Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi II DPR Azis Subekti menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis pada Mei 2026 menjadi salah satu momentum penting dalam memperkuat posisi strategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.

Ia menilai lawatan tersebut tidak hanya dapat dipahami sebagai agenda bilateral antara Indonesia dan Prancis, tetapi juga sebagai bagian dari upaya Indonesia ikut membentuk arsitektur ekonomi dan keamanan kawasan pada abad ke-21.

“Indonesia tidak lagi berdiri di pinggiran peta. Dengan populasi besar, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, posisi geografis strategis, serta cadangan mineral penting, Indonesia semakin dipandang sebagai negara kunci dalam percaturan Indo-Pasifik,” kata Azis dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Azis mengatakan dunia saat ini sedang berada dalam fase perubahan besar. Menurut dia, pusat gravitasi ekonomi global semakin bergeser ke Asia, sementara kawasan Indo-Pasifik menjadi jalur utama perdagangan dunia sekaligus arena persaingan teknologi, energi, mineral kritis, dan keamanan maritim.

Dia menilai diplomasi yang dijalankan Presiden Prabowo menunjukkan pola yang tidak terpaku pada satu kutub kekuatan tertentu. Menurut Azis, Indonesia tetap menjaga hubungan dengan Amerika Serikat, China, Rusia, Jepang, Korea Selatan, Timur Tengah, dan Eropa secara bersamaan.

Menurut dia, pola tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berupaya memperluas ruang gerak diplomatik di tengah dunia yang semakin terbelah.

“Bangsa yang ingin menjadi aktor strategis tidak boleh terjebak menjadi satelit siapa pun,” ujarnya.

Ia menilai Prancis memiliki posisi penting dalam strategi tersebut. Selain menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama Eropa, Prancis juga merupakan anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, memiliki kemampuan teknologi tinggi, industri pertahanan kuat, serta kehadiran strategis langsung di kawasan Indo-Pasifik.

Karena itu menurut Azis, pernyataan Presiden Emmanuel Macron yang menyebut Indonesia sebagai mitra strategis utama Prancis di Indo-Pasifik, mencerminkan perubahan cara pandang terhadap posisi Indonesia.

“Indonesia tidak lagi dilihat semata sebagai pasar besar, tetapi semakin dipandang sebagai salah satu penentu keseimbangan kawasan,” kata Azis.

Dalam kunjungan tersebut, Indonesia dan Prancis sepakat meningkatkan hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif. Azis menilai status itu menunjukkan bahwa kedua negara sedang membangun kerja sama jangka panjang, tidak hanya pada sektor perdagangan atau investasi.

Cakupan kerja sama kedua negara meliputi pertahanan, keamanan maritim, energi bersih, pendidikan, inovasi, riset, investasi, teknologi, mineral kritis, industri strategis, hingga koordinasi dalam berbagai isu global.

Azis mengatakan, sektor-sektor tersebut saling berkaitan dalam membentuk kekuatan negara modern. Menurut dia, kekuatan abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh luas wilayah atau jumlah penduduk, tetapi juga oleh kemampuan menguasai teknologi, menjaga rantai pasok, mengembangkan inovasi, memperkuat keamanan maritim, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Ia mencontohkan, pembahasan mengenai mineral kritis berkaitan langsung dengan pengembangan baterai kendaraan listrik, energi baru, serta manufaktur berteknologi tinggi. Sementara kerja sama riset dan inovasi dinilai penting untuk memperkuat ekonomi berbasis pengetahuan.

Di sisi lain, kerja sama keamanan maritim dan pertahanan dinilai berperan dalam menjaga stabilitas kawasan serta melindungi jalur perdagangan utama di Indo-Pasifik.

“Yang sedang dibangun bukan sekadar proyek kerja sama bilateral, tetapi simpul-simpul yang kelak dapat membentuk arsitektur kawasan,” kata Azis.

Dia juga menekankan pentingnya Indonesia memanfaatkan diplomasi sebagai instrumen transformasi nasional. Ia menyebut negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura berhasil memperkuat posisinya melalui diplomasi teknologi, ekonomi, dan strategi jangka panjang.

Menurut dia, Indonesia memiliki peluang serupa melalui kepemilikan cadangan nikel, tembaga, bauksit, dan mineral strategis lainnya.

Namun, sumber daya tersebut baru akan memberi manfaat besar apabila terhubung dengan teknologi, investasi, riset, dan industri bernilai tambah di dalam negeri.

“Nilai penting kunjungan ini bukan hanya pada angka investasi, melainkan pada kemungkinan transfer teknologi, penguatan kapasitas industri nasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan peluang Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global,” ujarnya.

Azis menambahkan, dimensi keamanan dalam kerja sama Indonesia-Prancis juga tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonomi. Menurut dia, ancaman modern tidak lagi hanya berbentuk konflik militer, tetapi juga mencakup gangguan rantai pasok, perang siber, manipulasi informasi, krisis energi, dan perebutan teknologi strategis.

Karena itu, kerja sama pertahanan modern dinilai tidak boleh hanya dipahami sebagai pembelian alat utama sistem persenjataan, melainkan sebagai bagian dari pembangunan kapasitas nasional.

Meski demikian, Azis mengingatkan bahwa keberhasilan kunjungan tersebut tetap bergantung pada kemampuan kedua negara menerjemahkan komitmen menjadi langkah konkret.

Ia menilai Indonesia harus mampu memastikan kerja sama dengan Prancis benar-benar memperkuat fondasi ekonomi nasional, meningkatkan kemandirian teknologi, serta memperbesar peran Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.

“Jika kelak Indo-Pasifik benar-benar menjadi pusat gravitasi dunia abad ke-21, lawatan Presiden Prabowo ke Paris dapat dikenang sebagai salah satu momen ketika Indonesia mulai melangkah dari ruang penonton menuju ruang perancang,” ujarnya.

 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Anggota DPR: Prabowo ke Prancis perkuat posisi strategis Indonesia



Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026