Samarinda (ANTARA) - Ulama Kalimantan Timur Kiai Haji Muhammad Haiban mengajak umat Islam secara sungguh-sungguh menghindari berbagai perbuatan tercela yang berpotensi menjadi perusak pahala ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan.
"Banyak orang menahan lapar dan haus namun tidak mendapat pahala di sisi Allah, ibarat mesin pembuat es yang fisiknya beroperasi tetapi sama sekali tidak menghasilkan es di dalamnya," ucap dia dalam kajian subuh di Masjid Islamic Center Kalimantan Timur di Samarinda, Jumat.
Tokoh agama tersebut menjelaskan bahwa secara mendasar terdapat perbedaan antara perkara yang secara hukum fikih membatalkan puasa dengan perilaku buruk yang sekadar menggugurkan ganjaran kebaikan.
Sesuatu yang membatalkan puasa secara langsung membuat ibadah rukun Islam keempat tersebut dianggap tidak ada atau tidak sah secara syariat.
"Contoh pelanggaran yang membatalkan ibadah ini antara lain adalah aktivitas makan dan minum dengan unsur kesengajaan di siang hari," katanya.
Ia menjelaskan apabila seseorang menelan makanan atau minuman karena benar-benar lupa, maka puasanya tetap dinilai sah sehingga ia wajib melanjutkan hingga waktu maghrib tiba.
Pelanggaran lainnya, katanya, melakukan hubungan suami istri pada siang hari saat Ramadhan yang tidak hanya membatalkan puasa melainkan juga mengharuskan pelaku membayar denda.
Di sisi lain, hal-hal yang tergolong sebagai perusak pahala berkaitan erat dengan ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan lisan maupun luapan emosi sehari-hari.
Selain itu, katanya, mengeluarkan perkataan buruk, kotor, atau jorok yang lazim disebut sebagai perbuatan yang menjadi penyebab utama hilangnya esensi spiritual puasa seseorang.
Ia mengatakan kemarahan tanpa sebab yang logis juga dilarang mengingat tujuan utama dari ibadah menahan lapar ini, adalah sarana melatih tingkat kesabaran manusia.
"Apabila ada pihak lain yang sengaja memancing pertengkaran, umat Islam sangat dianjurkan untuk menahan amarah dan cukup mengucapkan kalimat penolakan halus berbunyi saya sedang berpuasa," ucap Kiai Haiban.
Dia mengatakan segala bentuk praktik kedustaan, baik kecurangan dalam urusan perdagangan sehari-hari maupun pengucapan sumpah palsu di pengadilan, dipastikan menghapus seluruh ganjaran ibadah di mata Tuhan.
Kebiasaan mengumpat atau melakukan gibah dengan membicarakan keburukan orang lain di belakangnya juga diharamkan meskipun informasi yang disampaikan tersebut suatu fakta kebenaran.
Untuk meredam kerusakan pahala akibat emosi sesaat, katanya, Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan tuntunan praktis agar setiap Muslim segera mengambil air wudu ketika sedang marah.
