Pontianak (ANTARA Kalbar) - Mengabdi dengan sepenuh hati. Empat kata yang selalu dicamkan di benak Victoria Djie, ibu dari lima orang dokter, yang juga Ketua Yayasan Rumah Sakit Umum (RSU) Harapan Bersama, Singkawang, Kalimantan Barat.
Pengabdian panjang yang dilakukan Victoria membuat rumah sakit yang ia dirikan sejak 1979 mendapatkan dua penghargaan pada tahun ini.
Yakni Runner Up Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Award 2012 dan Juara Pertama Peduli Konsumen Kesehatan dari Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI)
Bila penghargaan dari YPKKI secara nasional itu sama sekali di luar dugaannya, lain halnya dengan Runner Up Persi Award.
Ia menyiapkan berbagai hal. RSU Harapan Bersama Singkawang sebelumnya mewakili Kalbar dan masuk sebagai satu dari lima nominasi Persi Award 2012 untuk kategori Program Keluarga Berencana Rumah Sakit (Hospital Family Planning Project).
Kategori tersebut didukung oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Bagi Victoria, penghargaan itu menjadi sebuah penghargaan yang luar biasa. Meski di bidang Program KB, kiprahnya telah dimulai saat RSU Harapan Bersama masih menjadi Klinik Bersalin Viktor.
Salah satu persyaratan untuk mendapatkan Persi Award 2012, ia dan empat pengurus rumah sakit lainnya yang mendapat nominasi, memaparkan tentang kinerja Program KB masing-masing di hadapan juri.
Ia harus mengakui keunggulan utusan dari Provinsi Jawa Timur yang mendapat peringkat pertama.
Namun ia patut berbangga hati karena rumah sakit yang dikelola mampu menjadi salah satu yang terbaik secara nasional.
"Bahkan, untuk peduli konsumen kesehatan, baru yang pertama kali," kata Victoria.
Panutan
Akhir pekan lalu, BKKBN Provinsi Kalbar dan Pemkot Singkawang menggelar Grebeg Pasar di Pasar Beringin. Victoria hadir. Ini bentuk kepeduliannya terhadap Program KB.
Grebeg Pasar KB adalah gerakan bersama keluarga pas sasaran keluarga berencana. Kota Singkawang jadi tempat pelaksana tingkat Provinsi Kalimantan Barat tahun 2012.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Singkawang, Sulha Yacoub mengatakan, Grebeg Pasar merupakan rangkaian dari pelaksanaan KB KES PKK yang bertujuan menggelorakan kembali Program KB, memberikan semangat revitalisasi serta meningkatkan kepesertaan KB.
Selain di Pasar Beringin, juga diadakan sosialisasi di kompleks permukiman kalangan marjinal yang padat penduduk di wilayah Roban, Singkawang Tengah.
Ikut dalam sosialisasi itu, Deputi Adpin BKKBN Pusat, Hardiyanto, dan Kepala BKKBN Kalbar Dwi Listyawardani.
Pesertanya dari kalangan Tionghoa. Mereka duduk rapi mendengarkan pesan yang disampaikan Hardiyanto.
Victoria ikut membantu dengan mengajak dialog warga menggunakan bahasa Tionghoa. Seorang ibu lima anak yang semula terlihat malu-malu, kemudian bercerita panjang lebar. Sang ibu ingin ber-KB, tapi bingung dan ragu.
Victoria dengan tegas menjamin agar tidak takut dan ragu ikut KB. "Kalau ada apa-apa, saya yang menjamin," begitu ucapnya.
Usai sosialisasi, Victoria bercerita, kondisi itu yang kerap terjadi di lapangan. "Mereka mau bercerita kepada orang-orang yang benar-benar dipercaya," kata dia.
Dengan petugas pun, terkadang warga dari keturunan Tionghoa di situ, masih enggan bercerita.
"Akhirnya petugas kadang panggil saya, dari pada sembunyi-sembunyi, mereka lalu bercerita," ujarnya.
Ambil Sikap
Victoria yang sudah mulai terlihat lanjut itu, sejak tahun 1974 telah melaksanakan program KB.
Kota Ngabang, Kabupaten Landak (dahulu masuk Kabupaten Pontianak), merupakan tempat pertama kali ia bertugas.
Di masa itu, ia harus keluar masuk gang, rumah, bahkan sawah, untuk mengenalkan program KB. "Masa itu, banyak penolakan," kata dia.
Kondisi itu membuat ia semakin tertantang. Setiap kunjungan ke daerah, ia berupaya untuk ikut. Sampai akhirnya tahun 1979 ia memutuskan berhenti dari PNS, dan mendirikan Klinik Bersalin Viktor.
Tujuan ia mendirikan klinik tersebut bukan untuk mencari finansial. "Saya merasa bisa lebih banyak berbuat, dengan tetap menjadi PNS, peluang itu terbatas," kata dia.
Menjadi wiraswasta, ia bekerja tidak terikat waktu. Kapan pun, bisa. "Tidak terikat," kata dia.
Ia sepakat setiap masalah ada solusi. "Kalau sulit, pasti ada penyebabnya. Misalnya kendala bahasa, kemampuan finansial pasien, atau pemahaman tentang program KB itu sendiri," kata Victoria.
Namun ia tidak mau menyerah. Baginya, kalau mengalah dan alami kesulitan, artinya ia kalah dari akseptor.
"Kalau gampang menyerah, bagaimana mau menjadi juara satu," katanya menegaskan.
Di Singkawang, nama Victoria Djie mungkin kurang dikenal. Tapi kalau disebut Bidan Viki, atau Rumah Sakit Viktor, hampir semuanya tahu.
Selain menjalankan fungsi kesehatan, yayasan yang ia pimpin juga memberi bantuan beras bagi pasien yang menjalani rawat inap.
"Kasihan, kalau yang dirawat tulang punggung keluarga, bagaimana mereka memberi nafkah. Mungkin memberikan beras, bisa jadi upaya meringankan beban mereka," kata dia.
Prinsip melayani, sudah ditunjukkan Victoria Djie. Mungkin semua sepakat, dan tak perlu menolak, menjadi juara pertama Peduli Konsumen Kesehatan, penghargaan yang wajar diterima.
T011
