Jakarta (ANTARA Kalbar) -  Dari 11 wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara lain, tiga di antaranya merupakan perbatasan di wilayah darat. Karena itu mata uang yang sekiranya banyak digunakan secara bersamaan dengan rupiah oleh masyarakat di perbatasan terdiri dari ringgit Malaysia, dolar Papua Nugini, dan peso Filipina serta dolar Timor Leste.

Deputi Gubernur BI Ronald Waas seusai Seminar Nasional Mengembangkan Pembangunan Ekonomi di Daerah Perbatasan mengatakan,  banyaknya mata uang asing yang beredar di wilayah perbatasan dikarenakan susahnya transportasi dan keterbatasan infrastruktur bagi masyarakat untuk mencapai lembaga keuangan yang banyak terdapat di kota besar.

Kemudian dampak yang terjadi karena lemahnya pembangunan infrastruktur di daerah perbatasan adalah masyarakat lebih memilih membeli barang di negara tetangga karena harga yang lebih murah.

Warga perbatasan juga banyak yang menjual komoditas domestik kepada negara lain, sehingga kekhawatiran yang terjadi adalah timbulnya kerawanan dan ideologi yang mengancam kedaulatan NKRI.

Dia mengaku sebesar 80 persen uang yang kembali ke BI dari program pertukaran mata uang asing t ersebut berkondisi lusuh atau tidak layak edar.

Selain itu, masih ada masyarakat yang menggunakan rupiah yang sudah ditarik dari peredaran oleh bank sentral.

"Kita harus berikan perhatian kepada daerah perbatasan, tidak perlu langsung semua, bisa dimulai pilot projek, dan BI siap dukung program pembangunan daerah," tutur Ronald.

 (B019)




Editor : Zaenal A.

COPYRIGHT © ANTARA 2026