Pontianak (Antaranews Kalbar) - Petani cabai di Dusun Bintang, Desa Pahauman, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Akong (40), melalui kerja keras dan ketekunan menanam cabai mampu meraup untung Rp100 juta per hektar setiap kali masa tanam.

"Prospek tanaman cabai sangat besar. Jika harga tidak terlalu bergejolak maka keuntungan per hektare per sekali tanam bisa mencapai Rp100 juta," ujarnya saat dihubungi di Landak, Minggu.

Akong menuturkan keinginan ia untuk menanam cabai di daerah itu selain melihat potensi lahan, juga ingin menjadikan Kalbar agar tidak lagi memasok cabai dari Pulau Jawa. Ia prihatin Kalbar yang memiliki luas lahan dan tingkat kesuburan yang tinggi tidak mampu memasok cabai untuk di daerah sendiri.

"Sangat disayangkan kita harus memasok cabai dari Pulau Jawa. Itu yang menjadi buah pikir dan dorongan saya untuk berusaha tani cabai.

Pada sisi lain kondisi yang ada juga peluang bagi petani di sini bagaimana pasar yang luas harus diambil dengan kita yang mensuplai cabai untuk daerah ini," jelas dia.

Di areal luas lahan 7,5 hektare yang saat ini ia garap dengan tiga petani lainnya yang masih ada hubungan keluarga, menjadi satu di antara daerah produsen cabai untuk di Kalbar. Di lahan yang dikenal warga setempat Bukit Cinta, setelah umur empat bulan, ia mampu panen dalam tiga hari sekali.

Tiga hari sekali panen. Kalau ditotalkan selama sebulan ada sekitar 28 ton lebih sebulannya dalam panen raya, papar dia.

Saat membuka lahan, perawatan hingga panen, Akong memberdayakan warga setempat. Ketika panen, 200-an warga bisa ia rekrut untuk bekerja.

Pekerja tetapnya ada delapan orang. Untuk pemasaran, Akong tidak khawatir. Cabai yang dipanen, ia pasarkan ke sejumlah pasar di Pontianak melalui adiknya. Menurut dia, keuntungan pasti akan ia dapat saat harga jual per kilonya mencapai Rp30 ribu.

"Namun harga jual tidak selalu tetap. Ketika per kilogram sekitar Rp18.000, dipastikan mengalami kerugian karena tidak menutupi biaya pembukaan lahan, perawatan dan sewa lahan selama dua tahun," jelas dia

Akong memaparkan bahwa modal untuk lahan seluas 7,5 hektare seluruhnya sekitar Rp700 juta. Pemeliharan yang inten kunci keberhasilan dalam budidaya cabai.

"Tantangan terberat di sini hama. Jadi modal besar karena pengendalian hama. Selama ini dalam bertani kami masih mandiri," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan-TPH) Kalbar, Heronimus Hero menyatakan pihaknya siap mendukung karena apa yang dilakukan petani ini telah membantu pemerintah.

Kami akan sangat mendukung jika ada keperluan yang diperlukan oleh petani seperti Pak Akong ini. Kami siap, mungkin seperti dukungan program ataupun pendampingan intensif terutama mengawal perlindungan hama penyakit tanaman, ujar Hero.

Hero mengatakan, upaya bertani para petani di Bukit Cinta tentu saja karena termotivasi bahwa sektor pertanian sangat menjanjikan. Hero berharap, apa yang telah dilakukan petani cabai ini menjadi motivasi bagi masyarakat lainnya, ternyata menggeluti dunia pertanian itu sangatlah menguntungkan.

Jadi sudah sangat jelas bahwa usaha tani itu, semua komoditi memiliki peluang usaha. Jadi jangan malu berusaha tani, apakah itu di tanaman padi, tanaman cabe atau tanaman lainnya. Karena memang semuanya terbuka peluang. Asal manajemennya, kerja keras yang cukup, saya yakin itu menjadi usaha yang sangat prospek,? kata dia.


 

Pewarta: Dedi

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2018