Kalimat itu diucapkan Adekris, warga Desa Tengon, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, sambil menunggu transaksi selesai di sebuah kios bercat kuning di Kecamatan Suti Semarang, Kabupaten Bengkayang.
Di teras kios sederhana itu, beberapa kursi plastik tersusun menghadap jalan tanah yang masih dipenuhi lumpur sisa hujan malam sebelumnya. Satu per satu warga datang bergantian menggesek kartu bank, menarik bantuan pemerintah, mengirim uang untuk anak sekolah, hingga membayar kebutuhan harian.
Sesekali suara motor bercampur cipratan lumpur terdengar dari arah jalan rusak yang menghubungkan desa-desa pedalaman di perbatasan Bengkayang dan Landak.
Bagi masyarakat di kawasan pedalaman tersebut, akses layanan perbankan selama bertahun-tahun bukan perkara mudah.
Kecamatan Suti Semarang merupakan salah satu wilayah pedalaman Kabupaten Bengkayang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Landak. Meski jarak menuju ibu kota kabupaten sekitar 48 kilometer, perjalanan bisa memakan waktu hingga empat jam akibat kondisi jalan tanah yang rusak, berlumpur, dan minim jembatan.
Saat musim hujan, akses jalan bahkan kerap terputus akibat banjir dan kendaraan sulit melintas.
Bagi warga dari sejumlah desa di Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, perjalanan menuju Kota Bengkayang juga membutuhkan biaya besar. Ongkos ojek pulang-pergi bisa mencapai Rp600 ribu. Belum lagi biaya makan dan menginap minimal satu malam di kota karena urusan perbankan sering tidak bisa selesai dalam sehari.
“Kami dulu kalau mau urus transfer atau tarik uang harus siap biaya besar. Kadang harus menginap juga di kota,” kata Adekris, Minggu.
Kini kondisi itu perlahan berubah sejak hadirnya layanan Agen BRILink di Toko dan Kios Gabby milik Iwan di Kecamatan Suti Semarang.
Kios kecil di pedalaman itu kini menjadi tempat warga dari lima desa melakukan berbagai transaksi keuangan. Tidak hanya melayani masyarakat Suti Semarang dan Tapen di Kabupaten Bengkayang, layanan tersebut juga dimanfaatkan warga Desa Perek, Tengon, dan Bentiang di Kabupaten Landak karena dinilai lebih dekat dibanding menuju pusat kota.
“Menurut saya BRILink ini memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena layanan perbankan menjadi lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal warga,” ujar Adekris.
Ia mengatakan keberadaan layanan tersebut sangat membantu masyarakat pedalaman yang selama ini terkendala akses transportasi dan jarak menuju fasilitas perbankan.
Menurut dia, manfaat paling terasa dirasakan para pelajar yang tinggal jauh dari orang tua. Jika sebelumnya kiriman uang harus diantar langsung ke kota, kini uang dapat diterima hanya dalam hitungan menit.
“Puji Tuhan selama ini sudah banyak membantu masyarakat, terutama anak-anak sekolah yang jauh dari orang tua sehingga bisa merasakan kemudahan ketika ada keperluan mendesak,” katanya.
Pemilik Toko dan Kios Gabby, Iwan, mengatakan dirinya mulai membuka layanan BRILink sejak 2018 setelah melihat sulitnya akses layanan keuangan di kawasan pedalaman.
“Sebelumnya warga kalau mau transfer atau tarik uang harus ke Bengkayang. Ongkos ojek mahal dan perjalanan lama karena jalan rusak,” ujarnya.
Ia mengatakan banyak orang tua sebelumnya harus mengantar langsung uang kepada anak-anak mereka yang bersekolah di kota.
“Dulu orang tua kalau mau kirim uang ke anak sekolah harus antar langsung ke kota. Bisa seharian di jalan. Sekarang hitungan menit uang sudah diterima,” katanya.
Selain melayani transfer dan tarik tunai, kios tersebut juga melayani pencairan bantuan sosial, pembayaran tagihan, pembelian token listrik, hingga berbagai kebutuhan transaksi harian masyarakat.
Keberadaan layanan BRILink, kata Iwan, ikut menggerakkan aktivitas ekonomi warga pedalaman. Masyarakat yang datang bertransaksi biasanya sekaligus berbelanja kebutuhan sehari-hari di kios miliknya.
Namun di tengah manfaat yang dirasakan warga, keterbatasan infrastruktur masih menjadi tantangan utama. Gangguan jaringan internet sering terjadi karena kondisi wilayah yang masih sulit sinyal.
“Kendala paling sering sinyal internet hilang karena memang daerah pedalaman,” ujarnya.
Bagi warga di kawasan perbatasan Bengkayang-Landak, keberadaan kios kecil bercat kuning di tepi jalan berlumpur itu kini bukan sekadar tempat transaksi keuangan. Di tempat itulah warga memangkas biaya perjalanan ratusan ribu rupiah, menghemat waktu berhari-hari, sekaligus menjaga harapan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi di tengah keterbatasan akses pedalaman.
Di tengah jalan rusak, banjir saat musim hujan, dan sinyal yang kerap hilang, Agen BRILink perlahan menjadi penghubung warga pedalaman dengan layanan keuangan yang selama bertahun-tahun terasa begitu jauh dari jangkauan mereka.
Pewarta: NarwatiUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026