Jakarta (ANTARA) - Direktur Kepatuhan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Bank Mandiri Agus Dwi Handaya serta CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Febriany Eddy ditunjuk untuk menjadi managing directors holding operasional Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Penunjukan kedua tokoh tersebut diumumkan oleh CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani di Jakarta, Senin.
Rosan optimis bahwa pengumuman struktur kepengurusan BPI Danantara tersebut akan memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional.
"Saya meyakini ini bisa memberikan keyakinan (sentimen positif bagi ekonomi). Kalau di atasnya (di isi) nama-nama sangat baik, akan memberikan sinyal sangat positif bagi perekonomian Indonesia, dan membawa kebaikan bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Rosan Perkasa Roeslani.
Baik Agus Dwi Handaya dan Febriany Eddy bukan nama-nama asing di sektor perekonomian Indonesia.
Agus menjabat sebagai Direktur Kepatuhan dan SDM Bank Mandiri sejak 2018 hingga kini. Posisinya sebagai direktur di salah satu BUMN dan bank terbesar di Indonesia tersebut merupakan suatu yang ia raih melalui perjalanan yang panjang.
Sebagai jajaran eksekutif, ia meniti karir sejak menjadi Director of Finance and Strategy Mandiri Syariah pada 2015-2016 dan Group Head of CEO Office Bank Mandiri pada 2016-2017.
Selanjutnya, ia menduduki posisi SEVP Corporate Transformation and Finance Bank Mandiri pada 2017-2018.
Kemampuan pria lulusan National Technological University, Singapore (2015) dan Universitas Sumatera Utara (1995) tersebut dalam mengurus tata kelola perseroan beserta sumber daya manusianya sudah mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak.
Salah satunya penghargaan The Best Chief Human Capital Officer 2020 dalam ajang Digital Marketing & Human Capital (DMHC) Award berkat perannya dalam memajukan digitalisasi dan pengelolaan SDM di Bank Mandiri.
Sejumlah inisiatifnya membuat Bank Mandiri berhasil mengintegrasikan teknologi digital dalam proses bisnis dan pengelolaan sumber daya manusia.
Ia pun dipercaya menjadi Ketua Umum Forum Human Capital Indonesia (FHCI) periode 2024-2027, sebuah forum pengembangan SDM di lingkungan BUMN.
Febriany juga memiliki rekam jejak yang tidak kalah mentereng. Sebagai CEO perempuan pertama di PT Vale Indonesia Tbk, ia mengemban amanah tersebut sejak 2021 hingga sekarang.
Ia telah meniti karir di Vale Indonesia sejak menjadi Chief Financial Officer (2013-2018) dan kemudian Deputy CEO (2019-2021).
Selama bekerja di perseroan pertambangan nikel tersebut, ia berperan besar dalam mengamankan komitmen investasi bernilai miliaran dolar AS untuk proyek hilirisasi nikel nasional.
Sebelumnya, ia menduduki posisi sebagai Business Unit Performance Review Manager Palm Oil and Coal Mining Rajawali Corporation pada 2006-2007.
Pengalaman profesionalnya tersebut didukung oleh latar belakang pendidikannya sebagai alumni dari UCLA Anderson School of Management (2014), National University of Singapore (2013), Institute of Certified Public Accountant Indonesia (2001), dan Universitas Indonesia (1999) dalam bidang studi akuntansi dan administrasi bisnis.
Rekam jejak Febriany tidak hanya diakui di tingkat nasional, tapi juga di ranah internasional. Ia masuk dalam jajaran 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Asia versi majalah Fortune selama tiga tahun berturut-turut, termasuk pada 2024.
Ia juga termasuk dalam daftar 20 pemimpin bisnis perempuan paling berpengaruh di Asia versi Forbes pada 2022.
Febriany juga memiliki komitmen dalam mewujudkan transisi industri hijau di Indonesia sebagai Wakil Presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD).