Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menilai ucapan belasungkawa yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto atas wafatnya mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merupakan sikap yang wajar dalam hubungan kemanusiaan antarbangsa.

Pernyataan itu dikemukakannya saat memenuhi undangan Iftar Ramadhan dari Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.

"Saya kira iya, namanya orang meninggal ya kita berbelasungkawa," katanya menyampaikan pendapat atas pernyataan duka cita dari Presiden Prabowo atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.

Menurut tokoh yang akrab disapa Gus Yahya tersebut, menyampaikan belasungkawa adalah hal yang sewajarnya dilakukan ketika ada tokoh atau pemimpin yang meninggal dunia.

Ia mengatakan, sikap tersebut merupakan bentuk empati dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Gus Yahya menambahkan bahwa Nahdlatul Ulama juga turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran tersebut.

Namun ia menekankan bahwa yang lebih penting dari sekadar respons duka adalah upaya nyata untuk menghentikan kekerasan yang terus terjadi di kawasan tersebut.

"Tapi, selebihnya kemudian adalah upaya sekuat tenaga untuk menghentikan kekerasan dan mewujudkan perdamaian," katanya.

Menurut dia, berbagai pihak harus berjuang sekuat tenaga untuk menghentikan konflik dan mewujudkan perdamaian.

Ia menegaskan bahwa langkah menghentikan kekerasan menjadi hal mendesak agar situasi tidak semakin memburuk dan tidak menimbulkan korban yang lebih luas.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono secara resmi menyampaikan pernyataan belasungkawa Pemerintah Indonesia atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang gugur dalam serangan Amerika Serikat-Israel.

Surat itu disampaikan Sugiono kepada Duta Besar Iran untuk RI Mohammad Boroujerdi dalam pertemuan keduanya di Jakarta, Rabu (4/3).



Pewarta: Andi Firdaus, Maria Cicilia Galuh
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026