Mempawah (Antara Kalbar) - Menjelang senja kesibukan di lingkungan keraton Mempawah belum berakhir. Bagi kerabat Keraton Amantubillah Mempawah yang akan mengikuti "toana" atau rangkaian prosesi ritual sebelum ziarah ke makam dan peringatan napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon di Kuala Mempawah esok harinya, Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim lebih dulu menitahkan pangeran mahkota Gusti
Mohammad Hafizh Adinugraha yang bergelar Pangeran Buana untuk berikrar setia dan menjunjung tinggi marwah kerajaan, termasuk para laskar, karaeng, para pangeran dan hulu balang Keraton Amantubillah Mempawah.
Keesokan harinya, sejak pagi hari prosesi ritual penting dilakukan Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim yaitu berziarah ke pusara atau makam Opu Daeng Manambon di Sebukit Rama desa Pasir, yang jaraknya sekitar 10 (sepuluh) kilometer dari kota Mempawah.
Ziarah kubur Pangeran Ratu Mempawah XIII itu didampingi istrinya Ratu Kencana Wangsa Arini Mariam, juga sesepuh dan kerabat Keraton Amantubillah Mempawah. Turut serta berziarah Bupati Mempawah, Ria Norsan beserta forum komunikasi pimpinan daerah (forkompimda) Kabupaten Mempawah yang menunggu sang raja dan para laskar tiba dimuka gerbang makam Opu Daeng Manambon.
Ziarah tersebut merupakan silaturrahim dalam rangka bertakziah serta memanjatkan doa kepada Allah SWT sebagai bentuk syukur dan penghargaan terhadap mendiang leluhur dan kerabat Opu Daeng Manambon.
Kebersamaan antara kerabat keraton dan pihak pemerintah kabupaten ini telah terbangun sejak dulu. Terbangunnya kebersamaan tersebut tentunya dilandasi adanya cita-cita yang mulia dan semangat membangun Mempawah lebih baik dan semakin maju.
Sebagaimana diamanatkan Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim yang menegaskan Sebukit Rama merupakan pusat pemerintahan Opu Daeng Manambon ketika bertahta pada abad 17 (tujuh belas). Karena itu Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim berharap pemerintah Kabupaten Mempawah memperhatikan kawasan tersebut serta meneruskan perjuangan leluhurnya dan tidak melupakan sejarah.
Selaras dengan nilai sejarah dan upaya pelestarian budaya, Pemerintah Kabupaten Mempawah telah merangkum tradisi ritual budaya robo-robo tersebut sebagai aset penting sekaligus simbol perekat kebersamaan dan semangat kerjasama membangun daerah. Didasari nilai historis dan kultural itulah ritual robo-robo napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon bersama pengikutnya dari kerajaan Matan ke kerajaan Mempawah yang konon datang dengan menggunakan 40 (empat puluh) perahu bidar beserta pengikutnya ini terus dilestarikan sebagai referensi sekaligus mengingatkan kepada publik bagaimana sebenarnya sejarah dan proses masuknya agama islam dan budayanya yang kian berkembang di Mempawah itu.
Semangat kebersamaan juga terpancar pada kegiatan makan bersaprah. Makan saprahan adalah makan bersama-sama di ruang terbuka seperti halaman depan Istana Amantubillah Mempawah dan dermaga Kuala Mempawah. Biasanya dalam tiap sajian saprahan, aneka makanan yang dihidangkan biasanya menggunakan baki atau talam, dimana setiap baki atau talam saprah itu berisi nasi dan lauk pauk yang biasanya diperuntukan bagi empat atau lima orang.
Menariknya dalam ritual robo-robo tersebut adalah dihidangkannya berbagai masakan khas istana dan daerah setempat yang mungkin tidak lagi populer di tengah-tengah masyarakat, seperti lauk opor ayam putih, sambal serai udang, ketupat, ikan dan sebagainya. Sedangkan sebagai penganan pencuci mulut disuguhkan berbagai aneka kue tradisional.
Dalam makan saprahan ini kekeluargaan dan kebersamaan semakin mempererat silaturrahim yang terjalin. Semua melebur menjadi satu dalam bersantap makanan dan tidak ada lagi hal yang dipersoalkan, baik itu status, agama, dan asal-usul seseorang.
Inilah yang dilakukan Opu Daeng Manambon dan rombongan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kuala Mempawah, bumi Galaherang. Beliau berdoa bersama dan memohon keselamatan agar dijauhkan dari bala pada hari rabu terakhir bulan Safar kala itu. Kemudian dilanjutkannya dengan berbagi makanan untuk masyarakat sekitar, dan sampai saat ini nilai-nilai kebersamaan itu disimpulkan sebagai tradisi robo-robo.
Dalam memeriahkan ritual robo-robo, ditampilkan aneka hiburan tradisional masyarakat setempat, seperti tarian sekapur sirih dan multi etnis, tundang atau pantun berdendang dan berbagai lomba serta berbagai tradisi permainan rakyat lainnya.
Pelaksanaan napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir setiap bulan Safar kalenderHhijriyah di Kuala Mempawah selalu dikemas secara menarik dan mendapat apresiasi banyak pihak.
Namun yang terpenting dan utamanya adalah meperkenalkan dan melestarikan budaya kepada masyarakat dan wisatawan agar dapat lebih mengenal dan memaknai nilai sejarah dan budaya yang ada, khususnya di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
