Pengembangan budidaya padi di Provinsi Kalbar dengan intensifikasi pertanian terutama dengan pemanfaatan benih unggul membutuhkan lahan sekitar 2.000 hektare agar mandiri benih padi tersebut.

“Kalbar saat ini butuh 2.000 hektare pengembangan benih padi unggul untuk menjadi daerah mandiri benih. Sejauh ini masih sebagian didatangkan dari Pulau Jawa dan itu tantangan serta perhatian,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Florentinus Anum saat memberikan sambutan dalam Pertemuan Sosialisasi dan Koordinasi Perbenihan 2021 di Pontianak, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa saat ini baru 34 persen kebutuhan benih padi yang dapat diintervesi pemerintah baik melalui APBN maupun APBD.

“Sisanya petani swadaya dalam hal pemenuhan benih. Benih yang digunakan unggul atau tidak itu petani yang tahu,” katanya.

Untuk upaya pemenuhan benih unggul di Kalbar menurutnya sudah diupayakan seperti di Sambas 700 hektare dan Landak 300 hektare.

“Benih yang kita produksi sendiri tentu lebih adaptif dan cocok untuk iklim di Kalbar. Dari luar tentu akan bergeser. Sehingga ketergantungan benih dari luar menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Ia mengatakan bahwa benih unggul adalah jantung pertanian. Menurutnya jangan bicara peningkatan produksi dan produktivitas kalau pemenuhan benih unggul belum maksimal.

“Intinya benih sangat signifikan dalam menentukan produksi dan produktivitas. Kemandirian benih terus diupayakan,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa luas tanam di Kalbar 242,972 hektare. Dari luas tersebut ditargetkan dapat mencapai luas tanam 700 hektare.

“Sehingga dengan produktivitas 3 ton saja per hektare maka hasil beras mencapai 1,2 juta ton beras. Sedangkan kebutuhan beras 500 ribu ton per tahun. Sehingga dengan hal itu Kalbar tetap surplus. Namun di sisi lainnya, terlepas dari itu semua kesejahteraan petani yang penting juga menjadi perhatian,” jelasnya.

Pewarta: Dedi

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2021