Pontianak (Antaranews Kalbar) - Peringatan titik kulminasi Matahari pada 21-23 Maret 2018 di kawasan Tugu Khatulistiwa Pontianak, Kalimantan Barat dimeriahkan sekitar 1.000 payung warna-warni.

"Payung warna-warni tersebut digantung menyerupai atap di sepanjang halaman dari Tugu Khatulistiwa menuju panggung utama peringatan titik kulminasi Matahari," kata Kepala Seksi Promosi Wisata Disporapar Kota Pontianak Hendra Fellani di Pontianak, Selasa.

Ia menjelaskan dengan dipasang ribuan pasang payung warna-warni tersebut, maka cocok untuk lokasi berfoto atau swafoto karena kawasan Tugu Khatulistiwa Pontianak menjadi mirip taman payung.

"Selain itu, juga ada sebuah robot kuntilanak yang siap memberikan kejutan bagi pengunjung, karena dia bisa digerakkan dengan remote kontrol," ungkapnya.

Peristiwa titik kulminasi terjadi dua kali setahun, yakni pada 21-23 Maret serta 21-23 September dan telah menjadi agenda tahunan Kota Pontianak guna menarik kedatangan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Peristiwa titik kulminasi Matahari merupakan fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi Matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan Bumi, terutama di kawasan Tugu Khatulistiwa.

Kulminasi Matahari berada tegak lurus di atas kepala manusia, yakni pada 21-23 Maret pukul 11.50 WIB dan 21-23 September pukul 11.38 WIB di Tugu Khatulistiwa Pontianak.

Kulminasi Matahari merupakan peristiwa alam yang hanya terjadi di lima negara, antara lain Indonesia, tepatnya di Pontianak, sedangkan empat negara lain, masing-masing Afrika, yaitu Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia.

Di Amerika Latin, garis itu juga melintasi empat negara, yaitu, Equador, Peru, Columbia, dan Brazil. Dari semua kota atau negara yang dilewati tersebut, hanya ada satu di dunia yang dibelah atau dilintasi secara persis oleh garis khatulistiwa, yaitu Kota Pontianak.

Hal itu menjadi ciri khusus sehingga Kota Pontianak juga dikenal dengan sebutan "Kota Khatulistiwa".
 

Pewarta: Andilala

Editor : Teguh Imam Wibowo


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2018