Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh terus mengambil langkah antisipatif dan strategis memperkuat peran dai perbatasan, khususnya di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi dan rawan masuknya pengaruh misionaris.
"Sejak awal terjadinya bencana, DSI Aceh telah memberikan perhatian khusus kepada para dai perbatasan yang juga menjadi korban musibah," kata Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Zahrol Fajri, di Banda Aceh, Jumat.
Dia mengatakan, beberapa hari setelah bencana, DSI Aceh secara langsung mengantarkan bantuan kemanusiaan yang secara khusus diperuntukkan bagi para dai perbatasan, terpisah dari porsi masyarakat umum.
“Para dai perbatasan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan akidah umat. Oleh karena itu, mereka mendapatkan perhatian khusus, termasuk bantuan kemanusiaan yang kami salurkan langsung pascabencana,” ujarnya.
Zahrol menambahkan, sejak bencana terjadi, DSI Aceh juga secara aktif memantau kondisi para dai perbatasan di lapangan.
Selain itu, DSI juga terus mengadvokasi berbagai keperluan dan urusan administrasi yang berkaitan dengan status dan kesejahteraan dai, mulai dari pemberkasan PPPK, honorarium, hingga hak-hak lainnya agar tetap berjalan meskipun dalam kondisi darurat.
Di tengah situasi sulit tersebut, lanjut dia, DSI Aceh juga terus mengingatkan dan menguatkan para dai perbatasan agar tetap menjalankan misi dakwah dan pembinaan keagamaan, meskipun mereka sendiri terdampak langsung.
“Kondisi pascabencana membuat psikologis masyarakat sangat rentan. Di sinilah peran dai perbatasan menjadi sangat krusial sebagai penguat iman, penenang batin, sekaligus penjaga akidah umat, terutama di wilayah perbatasan yang rawan masuknya misi keagamaan dari luar,” katanya.
Menurut dia, tantangan dakwah di wilayah perbatasan semakin berat dengan maraknya persoalan murtad, aliran sesat, serta gangguan akidah lainnya, yang diperparah oleh kondisi bencana.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Aceh menilai keberadaan dai perbatasan harus terus diperkuat secara sistematis dan berkelanjutan. Sebagai langkah jangka menengah dan panjang, juga merencanakan mengadvokasi pembangunan rumah dinas bagi dai perbatasan tahun ini.
“Rumah dinas bagi dai perbatasan sangat penting agar mereka dapat tinggal menetap di wilayah tugasnya dan lebih optimal dalam menjalankan pembinaan keagamaan. Ini akan terus kami perjuangkan,” demikian Zahrol Fajri.
