Pekanbaru (ANTARA Kalbar) - Hawa pengap lantai dasar Pasar Bawah Pekanbaru tak lagi dihiraukan oleh Rosmaini (32). Ibu muda itu justru menjadikan aroma keringat pekerja dan ikan asin yang bercampur dengan udara panas khatulistiwa di pasar wisata itu, sebagai bahan bakar yang membuatnya makin bersemangat menjajakan kaus bertema PON XVIII.

"Kami tentu sangat berharap mendapat keuntungan lebih. Masa iya cuma jadi penonton," kata Ros, yang telah menekuni bisnis kaus khas Riau sejak 2006 lalu, di Pekanbaru, Jumat.

Ros mengaku telah mempersiapkan jauh-jauh hari, agar ia tak gigit jari saat berebut "kue" ekonomi PON XVIII/2012. Ia telah memesan ribuan kaus berlogo PON, bergambar maskot  "Bujang Serindit" atau kaus-kaus bertuliskan cabang olahraga yang dipertandingan pada perhelatan olahraga terakbar se-Tanah Air, dari rekanannya di Jakarta dan Bandung tiga bulan sebelumnya.    

"Ini belum datang semua, mungkin besok, karena banyak pengecer sudah mulai menagih. Mereka ingin secepatnya bisa berjualan," kata perempuan yang juga memiliki gerai bolu kemojo, panganan khas Riau itu.

Selain menjadi pengecer, Rosmaini juga melayani pembelian grosir untuk puluhan penjual kaus yang mulai marak di seantero arena PON Pekanbaru.

Selama menjalankan bisnisnya, Rosmaini mengaku beroleh keuntungan besar dari bisnis kaus khas Riau, namun dalam PON 2012 ini ia mengharapkan omzetnya naik berlipat-lipat, sekurang-kurangnya 200 hingga 300 persen.

"Kalau bulan-bulan biasa bisa tembus Rp20 juta. Saat PON ya kita pingin naik dua atau tiga kali lipat lah," katanya diiringi tawa renyah.

Rosmaini tidak sendirian, ada Adrizaldi (40) yang juga ingin memperoleh limpahan rejeki dari berjualan pernak-pernik PON. Dengan bermodal ratusan kaus dan pernak-pernik yang juga didatangkan langsung di Jakarta, Adri menyewa lapak di luar stadion Rumbai seharga Rp5 juta demi menggantang harapan untuk mendapatkan keuntungan berlipat juga.

Hari itu sejumlah pembeli juga terlihat mampir ke lapak Adri, membeli satu dua potong kaus berlogo PON XVIII. "Anak-anak minta dibelikan kaus PON, buat nonton di stadion besok," kata Priyono, warga Pekanbaru asal Madiun. Bersama isri dan anaknya ia membeli tiga kaus polo putih dengan lambang PON XVII di bagian dada dan lengan.

Meski penjualan hari itu belum sesuai harapannya, Adri yakin dagangannya bakal laris manis pada hari-hari mendatang. "Stadion Rumbai kan baru akan digunakan untuk pertandingan pada Minggu, jadi wajar saja kalau belum ramai," katanya.

Menurut Adri, adanya anjuran pemerintah daerah agar semua pihak turut menyukseskan PON dengan memakai kaus atau jaket berlogo PON, sangat baik untuk melariskan dagangannya tersebut. "Itu pasti sangat membantu usaha kami," ujarnya.

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah Provinsi Riau memang menganjurkan agar selama PON berlangsung para pamong praja hendaknya beratribut PON demi memeriahkan pesta olahraga itu. Rupanya anjuran itu membuat usaha Adri dan Rosmaini menjadi bertambah subur.

Ada lagi Ahmad Riska (32). Bapak dua anak itu bahkan harus menempuh ratusan kilometer dari Depok Jawa Barat demi "ngalap" berkah dari PON Riau. Pria yang kerap disapa Ares itu membawa serta tujuh karyawannya untuk menjaga sejumlah stan bazar yang disewanya dari panitia PON.

Meskipun ia mengeluhkan mahalnya sewa stan bazar pada PON kali ini, tapi ia tetap berharap mendapatkan untung "gede". Kalau pada PON Kaltim pada 2008 lalu, keuntungan Ares bisa untuk uang muka mobil, maka di Pekanbaru ia mengharapkan keuntungannya bisa buat uang muka rumah.

"Alhamdulillah usaha ini bisa memberi saya keuntungan Rp20 juta per bulan," kata Bapak tiga anak, yang dulu sempat menjadi karyawan salah satu restoran cepat saji ternama dengan gaji Rp1 juta perbulan itu.

         Ares memang spesialis pedagang pernak-pernik perhelatan olahraga. Jadi di manapun ada kejuaraan, Ares hampir selalu mengikutinya. "Hampir tiap pekan saya keluar kota untuk berjualan kaus," katanya.

    
    Dari bolu kemoju hingga soft durian
Tak hanya pedagang kaus dan pernak-pernik PON yang berburu rejeki PON, usaha penganan khas Riau seperti lempok durian dan bolu kemoju pun menggenjot produksinya berlipat-lipat demi menyambut PON 2012.

"Kita ingin tamu-tamu yang datang ke Riau menikmati makanan khas, agar wisata kuliner Riau terkenal seperti daerah lain," kata Ros, wanita yang telah menggeluti usaha bolu kemojo sejak 2003.

Bolu kemojo dan lempok durian adalah kue klasik khas Melayu Riau. Kue ini selalu jadi hidangan istimewa pada saat hajatan, kenduri dan sering pula disajikan untuk menu buka puasa serta menjadi sajian bagi tetamu pada perayaan Idul Fitri. Namun kini bolu berbentuk bunga berkelopak delapan itu bermetamorfosis menjadi ikon kuliner klasik Riau, yang dipajang hampir di semua toko oleh-oleh khas Pekanbaru.

"PON diharapkan dapat membuat khasanah kuliner Riau makin terkenal, jangan hanya terkenal karena minyaknya saja," kata Ros.

Kesibukan menyambut perhelatan olahraga terakbar juga terasa di dapur "Vizcake", pusat oleh-oleh baru Pekanbaru di Jalan Hang Tuah. Pusat oleh-oleh yang didirikan Selvi Nurlia dan Denni Delyandri itu menggandakan produksi bolu gulung durian dan soft durian, yang diaku pasangan muda itu sebagai kreasi baru kuliner Pekanbaru.


Manajer Vizcake, Exman Eka, mengharapkan PON bisa menjadi titik kebangkitan usaha kulinernya. Sejauh ini Vizcake telah memiliki sejumlah outlet seperti di Jalan Sudirman, Pasar Bawah, Jalan Kaharuddin dan Jalan Hangtuah Pekanbaru.  

Berkah PON bahkan juga dirasakan lapisan terbawah masyarakat Riau, termasuk  para tukang ojek Pekanbaru. Mereka mulai kebanjiran penyewa. Budi, pengojek yang kerap mangkal di pertigaan Jalan Bukit Barisan-Harapan Raya, Sabtu, mengakui telah mendapatkan pesanan sewaan selama dua minggu ke depan.

Ia bahkan menaikkan tarif sewa ojek hingga dua kali lipat. "Kalau hari-hari biasa Rp70 ribu. Karena ini PON, naik jadi Rp150 ribu per hari, belum termasuk bensin," katanya.

Budi juga menetapkan jam kerjanya sejak pukul 08.00-17.00 WIB. Di luar jam itu ada tarif tambahan Rp5.000 per jam. "Uangnya di bayar di depan karena saya tidak kenal penyewa ini. Terlebih dia orang luar daerah, takut nanti nggak dibayar," katanya.

Budi berharap PON berlangsung aman, lancar dan sukses agar berkah yang telah direngkuhnya tak lepas di tengah jalan. Harapan yang juga diamini oleh Rosmaini, Ares, Adrizal, Exman Eka dan banyak masyarakat Riau.

(T010)


Pewarta: Teguh Priyanto
Editor : Zaenal A.

COPYRIGHT © ANTARA 2026