Jambi (Antara Kalbar) - Pemkab Sintang melakukan studi banding selama dua hari ke PT Inti Indosawit Subur di Desa Bulian Jaya, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari, Jambi pada 28-29 September.
Bupati Sintang, Milton Crosby menyampaikan studi banding ini dilakukan untuk mempertajam tujuan hadirnya perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sintang agar dapat mendukung program Pemkab Sintang dalam membangun ekonomi masyarakat pedesaan.
“Kami ingin mengambil hal positif dari pengelolaan kebun, pembinaan petani dan bagaimana menjalankan pola kemitraan antara perusahaan dengan petani sawit yang sudah dilaksanakan PT. Inti Indosawit Subur ini, sehingga bisa sukses dan pihak perusahaan maupun petani sama-sama maju dan berkembang,†tutur Milton.
Dia menegaskan pihaknya akan mengadopsi cara-cara pengelolaan koperasi yang ada di sana. Hasil studi banding tersebut memperlihatkan, hadirnya investasi perkebunan kelapa sawit yang mampu membangun ekonomi masyarakat pedesaan adalah kemitraan. Mitra ialah seorang yang pantas untuk dipercaya dan diandalkan oleh mitra. Memahami bahwa bekerja sama dengan pihak lain merupakan peluang untuk berkolaborasi dalam pencapaian suatu tujuan.
“Ketika muncul sebuah perselisihan, berusaha untuk menemukan solusi yang menghasilkan pemahaman bersama (win-win solution) dan menyadari kunci dari kemitraan ialah melayani serta menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak,†tegasnya.
Milton menegaskan dalam kemitraan, memberikan kepercayaan penuh terhadap partner, mengenali karakter partner secara penuh dari kekurangan hingga kelebihannya, selalu menjaga sikap serta tata perilaku positif harus dijunjung tinggi. “Paling utama yaitu kejujuran yang merupakan nilai utama dari kemitraan itu sendiri,†katanya.
Koordinator Plasma PT Inti Indosawit Subur, Hartanto menjelaskan pihaknya mulai membangun kebun sejak 1990 dengan luas 16.100 hektar kebun inti dan 23.149 hektar kebun plasma. “Kami bermitra dengan 12.178 ribu KK yang tergabung dalam 526 kelompok tani dan 32 KUD. Kami memiliki manajemen yang berbeda dengan perusahaan yang lain. Misalkan ada jabatan Head of Plasma dan Koordinator Plasma. Kami memperkuat kerja sama dengan koperasi yang ada. Kami sudah mendapatkan penghargaan sebagai perusahaan terbaik seluruh Indonesia dalam pengelolaan kemitraan,†jelas Hartanto.
Abdurachman dari PT. Permata Lestari Jaya yang sedang melakukan land clearing di Kecamatan Ketungau Hulu menyampaikan dibawanya kepala desa, tokoh adat dan tokoh masyarakat Ketungau Hulu ke PT. Inti Indosawit Subur untuk melihat langsung dan menggali apa yang positif dari sistem pengelolaan kebun di Jambi supaya bisa diterapkan di Sintang, secara khusus di Ketungau Hulu.
“Kebun sawit di sini sudah 21 tahun. Sudah mampu membawa perubahan dari masyarakat yang tidak mampu menjadi mampu secara ekonomi. Perubahan ini mampu merubah pandangan masyarakat terhadap sawit. Kami tentu siap menerapkan pengalaman PT. Inti Indosawit Subur di Ketungau Hulu,†jelas Abdurachman.
Group Manager PT. Inti Indosawit Subur, Lim Djun Sim menjelaskan pihaknya juga ada mengelola tanah kas desa dengan sistem bagi hasil. Pemasok TBS terbesar berasal dari plasma. Pada tahun 2006, pendapatan per KK yang memiliki satu kapling kebun sawit sebesar 2,4 juta per bulan dan pada tahun 2012 pendapatan per KK sudah mencapai 7,7u juta per bulan.
“Di sini sudah 80 persen masyarakat membaik ekonominya. Koperasi mengelola kebun masyarakat dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Koperasi menjadi sehat dan menjadi penghubung antara masyarakat dan perusahaan,†tambah Lim Djun Sim.
Dia mengatakan pihaknya memegang prinsip transparansi, ketaatan hukum, kelayakan ekonomi, praktek terbaik, tanggung jawab lingkungan, tanggung jawab sosial, pengembangan yang bertanggungjawab dan perbaikan terus-menerus.
Sementara salah satu petan sawit yang sudah sukses, Kasriwandi menyampaikan salah satu kunci sukses menjadi petani sawit ialah bekerja keras memelihara, menjaga dan membangun kebun. “Karena yang kami panen hari ini merupakan perlakuan kami dua tahun lalu. Kalau dua tahun lalu, kebun sawit kami semprot dan diberikan pupuk, maka hasilnya juga akan mensejahterakan kami. Sekarang kami bisa panen setiap 10 hari sekali,†tuturnya.
