Rabu, 20 September 2017

Masyarakat Indonesia Diajak Melawan Perdagangan Manusia

id perbatasan, Masyarakat Indonesia Diajak Melawan Perdagangan Manusia
Masyarakat Indonesia Diajak Melawan Perdagangan Manusia
Ilustrasi. (istimewa)
Jakarta (Antara Kalbar) - Anggota DPR Rahayu Saraswati Djojohadikusumo yang juga pendiri dan Ketua Yayasan Parinama Astha (ParTha) mengajak masyarakat di Indonesia untuk ikut melawan perdagangan manusia.

"Bahkan, kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) menjadi kejahatan terbesar kedua di dunia setelah narkotika," katanya di Jakarta, Selasa malam.

Berbicara pada malam penggalangan dana (Fundraising Gala) ParTha, ia menegaskan bahwa perdagangan orang (Human trafficking) saat ini dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ia mengatakan bahwa di Indonesia, masalah perdagangan manusia meningkat terus.      
   
"Ironisnya, masyarakat umum belum begitu mengetahui dan menyadari bahwa ini adalah salah satu permasalahan yang sangat nyata dan mengancam Indonesia, negara yang masih berkembang, dengan banyaknya rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan," katanya.

Karena itu, melalui kegiatan penggalangan dana yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh Yayasan ParTha ini diharapkan masyarakat dapat mengenal perjuangannya melawan perdagangan orang dan perbudakan modern di Indonesia.

"Kami ingin menggalang keterlibatan jaringan pendiri dan pengurus, maupun sahabat-sahabat ParTha, untuk turut serta urun rembug melawan TPPO di Indonesia, kata Sara, panggilan karibnya.

Sementara itu, Wakil Ketua ParTha Yohana Irawan menambahkan bahwa penggalangan dana itu hanyalah salah satu bentuk kegiatan untuk memastikan keberlangsungan program yayasan.

Selain itu, juga untuk peningkatan kesadaran bagi para sahabat di kalangan elite Indonesia.      

Ia menjelaskan hasil penggalangan dana itu  sepenuhnya akan dimanfaatkan untuk pembuatan basis data kasus TPPO dan "Program Rumah Astha", yaitu program pengadaan rumah aman atau rehabilitasi bagi para korban TPPO.

"Program Rumah Astha" dibagi menjadi dua, yaitu Rumah Astha Singgah Sementara (RASS) sebagai titik terdepan untuk proses penyelamatan dan perlindungan korban yang diharapkan dapat didirikan di setiap provinsi di Indonesia kelak.

Namun, pihaknya akan memulai dengan beberapa titik krusial seperti Kalimantan Barat, Jakarta, Jawa Timur, NTT dan NTB.

Sedangkan untuk Rumah Astha Inti (RAI) di mana proses rehabilitasi dan pendidikan/pelatihan dapat diberikan kepada korban yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa direintegrasikan/mereintegrasikan diri ke komunitas umum.  
     
Banyak pihak yang ikut serta sebagai pendukung maupun sebagai kontributor pada acara penggalangan dana ini.

"Kepada semua sponsor dan kontributor, ParTha mengucapkan banyak terima kasih dan apresiasi kami yang tak terhingga. Anda semua telah berada di garis depan perjuangan melawan perdagangan manusia bersama dengan kami," kata  Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Beberapa pihak yang mendukung kegiatan itu adalah bank BUMN seperti BNI, Bank Mandiri dan BRI.

Sedangkan dari kalangan lain adalah perancang busana Indonesia ternama Biyan Wanaatmadja, Sapto Djojokartiko, Andreas Odang, Didiet Maulana, Ghea Panggabean, dan Jeffry Tan.

(A035/Santoso)

Editor: Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0101 seconds memory usage: 0.36 MB