara konteks berkaitan dengan relevansi yang akan menghubungkan narasi dengan target audiens. Konteks bisa berupa data, fakta, ikatan, kedekatan, sebab-akibat, pemancingan minat, atau kebutuhan.

Sedangkan kreatif, berupa strategi agar narasi yang dibangun mendapat perhatian sedikit lebih lama dari target audiens. Dunia yang semakin bising, menarik perhatian audiens hanya 0,1 detik atau lebih lama itu, semakin mahal dan sulit.

“Kita berada di dunia yang sangat datar. Terkadang, media tidak ada lagi menggunakan model piramida agenda setting dalam membuat konten. Semuanya terasa horisontal," jelas dia dalam Capacity Building Forum Komunikasi BI di hadapan para jurnalis.

Era ini sebagai era konvergensi media, hal tersebut merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi digital yang ada, khususnya karena keberadaan internet.

"Perkembangan teknologi komunikasi digital dewasa ini berdampak juga terhadap produksi pesan, pengelolaan konten, dan distribusi pesan melalui digitalisasi," tutupnya.

Pewarta: Dedi

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2022