Pontianak (ANTARA) - Pemanfaatan lahan marginal di Kalimantan Barat (Kalbar) mulai menunjukkan arah baru. Jika sebelumnya lahan dengan keterbatasan dianggap sebagai hambatan maka kini pendekatan berbasis potensi mulai dikembangkan, salah satunya melalui budidaya kopi jenis liberika.
Hal ini disampaikan oleh Juliansyah, Pembina Kelompok Tani Batu Layar Sejahtera, Desa Sendoyan, Kabupaten Sambas saat menjadi satu di antara narasumber Workshop Liberikhatulistiwa yang menjadi bagian dari rangkaian Semarak Pariwisata, UMKM, Koperasi, dan Keuangan (SAPRAHAN) Khatulistiwa 2026 yang digelar Bank Indonesia Kalbar, Selasa (5/5/2026).
Menurut Juliansyah, Kalbar memiliki luasan lahan marginal yang cukup besar, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara pandang dalam mengelola lahan tersebut.
“Selama ini lahan marginal dianggap sebagai keterbatasan. Padahal jika kita sesuaikan komoditas dengan karakter lahannya, justru bisa menjadi potensi ekonomi yang kuat,” ujarnya.
Salah satu contoh nyata adalah pengembangan kopi Liberica oleh Kelompok Tani Batu Layar Sejahtera. Komoditas ini dinilai memiliki keunggulan adaptif terhadap kondisi lahan gambut, dataran rendah, serta tingkat kelembaban tinggi yang umum ditemukan di wilayah tersebut.
Pendekatan ini dinilai mampu memberikan dua dampak sekaligus, yakni efisiensi produksi karena kesesuaian lahan, serta peningkatan peluang ekonomi melalui produk yang memiliki diferensiasi tinggi di pasar.
Namun demikian, Juliansyah menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya berhenti pada tahap budidaya. Tantangan utama justru terletak pada penguatan rantai nilai, terutama pada aspek pascapanen, konsistensi kualitas, dan akses pasar.
“Pengembangan komoditas tidak cukup berbasis produksi, tetapi harus berbasis sistem. Mulai dari kesesuaian lahan, penguatan value chain, hingga akses pasar,” jelasnya.
Saat ini, kelompok tani yang diketuai Zunaidi mulai bergerak ke arah pengelolaan yang lebih terintegrasi, termasuk penguatan kelembagaan petani, peningkatan praktik budidaya, serta inisiasi standar pengolahan pascapanen.
Kopi Liberica yang dihasilkan juga memiliki karakter rasa yang unik, sehingga membuka peluang untuk masuk ke pasar khusus (niche market) yang lebih menekankan kualitas dibandingkan volume produksi.
Dari sisi ekonomi wilayah, langkah ini dinilai strategis karena tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi berbasis komoditas unggulan lokal yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi, termasuk peluang ekspor.
Dengan dukungan pembiayaan yang tepat, penguatan koperasi atau klaster, serta konektivitas pasar, Liberica berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi desa berbasis kawasan di Kalimantan Barat.
“Liberica bukan hanya komoditas, tetapi instrumen untuk mengaktivasi potensi ekonomi lahan marginal secara berkelanjutan,” pungkas Juliansyah.
Dalam Workshop Liberikhatulistiwa yang digelar di Halaman A Yani Mega Mall Pontianak diikuti pelaku usaha atau industri kopi di Kalbar, petani dan sejumlah pihak lainnya.
Saat Workshop Liberikhatulistiwa, narasumber lainnya yakni Cyntia Nola. Ia merupakan barista dan roestery yang berprestasi baik tingkat nasional maupun internasional. Ia sangat terkesan akan Liberika apalagi bisa membawanya pada sejumlah prestasi. Prestasinya yang pernah diraih yakni 6th Place Indonesia Brewers cup 25/26, 1st Place Regional Brewers 2025 dan 2nd Place ICiGS 2025. Kegiatan berjalan antusias dan meriah.
Pewarta: DediUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026