Pontianak (Antara Kalbar) - Komunitas Airsoft Gun Kalimantan Barat yang berdiri sejak 8 Agustus 2008, yang didirikan oleh Rossi Yulizar, Ivan dan Hendro, gencar melakukan latihan strategi "tempur" dua kali dalam seminggu.
"Latihan terus kami lakukan guna mengasah kemampuan adu strategi tempur anggota kami," kata Rossi Yulizar di Pontianak, Rabu.
Latihan tempur yang dilakukan oleh komunitas airsoft gun yang tergabung dalam Black Borneo Airsoft Division (BBAD) Kalbar itu, layaknya seperti pertempuran sungguhan, antara pihak keamanan melawan teroris dalam sebuah medan tempur.
Hampir dua puluh pria berpakaian lengkap army look berkumpul di halaman luas sebuah komplek pertokoan yang dikelilingi pepohonan dan dipagari tembok antara pemukiman warga kawasan Jalan Ampera, Pontianak Kota, akhir pekan lalu.
Mereka menenteng senjata laras panjang berbagai ukuran dan memakai aksesoris perang, seperti kacamata pelindung goggles, pelindung kepala, dan sepatu lapangan. Tiba-tiba terdengar teriakan. 'Awas…musuh di depan, tembak-tembak. Trereeettt trereeettt, hit'. Sontak, membuat warga terkejut melihat mereka terlibat perang hebat di kawasan itu.
BBADsalah satu komunitas Airsoft Gun Kalbar yang berdiri sejak 8 Agustus 2008, didirikan oleh Rossi Yulizar, Ivan dan Hendro. BBAD merupakan suatu komunitas penghobi replika senjata api yang dikenal dengan sebutan airsoftgun kerap dibilang dengan 'unit' (AEG). BBAD juga merupakan bagian dari pengurus daerah Federasi Airsoft Indonesia (FAI) Kalbar.
Tak ayal, kejadian tersebut sempat menyedot perhatian para warga yang tengah beraktivitas di sore itu. "Saya terkejut dengar suara tembakan, saya kira ada polisi perang dengan teroris," kata Syarif Al Idrus, 32, warga sekitar yang sengaja memanjat pagar tembok untuk melihat latihan perang BBAD.
Pertempuran atau battle itu bukan perang sungguhan melainkan uji coba dan latihan rutin komunitas BBAD yang digelar dua kali dalam seminggu, siang maupun malam. Permainan pertempuran ini melibatkan dua tim yakni terorist dan counter terorist. "Ini hanya latihan atau permainan saja, yang dilakukan dua kali seminggu, kalau malam di gedung-gedung sedangkan siang di hutan-hutan," jelas.
Para airsofter harus adu taktik dan strategi agar dapat melumpuhkan tim lawan. Apalagi, lokasi bermain di hutan belantara yang mengandalkan strategi perang gerilya. Setiap anggota tim harus mampu mengetahui posisi musuh dan menghemat amunisi.
Sedangkan bermain di gedung, dengan ruang sempit dan tak ada celah, anggota komunitas Airsoft Gun bakal melakoni pertempuran jarak dekat atau center guarter battle. "Yang jelas adu strategi karena bermain di hutan pasti berbeda dibanding di gedung. Komunitas kita menyebut senjata itu adalah 'unit', karena ini bukan senjata benaran yang selayaknya digunakan oleh aparat penegak hukum," jelasnya.
Uji coba atau latihan tersebut sekaligus digunakan untuk memberikan pemahanan kepada publik lantaran senjata replika airsoft kerap digunakan para pelaku kriminal. Menurutnya, senjata airsoft gun hanya mainan belaka dengan peluru plastik (Ball Bullet atau Ball Bearing). Pihaknya juga melarang anggota komunitas airsoft gun memakai seragam yang biasa dipakai anggota TNI/Polri.
Rossi kembali menjelaskan soal penggunaan senjata mainan tersebut. Dia menilai, ada perbedaan persepsi antara airsoft gun dan air gun. "Airsoft gun adalah alat permainan. Kami adalah penghobi airsoft gun," ujarnya.
Airsoft gun disebut menggunakan batrai sebagai penggerak per dan green gas sebagai daya tembak. Sementara air gun menggunakan gas CO2 dengan daya tekanan yang lebih besar. "Untuk permainan kita gunakan daya di bawah 2.0 joule," ucapnya.
Perlu diketahui, kecepatan proyektil air gun bisa mencapai 700-900 feet per second sehingga dapat melukai target.
Untuk bahan peluru, airsoft gun menggunakan pallet yang terbuat dari plastik berukuran 6 mm dan sedangkan air gun menggunakan peluru berukuran 4.5 mm yang terbuat dari kaca, tembaga dan besi. "Jika ditembakkan maka peluru air soft gun akan hancur jika mengenai obyek," ucapnya.
Untuk membedakan airsoft gun dengan air gun dan yang lainnya, maka di bagian moncong (flashider) airsoft gun ditempel dengan orange tips. "Sudah hampir 90 persen anggota kita menggunakan orange tip permanen (dicat). Kami tidak ingin masyarakat mispersepsi," kata Yudha.
Sayangnya, pengggunaan orange tips ini tergantung pada pemakai sendiri karena produsen airsoft gun tidak langsung memasangkan tanda tersebut.
Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Mukson Munandar menegaskan, belum ada landasan hukum terkait penggunaan airsoft gun. Penggunanya dapat dijerat pelanggaran ketika senjata replika tersebut digunakan untuk mengancam ataupun tertangkap tangan membawa airsoft gun tanpa kejelasan. Penggunaan orange tips juga dianjurkan.
