Kabupaten Kapuas Hulu yang memiliki luas wilayah 29.842 kilometer persegi merupakan daerah sentra pengembangan madu hutan secara organik terbesar di Provinsi Kalimantan Barat.

Hutan di daerah setempat masih terjaga. Terutama dengan ditetapkannya kawasan sentra madu di Taman Nasional Danau Sentarum, hingga kini produksi madu masih terus berkelanjutan.

Apalagi dengan pengelolaan madu secara organik yang diterapkan petani setempat, produksi terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Pusat Koperasi Madu Hutan Kapuas Hulu yang mewadahi empat koperasi primer, produksi hutan yang dihasilkan petani mencapai 108 ton per tahun.

Madu hutan dihasilkan secara dominan melalui dua cara, yakni madu dari lalau dan tikung. Lalau merupakan pohon yang tinggi, tempat puluhan sarang lebah bergantungan. Pohon yang tumbuh alami menjadi lalau dari lebah penghasil madu yang disukai, yaitu pohon renggas.

Pohon yang menjulang tinggi dan berdahan-dahan di atas itulah yang akan dihingapi dan menjadi tempat sarang. Penghasil madu hutan antara satu daerah dengan lainnya berbeda-beda, sedangkan untuk lalau sendiri terdapat di Dusun Meliau, Desa Melembah, Kecamatan Batang Lumpar.

Tikung merupakan dahan yang sengaja dibuat, dipasang di pohon-pohon rendah agar lebah bersarang di tempat itu. Dahan buatan itu dari kayu berbentuk balok yang sudah mati dengan ukuran panjang 1,5-2 meter, lebar 15x20 centimeter dan tebal 3-5 centimeter yang berbentuk bulatan bagian bawah dan cekungan bagian atas, serta bagian ujung berbentuk huruf "U".

Tikung dipasang di tepi danau atau sungai di dalam hutan jalur di atas pohon rindang untuk lebah membuat sarang. Daerah sentra madu yang menerapkan tikung, yakni Dusun Semangit, Desa Leboyan, Kecamatan Selimbau.

Pengelolaan madu hutan organik yang saat ini diterapkan petani madu di Kapauas Hulu, dengan melestarikan kesehatan tanah, ekosistem, dan manusia, yang menerapkan sistem pengasan internal dan memenuhi standar internal organisasi.

Koordinator Indonesia Organic Alince (AOI) yang saat ini menjadi pendamping dan pembina Pusat Koperasi Madu Kapuas Hulu Thomas Irawan Sihombing menjelaskan salah satu bagian pengembangan madu organik, yakni dengan panen lestari.

Dia menjelaskan panen lestari memiliki tiga unsur penting dalam tekniknya yang meliputi panen madu hutan di siang hari dan tidak mengambil seluruh sarang lebah, hanya bagian madunya dengan menyisakan sekitar tiga centimenter bagian anak untuk hidup.

"Unsur panen lestari lainnya yakni pascapanen dengan diekstrak dari sarangnya dengan cara tetes mengunakan saringan halus, bukan diperas," ujarnya di Kapuas Hulu, Rabu.

Ia menceritakan teknik panen madu lestari dipelajari sejak 1996. Saat itu tiga warga sekitar Danau Sentarum, yakni Thamrin, asal Tekenang, Herrianto, asal Nangga Leboyan, dan Ade Jumhut, asal Tekanang, belajar teknik panen lestari di Vietnam.

Usai pembelajaran panen madu lestari itu, oleh ketiga warga mulai diterapkan di masyarakat dan dalam beberapa tahun terakhir diadopsi secara optimal.

"Pada intinya teknik panen lestari dilakaukan guna untuk menjamin kelangsungan populasi lebah dan memperoleh madu berkualitas tinggi," kata dia.

Terkait dengan Pusat Koperasi Madu Kapuas Hulu, kata Irawan, dalam pembinaan dan hal lainnya oleh AOI dibiayai Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan.

Pusat koperasi tersebut mewadahi empat koperasi primer, yakni Koperasi Asosiasi Periau Dana Sentarum (APDS), Asosiasi Petikung Bunut Singkar (APBS), Asosiasi Periau Nuara Belitung (APMB), dan Asosiasi Periau Mitra Penepian (APMP).

"Terkait fokus kerja pusat koperasi adalah dalam pengolahan madu curah dari petani menjadi kemasannya, termasuk pengurangan kadar air serta sekaligus penjualan. Sekitar 25 persen hasil anggota koperasi primer kita olah juga. Sisanya mereka juga sendiri mengolah," katanya.


Produksi lalau



Produksi madu melalui lalau dari Desa Melembah, Kecamatan Batang Lumpar, mencapai 1,6 ton per tahun. Hal itu sebagaimana disampaikan satu di antara petani madu dari Dusun Meliau, Jeksen.

Jeksen yang memiliki satu pohon lalau dalam setiap tahun bisa menghasilkan 700 kilogram.

"Barusan kita panen dan tahun ini dari lima tahun terakhir paling produksi terbanyak yakni mencapai 700 kilogram, " kata dia.

Ia menjelaskan dalam setahun lalaunya bisa dihinggapi lebah berjenis penghisap bunga terkadang satu tahun sekali dan ada dua tahun sekali, tergantung bunga pepohonan hutan di sekitar daerahnya.

"Dari satu pohon atau lalau terdapat puluhan sampai ratusan sarang lebah. Satu sarang madunya itu mulai 3- 15 kilogram madu," terangnya.

Jeksen menjelaskan pemeliharaan lalau cukup sederhana, yakni hanya membersihkan pepohonan kecil di area pohon yang disebut lalau tersebut.

"Kadar air dalam madu lalau lebih rendah dari tikung sehingga lebih kental. Untuk penjualan madu di sini sangat mudah dan permintaan tinggi. Pembeli yang datang ke sini. Harga per kilogram saat ini sudah naik, yakni Rp120 ribu. Sebelumnya hanya Rp100 ribu," terangnya.

Untuk menuju Dusun Meliau dari pusat kota kabupaten membutuhkan sekitar 4-5 jam dengan mengunakan jalur darat dan air.

Dari pusat kota kabupaten di Putusibau terlebih dahulu menuju kota kecamatan, Batang Lumpar, yang ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam dengan mengunakan mobil.

Selanjutnya dari Batang Lumpar menuju Meliau hanya bisa ditempuh melalui jalur air dan butuh waktu tempuh 1,5-2 jam jika mengunakan speed boat 40 PK.



Sentra tikung



Dusun Semangit, Desa Leboyam, Kecamatan Selimbau merupakan satu di antara sejumlah sentra madu hasil tikung terbesar di Kapuas Hulu. Sejak 2006, petani di daerah tersebut membentuk koperasi yang dinamai Koperasi APDS.

Presiden APDS Basriwadi menjelaskan pada awalnya, APDS beranggot lima priau atau kelompok yang terdiri 86 orang, sedangkan saat ini jumlah priau mencapai 15 kelompok dan total anggota 315 orang.

"Saat ini potensi madu di daerah kita dan berdasarkan panen petani saat ini mencapai 10-20 ton per tahun," kata dia.

Di bawah organisasi itu, pihaknya telah melakukan pengelolaan madu dan pengemasan produknya. Hal itu, dalam rangka memberikan nilai tambah produk sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani madu.

"Dengan kita ada koperasi dan pengelolaan harga madu jadi stabil dan tinggi. Kalau dulu madu per kilogram pernah hanya Rp20 ribuan dan saat ini sudah mencapai Rp120 ribu. Selain itu dengan adanya pengolahan dan pengemasan kualitas madu kami tetap terjaga," kata dia.

Letak Dusun Semangit sebelum Dusun Meliau, Desa Melimbah . Akses jalur air menuju daerah tersebut sama dan dari pusat Kecamatan Batang Lumpar hanya membutuhkan sekitar 1-1,5 jam jika mengunakan speed boat 40 PK.



TFCA Kalimantan

Dalam beberapa tahun terakhir, TFCA Kalimantan hadir di Kapuas Hulu memfasilitasi program konservasi, restorasi, dan pemanfaatan lestari hutan tropis di Indonesia, termasuk pemberdayaan dan pembinaan petani madu alam di Kapuas Hulu.

Bentuk perannya, melalui AOI yang membina Pusat Koperasi Madu Hutan Kapuas Hulu, melakukan sejumlah aksi, seperti pelatihan- pelatihan, pengolahan, dan pengemasan madu.

"TFCA Kalimantan, termasuk di Kapuas Hulu, merupakan program kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Amerika dalam rangka pengalihan hutang untuk kegiatan konservasi hutan, termasuk di dalamnya soal keberlangsungan madu," ujar Direktur Program TFCA Kalimantan Puspa Dewi Liman.

Ia menjelaskan lahirnya TFCA, khususnya di Kalimantan, berdasarkan perjanjian yang ditandatangani pada 29 September 2011, dengan The Nature Conservancy (TNC) dan Yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) sebagai "swap partner". Yayasan Kehati ditunjuk sebagai Administrator TFCA Kalimantan.

"Program kita termasuk di Kapuas Hulu ini dilaksanakan melalui penyaluran dana hibah oleh Yayasan Kehati sebagai administrator kepada lembaga yang loyal dan proposalnya mendapat persetujuan dewan pengawas," paparnya.

Dia mengatakan TFCA Kalimantan dalam memfasilitasi program konservasi, restorasi, dan pemanfaatan lestari hutan tropis di Indonesia, bekerja sama juga dengan Program Karbon Hutan Berau (Berau Forest Carbon Program) dan Program Heart of Borneo (HOB).

Lokasi kegiatan TFCA Kalimantan, meliputi empat kabupaten target, yaitu Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat, Kabupaten Kutai Barat dan Mahakam Ulu, serta Kabupaten Berau di Kalimantan Timur.

Ia berharap dengan hibah dan program yang dilaksanakan mitranya, termasuk sejumlah petani madu yang tergabung koperasi, dalam pemanfaatanya dapat meningkatkan produksi, sedangkan kelestarian hutan dapat terjaga dengan baik.

"Apa yang kita bantu agar keberlangsungan dari apa yang dilakukan masyarakat lokal terjamin dan memberikan manfaat luas," kata dia.

Pewarta: Dedi

Editor : Jessica Wuysang


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2017