Purwokerto, Jateng (ANTARA) - Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto menilai kondisi sektor jasa keuangan di Banyumas Raya pada 2025 tetap stabil dan menunjukkan pertumbuhan positif, terutama pada sektor perbankan, di tengah tingginya ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global.
"Kinerja sektor jasa keuangan di wilayah kerja OJK Purwokerto yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara (Banyumas Raya) masih solid dan tumbuh positif, terutama didorong oleh sektor perbankan, meskipun dinamika global masih penuh tantangan," kata Kepala Kantor OJK Purwokerto Haramain Billady di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.
Ia mengatakan hingga akhir Oktober 2025, OJK mencatat kinerja perbankan bank umum dan bank perkreditan rakyat/syariah (BPR/S) di Banyumas Raya dari sisi aset, dana pihak ketiga (DPK), dan kredit masing-masing tumbuh sebesar 5,51 persen (year on year/yoy), 5,19 persen (yoy), dan 4,17 persen (yoy).
Menurut dia, kinerja tersebut terutama ditopang oleh bank umum di wilayah kerja Kantor OJK Purwokerto yang mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 5,21 persen (yoy), DPK 6,05 persen (yoy), serta kredit 4,99 persen (yoy).
Sementara itu, kata dia, kinerja BPR/S di wilayah kerja OJK Purwokerto hingga Oktober 2025 tercatat mengalami sedikit kontraksi, dengan aset menurun 2,91 persen (yoy), DPK turun 1,48 persen (yoy), dan kredit terkontraksi 4,25 persen (yoy).
"Tingkat kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) BPR/S masih tergolong tinggi, yakni 22,63 persen," katanya.
Ia mengatakan tingginya NPL tersebut dipengaruhi oleh proses normalisasi kredit restrukturisasi COVID-19, di mana BPR/S harus menyesuaikan kualitas portofolio kredit restrukturisasi stimulus pandemi yang berdasarkan hasil asesmen dinilai tidak dapat bertahan.
Dari sisi sebaran portofolio, kata dia, penyaluran kredit atau pembiayaan BPR/S masih didominasi kredit produktif, khususnya kredit modal kerja dengan pangsa mencapai 54 persen.
Menurut dia, kredit tersebut sebagian besar disalurkan kepada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan porsi 52 persen dari total penyaluran kredit, terutama pada sektor bukan lapangan usaha, perdagangan besar dan eceran, serta konstruksi.
Sementara pada sektor pasar modal, lanjut dia, jumlah investor saham dan reksadana di wilayah kerja OJK Purwokerto hingga Agustus 2025 meningkat masing-masing sebesar 27,93 persen (yoy) dan 22,57 persen (yoy).
"Peningkatan tersebut diikuti kenaikan nilai transaksi sebesar Rp1,47 triliun atau tumbuh 116,51 persen, yang didominasi investor berusia 21-30 tahun," katanya.
Di sektor industri keuangan nonbank (IKNB), lembaga keuangan mikro (LKM) mencatatkan pertumbuhan DPK sebesar 3,19 persen dan kredit 20,15 persen, meskipun total aset sedikit menurun 3,15 persen.
Menurut dia, total pembiayaan perusahaan pembiayaan hingga Oktober 2025 mencapai Rp4,047 triliun, dengan porsi terbesar pada sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi kendaraan bermotor.
"Pada industri asuransi jiwa dan asuransi umum konvensional, premi tercatat mengalami penurunan sebesar 26,41 persen (yoy) menjadi Rp398,78 miliar," katanya.
Dalam aspek edukasi dan pelindungan konsumen, kata dia, sepanjang Januari hingga Desember 2025 Kantor OJK Purwokerto menerima 1.124 pengaduan konsumen jasa keuangan serta 12.258 permintaan informasi debitur melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Selain itu, lanjut dia, OJK Purwokerto telah melaksanakan 116 kegiatan literasi keuangan yang menjangkau 144.773 orang dari berbagai segmen masyarakat.
"Kami akan terus mencermati perkembangan sektor jasa keuangan serta memperkuat sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya guna menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah dinamika global dan domestik," kata Haramain.
