Mempawah (Antara Kalbar) - Tradisi dan nilai-nilai budaya Keraton Amantubillah Mempawah hingga kini masih terjaga dengan baik, salah satunya melalui prosesi pelepasan ‘puaka’, atau ‘puake’ dalam pengucapan bahasa Melayu, yang hanya dilakukan sekali dalam masa kepemimpinan raja-raja Amantubillah Mempawah.
Tradisi dan pelestarian nilai-nilai budaya tersebut menjadi simbol penyeimbang kehidupan, sekaligus menekankan kepada bangsa Indonesia pentingnya melestarikan budaya sebagai identitas atau jati diri bangsa berbudaya.
Keluarga besar Keraton Amantubillah Mempawah melepas ‘puaka’ atau ‘puake’ di perairan umum di kawasan hulu Lubuk Sauk, sungai Mempawah, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
'Puaka’ atau ‘puake’ yakni seekor anak buaya warna kulit kuning hitam. Seekor anak buaya tersebut merupakan jenis buaya muara yang panjangnya diperkirakan 40 centimeter.
Pelepasan ‘puaka’ atau ‘puake’ itu telah melalui proses ritual khusus, yang dilakukan internal Keraton Amantubillah Mempawah. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi ritual buang-buang di lokasi pelepasan.
Prosesi ritual tersebut diikuti para laskar dan dipimpin langsung panembahan ke XIII Raja Mempawah Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim.
Menurut Raja Mempawah Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, pelepasan ‘puaka’ merupakan tradisi yang hanya sekali dilakukan dalam setiap kelanjutan tampuk kepemimpinan panembahan kerajaan Mempawah. “Pelepasan ‘puaka’ atau ‘puake’ bertujuan menjaga keseimbangan alam dan kehidupan manusia,†kata Raja Mempawah Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim.
Raja Mempawah Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim menerangkan warna kuning pada kulit buaya menggambarkan kemuliaan. Sedangkan warna hitam merupakan simbol kehidupan alam gaib. "Karena itu pihak keraton Amantubillah merahasiakan nama buaya tersebut agar tidak salah dipergunakan di kemudian hari," ungkapnya.
Pelepasan ‘puaka’ di masa panembahan Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim tahun ini sekaligus terangkum dalam prosesi ritual napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon (Raja Pertama Amantubillah) di Kuala Mempawah.
Ritual pelepasan ‘puaka’ atau ‘puake’ itu dilakukan sejak pagi hingga tengah hari, yang bertepatan dengan hari Senin terakhir bulan safar 1435 hijriyah.
Sejumlah senjata pusaka kerajaan Mempawah, di antaranya meriam Gondah turut dibawa saat melepas ‘puaka’ atau ‘puake’. Menurut para laskar, pelepasan ‘puaka’ atau ‘puake’ tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada alam dan lingkungan, khususnya sungai Mempawah.
Anak buaya muara yang dilepaskan di perairan umum itu dimaknai sebagai hewan peliharaan Raja Mempawah. “Puake tersebut merupakan peliharaan raja Mempawah, yang bersifat hidup. Sedangkan yang disimpan dalam berbentuk statis itu dinamakan ‘pusaka’,†terang Gusti Hairudin selaku Pemangku Adat Keraton Amntubillah Mempawah.
Berselang waktu kemudian, sekira bakda ashar, kerabat Keraton Amantubillah Mempawah selanjutnya melakukan ritual pembersihan barang-barang pusaka kerajaan. Prosesi pembersihan barang pusaka ini menjadi bagian dari nilai-nilai kearifan budaya Keraton Amantubillah Mempawah. Adapun sejumlah barang pusaka yang dibersihkan adalah meriam, pedang, tombak dan barang pusaka lainnya. Pembersihan ‘pusaka’ tersebut menggunakan sari jeruk nipis dengan maksud menjaga dari karat dan tetap bernilai historis dan sakral.
Nilai-nilai tradisi dan budaya tersebut ternyata mendorong keturunan atau generasi penerus panembahan Amantubillah Mempawah yakni Pangeran Mahkota Gusti Mohammad Hafizh Adinugraha yang bergelar Pangeran Wirabuana menyadari betul pentingnya membudayakan simbol sekaligus identitas Keraton Amantubillah.
“Sejak kecil saya tidak pernah melewatkan prosesi ritual ini. Melalui prosesi ritual dan tradisi leluhur kami ini, tentunya mengajarkan saya betapa pentingnya menjaga marwah kerajaan. Sekaligus menempa saya untuk tidak melupakan tradisi budaya. Karenanya nilai-nilai kearifan ini tentu harus kita lestarikan,†ujarnya.
Keberadaan kerajaan Amantubillah Mempawah pada abad 17 (tujuh belas) silam, dimasa kejayaannya sangat dipengaruhi era kepemimpinan panembahan Opu Daeng Manambon (Raja Pertama). Pada masa panembahan Opu Daeng manambon dengan gelar Mas Suryanegara itu, sebenarnya Kerajaan Amantubillah Mempawah mengalami masa kejayaan dan memiliki pengaruh cukup besar, bahkan melekat hingga kini ke berbagai penjuru Nusantara dan kerajaan serumpun seperti negara tetangga Malaysia dan Brunnei Darussalam.
Panembahan Amantubillah saat ini bahkan diyakini menjadi salah satu pusat kerajaan yang diwariskan menjadi simbol pemerintahan yang sebenarnya mampu mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berbhinika tunggal ika.
Menurut penasehat keraton Amantubillah Mempawah yang juga penasehat kerajaan nusantara, yakni Prabu Anom, Panembahan Amantubillah Mempawah merupakan representasi kehidupan bangsa yang berlandaskan Pancasila. “Karena itu mari kita bangkitkan semangat persaudaraan. Kita jaga keutuhan NKRI ini, salah satunya melalui kearifan lokal yang ada di Keraton Amantubillah Mempawah. Mari kita majukan nilai-nilai luhur bangsa melalui budaya. Sebab Amantubillah merupakan salah satu pilar tegaknya bangsa ini, dan jangan sekali-kali melupakan jasa para pendahulu kita. Karena cikal bakal negara salah satunya adalah bermuara dari kerajaan-kerajaan yang ada dinusantara ini,†ungkap Prabu Anom.
Besarnya pengaruh Keraton Amantubillah Mempawah hingga saat ini ternyata menyebabkan kerajaan tersebut memiliki kaitan erat dengan berbagai kerajaan yang ada di nusantara, seperti adanya hubungan kekerabatan yang erat dan terjalin hingga kini dengan kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan.
Fakta ini sekaligus menegaskan sejumlah kerajaan nusantara sebenarnya tidaklah menerapkan kekuasaan yang ‘monarki’ di era masa kini. Melainkan eksistensi kerajaan nusantara justru semakin mendorong pemerintah semakin memperkuat pertahanan NKRI dan mampu mewujudkan rasa adil serta memberikan kesejahteraan. Sekaligus melestarikan budaya. Pengakuan ini diutarakan Pangeran Ahmad Nur yaqin utusan kesultanan Banjar kala menghadiri prosesi ritual napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon di Keraton Amantubillah Mempawah.
“Melalui prosesi ritual napak tilas Opu Daeng Manambon di Keraton Amantubillah Mempawah ini tentu kami semakin sadar bagaimana pentingnya menjaga hubungan kekerabatan dan menjaga nilai-nilai tradisi budaya bangsa untuk terus dilestarikan dan tetap bernilai historis bagi generasi penerus kaum kerabat Keraton atau Kerajaan di nuantara, temasuk masyarakat umumnya untuk dapat menghargai nilai-nilai budaya dan turut melestarikan nilai-nilai budaya kita,†harapnya.
Kerajaan Amantubillah Mempawah merupakan bagian dari dinamika sejarah budaya bangsa, peranannya hingga kini sekaligus mengawal keutuhan NKRI dan tetap mempertahankan tradisi dan nilai-nilai budaya negeri ini.
Meskipun dahulunya kerajaan ini terbagi atas 2 (dua) zaman, yaitu zaman Hindu dan Islam. Namun secara historis Kerajaan Amantubillah Mempawah hingga saat ini telah berkembang secara dinamis, apa adanya, serta tetap menerapkan prinsip melestarikan nilai-nilai budaya yang utama. Karena secara filosofis, didalamnya terkandung budi yang didayakan dengan baik sebagai nilai-nilai luhur kehidupan bangsa yang berbudaya dan dapat diwariskan secara berkelanjutan melalui lintas generasi.
