Kalbar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memperkuat langkah antisipasi lonjakan harga bahan pokok menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah guna menjaga stabilitas pasokan serta melindungi daya beli masyarakat.
"Kita terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pihak agar pasokan bahan pangan tetap tersedia dan harga dapat terkendali," kata Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Nasional secara virtual dari Kantor Gubernur Kalbar, Pontianak, Senin.
Harisson mengatakan sinergi lintas sektor menjadi kunci pengendalian inflasi daerah, mulai dari koordinasi pemerintah kabupaten/kota hingga kolaborasi dengan instansi vertikal dan pelaku usaha.
Ia menegaskan pemerintah daerah akan segera mengambil langkah cepat apabila terjadi kenaikan harga signifikan di lapangan.
"Apabila terjadi lonjakan harga yang berpotensi memberatkan masyarakat, kita akan melakukan operasi pasar, penguatan distribusi, serta pengawasan terhadap ketersediaan barang," tuturnya.
Rapat koordinasi tersebut dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir dan diikuti kepala daerah serta instansi terkait dari seluruh Indonesia.
Tomsi menekankan periode Ramadhan dan Idul Fitri merupakan fase krusial karena meningkatnya permintaan berbagai komoditas pangan berpotensi memicu kenaikan harga.
"Kita memasuki periode yang cukup krusial. Pada fase ini biasanya terjadi peningkatan permintaan masyarakat terhadap sejumlah komoditas, sehingga perlu langkah pengendalian lebih intensif agar harga tetap stabil," katanya.
Ia meminta pemerintah daerah memperkuat koordinasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan aktif memantau perkembangan harga.
Sementara itu, Direktur Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Ateng Hartono melaporkan tren kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di sejumlah wilayah.
Berdasarkan pemantauan hingga pekan kedua Maret 2026, sebanyak 222 kabupaten/kota mengalami peningkatan IPH, naik dibanding pekan sebelumnya yang tercatat 204 kabupaten/kota.
Sejumlah komoditas yang perlu menjadi perhatian antara lain telur ayam ras, cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, serta minyak goreng.
Harga rata-rata nasional telur ayam ras telah melampaui harga acuan, yakni mencapai Rp32.585 per kilogram dari harga acuan Rp30.000. Cabai rawit juga melonjak dari harga acuan Rp57.000 menjadi Rp72.897 per kilogram.
Di sisi lain, harga minyak goreng tercatat turun tipis menjadi sekitar Rp19.315 per liter, meski masih berada di atas harga eceran tertinggi. Produk Minyakita berada di kisaran Rp16.386 per liter atau masih melampaui HET Rp15.700.
Pemerintah berharap penguatan koordinasi pusat dan daerah dapat menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi menjelang hari besar keagamaan.
Pewarta: Rendra OxtoraUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026