Semoga saja ini semakin membuka mata pemerintah pusat agar Jembatan Kapuas III segera diwujudkan.
Pontianak (Antara Kalbar) - Bak sebuah pendulum, hantaman tongkang pembawa bauksit ke pilar keempat yang membuat Jembatan Kapuas I Pontianak "bergoyang" pada Jumat (30/9) sekitar pukul 19.24 WIB, kini semakin berdampak ke sekitarnya.

Beberapa hari terakhir, masyarakat Kota Pontianak harus berhadapan dengan kemacetan panjang dan jarak tempuh yang bertambah 16 kilometer karena kendaraan yang melewati Jembatan Kapuas I dibatasi hanya untuk roda dua.

Bahkan ke depan, Jembatan Kapuas I bakal ditutup total karena tahap perbaikan akan dimulai. Rapat Koordinasi Jembatan Kapuas I yang dipimpin Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya memutuskan penutupan direncanakan selama satu minggu dimulai Kamis (5/9).

Jembatan Kapuas I mempunyai delapan pilar utama. Setiap pilar terdiri dari dua tiang utama, yang di bagian bawahnya ditopang oleh 15 tiang yang menancap ke dasar sungai. Antara dua tiang utama dan 15 tiang penopang tersebut, terdapat bagian yang di semen.

Fungsinya selain sebagai penahan bagian bawah dua tiang utama, juga menjadi ujung atas dari 15 tiang penopang. Seolah-olah menjadi pengikat keduanya.

Tiang penopang tersebut menancap hingga kedalaman 40 meter - 60 meter dari permukaan dasar sungai. Sedangkan ketinggian dari dasar sungai ke semen pengikat, sekitar 18 meter.

Setiap pilar terutama yang ada di bagian sungai dilindungi oleh pelindung yang terbuat dari tiang dan plat besi berukuran tebal. Saat kejadian, satu dari 15 tiang penopang di pilar empat terkena hantaman hingga terlepas dari semen pengikat.

Selain itu, terdapat retakan di semen pengikat yang mengarah ke bagian atas. Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalbar Jakius Sinyor, setelah kejadian dan tongkang yang menghantam pilar jembatan itu terlepas, kendaraan dibolehkan melewati jembatan.

"Semula, keretakan masih tiga milimeter. Namun ketika kendaraan roda empat dan enam juga dibolehkan lewat, retaknya bertambah menjadi lima milimeter," katanya menjelaskan.

Kepala Balai Besar Jalan Wilayah Kalimantan Adrinanda mengatakan, akan digunakan sistem "grooting", menginjeksi dengan semen khusus, semacam lem, untuk menutupi dan menyatukan retakan. Ia memperkirakan dalam kurun waktu dua atau tiga hari, semen tersebut sudah mulai keras dan menyatu.



Fakta-fakta Lain

Saat rapat koordinasi tersebut, sejumlah fakta terkuak ke permukaan. Sepanjang tahun 2013, sudah tiga kali Jembatan Kapuas I ditabrak tongkang. Bahkan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, tercatat 14 kasus tabrakan. Namun selama ini tidak pernah terdengar tindak lanjut maupun sanksi yang diberikan kepada pelaku.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak, Ir Elvira M Ph D mengungkapkan, gaya tumbukan yang dialami Jembatan Kapuas I sangat besar. Ia mengasumsikan, selain beban dari tongkang dan bauksit yang diangkut, gaya tumbukan itu ditambah kecepatan arus sungai saat kejadian. "Mungkin sekitar 4.600 ton," ujar dia.

Besarnya gaya hantaman itu membuat satu tiang pancang terlepas, telapak pondasi retak, dan jembatan bergoyang. Warga di sekitar jembatan pun ikut merasakan hantaman tersebut. Belum lagi kepanikan warga yang tengah melintas di atas Jembatan Kapuas.

Direktur Polair Polda Kalbar, Kombes Ramses Kamsuddin mengatakan, sejak tujuh bulan lalu, ketika rapat bersama Kapolda dan legislatif, sudah mengingatkan bahwa fender atau besi pelindung pilar Jembatan Kapuas I, tidak ada.

"Kami sudah minta agar diperbaiki, tetapi dari pihak Pekerjaan Umum bilang tidak ada dana," ujar Ramses.

Ia mengaku saat melintas, selalu membuka jendela kapal patroli sambil menyaksikan sosok jembatan dari bawah, sambil terbersit rasa khawatir akan ketahanannya.

Jembatan Kapuas I bentuknya identik dengan Jembatan Landak yang berjarak sekitar satu kilometer. Di sisi kiri dan kanan, kini dijadikan tempat untuk kendaraan roda dua. Bentuknya sederhana, hanya ditambah plat besi di bagian lantai untuk tempat melintas.

Padahal, ungkap Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalbar Putu Srinata, penambahan tersebut sangat tidak direkomendasikan. "Tidak dibolehkan seperti itu. Tapi karena desakan semakin padatnya kendaraan yang melintas, akhirnya dibuat seperti itu," kata dia menegaskan.

"Ini pembelajaran bagi pengambil keputusan, supaya tidak mengambil keputusan yang `ngasal`," ujar Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi Kalbar, Ary Pudyanti.

Meski Jembatan Kapuas I dan Jembatan Landak fungsinya sangat vital bagi warga Pontianak dan Kalbar umumnya, namun biaya perawatan yang dialokasikan sangatlah minim.

Kepala Balai Besar Jalan Wilayah Kalimantan Adrinanda mengatakan, biaya yang dialokasikan tahun ini hanya sekitar Rp200 juta untuk kedua jembatan tersebut. Dana sebesar itu untuk perawatan rutin seperti mengecat ulang bagian-bagian yang sudah terkelupas.

Tahun ini ada proyek pembangunan fender pelindung dengan nilai Rp3,9 miliar. "Sekarang mulai dikerjakan, tapi untuk pilar keempat, rencananya pembangunan fender pelindung dialokasikan pada tahun 2014," kata Adrinanda.

Elvira pun mengritik proyek tersebut yang dianggap asal-asalan. Menurut dia, fender itu tidak sekedar melindungi pilar jembatan dari hantaman benda luar. "Bukan hanya menancapkan tiang besi di sekeliling pilar lalu dihubungkan dengan pelat. Tetapi, fender seharusnya juga mengalihkan gaya beban," kata dia.

Ia mencontohkan Jembatan Tayan yang akan dibangun di Kota Tayan. Ia menghitung, untuk menahan ancaman hantaman benda luar, setiap pilar dilindungi fender keliling, dengan ukuran masing-masing besi pancang 1,5 meter untuk gaya 5 ribu ton. "Fender juga di disain agar ketika terjadi hantaman benda luar, benda yang menabrak langsung `lari`," kata dia.

Idealnya, ia melanjutkan, untuk jembatan bentang panjang, jarak antarpilar tiga kali lebih panjang dari benda yang akan lewat. "Jarak bentang di Jembatan Tayan, nantinya 200 meter," katanya. Jembatan yang bentang antarpilar tidak panjang, mau tidak mau proteksinya yang ditingkatkan.


50 Tahun

Jembatan Kapuas I terletak di Kota Pontianak dengan panjang 420 meter dan lebar 6 meter. Jembatan Kapuas I ini merupakan penghubung pusat Kota Pontianak dengan beberapa kabupaten lainnya di Kalbar.

Dibangun pada tahun 1980 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1982. Jembatan yang dibangun dengan dana Rp6,06 miliar ini pada awalnya difungsikan sebagai jalan tol yang berarti setiap pengguna jembatan ini dipungut tarif tol. Hingga kini, Jembatan Kapuas I kerap disebut warga Pontianak sebagai "Jembatan Tol".

Namun karena jembatan ini dianggap sudah menjadi jalur utama dan tidak ada jalur alternatifnya, pungutan tarif tol dihapus pada pertengahan 1990-an dan jembatan ini bebas dilalui pengendara.

Putu Srinata mengatakan, Jembatan Kapuas I dibuat dengan perkiraan ketahanan 50 tahun. "Sekarang sudah 30 tahun lebih, wajar kalau ketahanannya berkurang. Terlebih lagi yang menabrak tongkang besar," kata Putu Srinata.

Jembatan Kapuas I adalah salah satu simbol Kota Pontianak. Selasa (2/9), siang bolong, kembali ditabrak tongkang. Meski tidak sedahsyat kejadian sebelumnya, tetap saja membuat semua terperangah.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalbar, Jakius Sinyor pun tak dapat menutupi kegeramannya. "Kalau saya jadi polisi, sudah saya tembak," kata dia. Ia kesal, karena dengan kondisi jembatan yang statusnya darurat, peristiwa itu kembali terjadi. Bahkan, bukan tidak mungkin kalau terjadi lagi tumbukan, jembatan itu bakal ambruk.

Ketua Komisi C DPRD Provinsi Kalbar, Mulyadi M Yamin menuturkan, dari segi aturan, pernah dibuat Peraturan Gubernur yang mengatur tentang lalu lintas di Sungai Kapuas. Pertimbangannya, untuk mengantisipasi kalau bahan tambang di Kalbar mulai dieksploitasi maka jalur sungai akan menjadi sangat penting.

"Lima atau enam tahun lalu setelah melihat kondisi di Sumatera Selatan, tetapi bagaimana aturan tersebut, sudah diterapkan atau belum," kata Mulyadi, politisi Partai Golkar itu. Ia juga heran karena saat meninjau lokasi penambangan bauksit, pihak perusahaan mengatakan bauksit-bauksit yang diangkut keluar Kalbar itu hanya untuk uji sampel.

"Bayangkan, berapa ribu ton yang yang sudah keluar. Dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun," ungkap dia. Menurut Mulyadi, nilai bauksit di tongkang yang menabrak pilar Jembatan Kapuas I, diperkirakan belasan miliar rupiah.

Wakil Gubernur Christiandy Sanjaya pun enggan memperpanjang polemik siapa yang salah.

Baginya, bagaimana Jembatan Kapuas I kembali normal dan dapat digunakan masyarakat Kota Pontianak dan Kalbar agar dampak negatif ikutannya berkurang.

Kepala Balai Besar Jalan Wilayah Kalimantan Adrinanda mengatakan, untuk memulihkan kondisi telapak pondasi yang retak, sekitar satu minggu. Selain menginjeksi retakan, juga diperkuat dengan pelapis fiber di sekeliling telapak. "Biayanya sekitar Rp1,5 miliar," ujar dia.

Kemudian, akan dilanjutkan dengan uji beban untuk mengetahui dimana titik lemah Jembatan Kapuas I. Setelah itu, pondasi yang lepas akan diganti sekaligus memperbaiki secara keseluruhan. "Kalau perbaikan jangka panjang, bisa berbulan-bulan," ujar Adrinanda.

Sementara Elvira berharap, pengaturan terhadap arus lalu lintas di Jembatan Landak dan Jembatan Kapuas II yang kini mendapat imbas pembebanan, dapat dikendalikan. "Agar tidak menimbulkan masalah baru," katanya mengingatkan.

Kapal penyeberangan dari Kota ke Siantan yang selama ini hanya dilayani satu kapal, rencananya akan ditambah menjadi dua unit. Percepatan pembangunan jalan lingkar luar dan Jembatan Kapuas III pun akan didorong ke pemerintah pusat.

"Semoga saja ini semakin membuka pemerintah pusat agar Jembatan Kapuas III segera diwujudkan, dan pemerintah daerah mempersiapkan semua pendukungnya, seperti pembebasan lahan," kata Christiandy Sanjaya.

Jakius Sinyor menambahkan, pembangunan jalan lingkar luar dan Jembatan Kapuas III melibatkan tiga daerah, Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Pontianak.

"Semoga saja, semua dapat saling berkoordinasi. Kebetulan sekarang pilkada serempak," kata Jakius Sinyor.

Dampak dari pembangunan dan pelaksanaan aturan yang tidak terencana serta terlaksana dengan baik, ujung-ujungnya masyarakat yang terkena imbas. Semoga masyarakat Pontianak khususnya, dan Kalbar umumnya, dapat bersabar menghadapi fakta ini.



Pewarta: Teguh Imam Wibowo
Editor : Zaenal A.

COPYRIGHT © ANTARA 2026