Jakarta (ANTARA) - Setiap tahun, dunia memperingati World Maritime Day pada tanggal 25 September untuk mengingatkan betapa pentingnya laut bagi kehidupan manusia. Bagi Indonesia, peringatan ini memiliki makna lebih dalam.

Ketika orang membayangkan Indonesia, yang terlintas biasanya sawah hijau yang membentang, hutan tropis yang rimbun, atau hiruk pikuk kota besar. Padahal, wajah sejati negeri ini bukanlah daratan, melainkan lautan. Dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dikelilingi laut yang menyimpan salah satu kekayaan hayati terbesar di bumi.

Laut bukan sekadar bentangan air di peta, melainkan identitas nasional sekaligus masa depan kita. Ironisnya, identitas maritim itu belum tercermin sepenuhnya dalam perekonomian. Meski wilayah laut begitu luas, kontribusi sektor maritim terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) baru sekitar 7 persen, jauh di bawah potensi sesungguhnya. Laut masih seperti peti harta karun yang belum terbuka.

Di sinilah konsep ekonomi biru menjadi penting. Ekonomi biru bukan soal eksploitasi tanpa batas, melainkan keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan: menjaga ekosistem laut tetap sehat, sambil membuka jalan menuju kesejahteraan. Bagi Indonesia, ini bukan merupakan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

Potensi maritim Indonesia sungguh luar biasa. Menurut pengamat maritim Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, laut Indonesia bukan hanya menyimpan kekayaan alam, tapi juga potensi ekonomi yang sangat besar bernilai lebih dari Rp20.000 triliun per tahun.

Angka fantastis ini tercermin dalam data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang menempatkan sektor perikanan sebagai penyumbang terbesar dengan nilai sekitar 787 miliar dolar AS. Pariwisata bahari menyusul dengan 283 miliar dolar AS, sementara pertambangan, energi, dan transportasi laut masing-masing berkontribusi 225 miliar dolar AS, 86 miliar dolar AS, dan 20 miliar dolar AS. Seluruhnya membuktikan bahwa laut dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Potensi maritim Indonesia tidak hanya bernilai secara ekonomi, tetapi juga peluang kesempatan kerja bagi jutaan orang. Capt. Marcellus mengungkapkan sektor ini mampu melahirkan lebih dari 45 juta lapangan kerja baru, sejalan dengan konsep ekonomi biru yang digadang-gadang sebagai solusi bagi problem ekonomi bangsa.

Laut kita kaya dengan tuna, udang, rumput laut, hingga kerang yang diminati pasar dunia. Namun sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah, dengan nilai tambah yang minim. Jika kita membangun industri pengolahan, mulai dari makanan, farmasi, hingga kosmetik berbasis laut, maka nilai ekonominya bisa berlipat ganda dan menciptakan jutaan lapangan kerja.

Energi laut juga menyimpan harapan besar. Gelombang, arus, hingga pasang surut bisa menjadi sumber energi terbarukan. Teknologi Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), yang sudah diuji coba di Jepang, sangat sesuai dengan perairan tropis Indonesia. Jika berani berinvestasi sejak dini, Indonesia bisa tampil sebagai pelopor energi laut di Asia Tenggara.

Pariwisata bahari di Indonesia menjadi tambang emas yang ramah lingkungan. Nama-nama seperti Raja Ampat, Labuan Bajo, dan Wakatobi sudah mendunia. Keindahan alam tersebut bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga ekosistem penting yang menopang ribuan spesies dan kehidupan masyarakat lokal. Dengan tata kelola yang bijak, pariwisata bahari dapat menjadi sumber devisa sekaligus menjaga kelestarian laut.

Lebih dari itu, posisi geografis Indonesia di jalur perdagangan global adalah peluang yang tak ternilai. Sekitar 90 persen barang dunia diangkut lewat laut, dan Indonesia berada tepat di persimpangan jalurnya. Modernisasi pelabuhan dan perbaikan konektivitas antar-pulau dapat menjadikan posisi strategis ini sebagai kekuatan ekonomi nyata.

Namun, peluang sebesar itu hadir bersama badai tantangan.



Pewarta: Dr. Nenden Budiarti *)
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026