Pontianak (ANTARA) - Ketika membahas soal pendidikan, yang sering terlintas di pikiran adalah sekolah, kurikulum, guru, atau sistem belajar daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan). Tetapi, pernahkah kita bertanya: Mengapa cara belajar di satu daerah bisa berbeda dengan daerah lain? Atau, mengapa ada murid yang sulit paham pelajaran padahal gurunya sama?
Jawabannya bisa ditemukan melalui ilmu Antropologi Pendidikan, yaitu sebuah cabang dari Ilmu Antropologi yang mengamati pendidikan sebagai bagian dari budaya dan kehidupan sosial.
1. Pendidikan itu bukan sekadar sekolah
Melalui perspektif Ilmu Antropologi, "pendidikan" tidak sekadar apa yang terjadi di dalam ruang kelas, kurikulum, ujian, atau nilai rapor. Tetapi juga tentang proses belajar yang berlangsung secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, pada saat di dapur seorang ibu mengajarkan anaknya cara memasak sambal dari resep turun-temurun, di ladang saat seorang ayah mengajarkan anaknya membaca musim tanam berdasarkan tanda-tanda alam, atau di pasar ketika anak-anak belajar berdagang dari orang tuanya.
Bahkan dalam upacara adat, ketika seorang tetua adat menceritakan kisah-kisah leluhur kepada generasi muda. Disana, proses pendidikan sedang berlangsung tidak hanya dalam bentuk hafalan, tetapi bisa saja dalam bentuk penanaman nilai, identitas, dan kebijaksanaan hidup. Seluruh contoh ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang kelas atau kurikulum formal, tetapi juga mencakup cara pengetahuan, nilai, dan keterampilan diturunkan dalam kehidupan sehari-hari.
Antropologi dapat membantu memberikan perspektif baru dalam pendidikan yang berlangsung di berbagai tempat dan bentuk. Misalnya melalui percakapan di rumah, kegiatan di pasar, atau kebiasaan yang diwariskan dalam komunitas. Proses ini seringkali tidak menggunakan buku pelajaran atau papan tulis, tetapi tetap penuh makna dan relevansi dalam membentuk karakter dan kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan dunia sekitarnya. Melalui pendekatan ini, diharapkan agar bisa menghargai bentuk-bentuk pendidikan yang mungkin selama ini terabaikan. Tetapi sesungguhnya memberikan pengaruh besar dalam kehidupan nyata. Serta mulai menyadari bahwa praktik-praktik lokal dan tradisional menyimpan nilai edukatif yang kuat dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial.
2. Belajar dari kehidupan nyata
Antropologi pendidikan menumbuhkan kepekaan terhadap realitas di balik proses belajar-mengajar. Pendekatan ini tidak berhenti pada teori, tetapi mendorong pelaku pendidikan dan peneliti untuk terjun langsung ke lapangan dengan mengamati kondisi nyata, mendengarkan pengalaman siswa, guru, dan orang tua, serta memahami bagaimana faktor sosial, ekonomi, dan budaya membentuk dinamika pendidikan.
Di banyak daerah terpencil misalnya, anak-anak kesulitan fokus belajar bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena harus membantu orang tua bekerja sejak pagi atau karena bahasa pengantar di sekolah berbeda dengan bahasa ibu yang digunakan di rumah. Sehingga alih-alih menyalahkan murid yang tampak tidak serius atau guru yang dianggap kurang kompeten, perspektif antropologis mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar seperti, apakah sistem pendidikan saat ini telah benar-benar mempertimbangkan konteks sosial dan budaya tempatnya dijalankan? Apa saja yang dapat diubah agar proses belajar menjadi lebih adil, relevan, dan bisa menjangkau semua kelompok?
3. Pendidikan yang lebih adil dan relevan
Pendidikan yang dirancang tanpa mempertimbangkan latar sosial dan budaya peserta didik sering kali gagal menjawab kebutuhan nyata mereka. Di sinilah pendekatan antropologi menjadi penting sebab dapat mendorong penyusunan kebijakan dan metode belajar yang lebih kontekstual dan membumi.
Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, pendekatan seragam dalam pendidikan justru bisa menimbulkan ketimpangan. Anak-anak dari komunitas adat, wilayah terpencil, atau kelompok minoritas sering kali mengalami hambatan karena materi ajar dan cara mengajar tidak sesuai dengan cara mereka memahami dunia.
Karena itu, dengan memasukkan kearifan lokal ke dalam kurikulum, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar yang relevan, tetapi juga ruang untuk menguatkan identitas budaya. Demikian pula ketika guru memahami pola komunikasi dan nilai yang hidup dalam komunitas muridnya, proses belajar akan terasa lebih dekat, hangat, dan efektif. Pendidikan yang adil bukan berarti memberi semua orang hal yang sama, tetapi memberikan apa yang dibutuhkan agar semua orang bisa belajar dengan kesempatan yang setara.
Penutup: Belajar Antropologi, jalan untuk memanusiakan pendidikan
Pada akhirnya, Antropologi Pendidikan mengajarkan bahwa belajar bukan hanya soal menyerap informasi, tetapi juga soal memahami manusia dengan segala kompleksitas latar belakang, nilai, dan kebudayaannya. Di tengah sistem pendidikan yang sering kali seragam dan terpusat, pendekatan ini membuka ruang untuk berpikir lebih adil, lebih kontekstual, dan lebih manusiawi. Belajar Antropologi Pendidikan bukan berarti harus menjadi Antropolog.
Ilmu ini relevan bagi siapa pun yang peduli terhadap masa depan pendidikan baik itu guru, mahasiswa, pegiat komunitas, pembuat kebijakan, maupun orang tua. Dengan memahami cara-cara belajar yang berakar pada kehidupan nyata, pendidikan bisa kembali pada tujuan dasarnya yaitu memberdayakan setiap individu sesuai konteksnya, bukan menyeragamkan semua orang dalam satu pola yang kaku. Selain itu juga belajar untuk tidak cepat menghakimi, lebih memahami, dan lebih menghargai proses belajar setiap individu.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal nilai atau ijazah, tetapi tentang bagaimana manusia bisa tumbuh, berdaya, dan dihargai dimanapun dan bagaimanapun latar belakangnya. Jika pendidikan ingin menjangkau lebih banyak orang dan benar-benar memberi makna, maka memahami manusia lewat pendekatan antropologi bisa menjadi langkah awal yang penting.
Sebab pendidikan yang baik bergantung pada sejauh mana guru, penyusun kurikulum, dan pembuat kebijakan memahami siapa yang mereka layani. Tanpa pemahaman itu, setiap kebijakan atau metode pembelajaran berisiko tidak relevan dengan kebutuhan peserta didik.

*)Graceia Kiranaratri Geraan Lejo adalah Mahasiswi Semester 6, Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
